Kadang hidup seperti 'soft breeze', namun hidup juga bisa berubah menjadi 'harsh storm', hanya dirimu sendirilah yang bisa menentukannya :) Keep smiling to face your complex world easier !
Selasa, 30 Mei 2017
Penyakit Umur 20-an
Sudah 5 bulan, saya baru muncul.
Di tulisan sebelumnya saya menyebutkan keluarga kami akan punya hajat Desember tahun lalu. Molor sedikit sih, tapi tetap sekitar-sekitar itu.
Alhamdulillah kakak saya sudah menikah.
Nih fotonya pas akad.
Cantik kan? Siapa dulu juru makeup-nya.. Hahaha.
Foto pas resepsi ngga diupload ah, makeup-nya menor, pakai orang salon sih, saya kan males lihat makeup-makeup yang begitu.
Oiya, alhamdulillah lagi kakak saya sekarang sedang hamil keponakan saya yang pertama. Baru jalan 3 bulan kalau tidak salah.
You know what? Waktu pertama tahu kakak saya hamil, bapak langsung joget-joget. Sambil nyanyi-nyanyi "Arep nduwe putu, arep nduwe putu". Kocak lah si babeh.
Semoga sehat dedek sama ibunya sampai lahiran, sehat teruuuss biar si dedek bisa ngerusuhin tantenya ini.
Kali ini saya ingin menulis hal yang paling sering dibicarakan orang-orang umur 20-an.
Menikah.
Kok topiknya ini? Mmm, sebenarnya mau yang lain tapi kemarin ada yang request sih jadi diturutin dulu.
Minggu, 05 Juli 2015
ADHD? Maybe..
Kali ini, aku ingin bercerita tentang ADHD. Sebagai orang yang kurang memperhatikan dunia kesehatan, penyakit, dan kelainan, aku asing sekali dengan istilah ADHD. Bagi yang penasaran, mangga googling. Ada banyak keterangan tentang ADHD disana.
Yang jelas istilah ini baru aku ketahui dari kak Ryan, Ryan Adhriandy, yang mini-mini lucu itu.
Ceritanya aku iseng main ask.fm sejak beberapa bulan lalu, dan dia adalah orang ketiga dari total 20-an orang yang aku follow hahaha. Aku suka sih sama stand up-nya, bahkan aku punya "From Tiny to Funny" :)
Balik lagi ke ADHD. Beberapa hari yang lalu kak Ryan menjawab pertanyaan tentang kenapa kak Ryan jarang kelihatan dan sepertinya sedang 'off' dari salah satu proyeknya.
Dan dia menjawab pertanyaan itu dengan sebuah penjelasan. Yaitu kondisi ADHD, Attention Defisit Hyperactivity Disorder.
Bukan tidak serius melakukan sesuatu sampai selesai, tapi memang ada hal lain yang lebih menarik atensinya dan itu tidak bisa dihindari. Lalu dia bercerita banyak tentang hal itu.
Awalnya aku merasa familiar dengan apa yang aku baca di ask.fm kak Ryan. And guess what? Aku baru ngeh, mirip aku euy, bapakku juga begitu.
Dan bukan cuma aku, tapi saat membaca info lebih lanjut aku langsung berfikir, "ini sih Luqman banget".
Gejala aku sama bapak sih idem. Luqman aja yang faktor H-nya tinggi banget.
Sejak kecil, Luqman super aktif, ada aja kelakuannya.
Sekalinya duduk diam, ngoceh non stop.
Kalau dia diam tenang tanpa suara, itu tidur.
Bahkan dulu saat TK, dia duduk di kantor kepala sekolah sambil ngobrol dengan beliau, saking senengnya jalan-jalan kalau di kelas.
Dan mulai SD sampai saat ini, dia males banget yang namanya belajar. Tapi rajin kalau berangkat KIR.
Biologi dia jelek pol, tapi dialog di kartun Spongebob, Upin Ipin dan Boboiboy dia hafal.
Luqman punya hobi yang berganti-ganti.
Dulu dia suka menggambar, tembok rumah kami penuh coretan.
Pernah juga memasak. Ibu sering bingung kenapa telur, kecap, mie cepat sekali habis, ternyata dia pelakunya.
Pernah juga belajar stand up comedy, gara-gara koleksi DVD stand up ku aku bawa pulang. Tapi ini hanya bertahan sampai dia niru beberapa comic doang, belum sampai buat bit sendiri.
Setahun terakhir dia tergila-gila sama gitar. Udah lumayan mainnya sekarang, sudah jago main kunci yang susah.
Dan yang terakhir aku tahu, dia sedang belajar photoshop.
Dia suka ngulik, apa-apa dibongkar, tapi tidak pernah dibereskan. Ujung-ujungnya rusak semua.
Itu terjadi berulang kali seperti tidak bisa dihentikan. Keluarga kami yang tidak pernah tahu ADHD pada akhirnya men-cap Luqman bandel, nakal dan tidak bisa diatur.
Karena ketidaktahuan ini, kami justru sering memarahinya dan melarang dia melakukan hal yang dia suka. Dan ini salah.
Aku tahu ada hal yang berbeda dari dia. Tapi aku tidak tahu apa itu dan bagaimana mengatasi itu.
Kadang aku hanya bisa sedih karena takut adikku tidak bisa berkembang sebagaimana teman-temannya yang lain.
But now I know better. Thanks for the information, kak Ryan.
Kalau kata kak Ryan sendiri, ADHD ini seperti kuda liar. Pilihannya adalah dengan mengekangnya berharap dia akan se-'normal' kuda peliharaan atau biarkan dia bebas berlari tetapi pantau pergerakannya.
And he choose the second one.
Aku setuju sih. Tidak seharusnya kami mengekang adikku yang keinginan dan imajinasinya liar. Adikku semakin bandel lho sejak masuk SMP (bandel menurut kami), pelajarannya di sekolah juga tidak seperti dugaanku dan aku pikir ini akibat terlalu dikekang.
Setelah ini aku akan berkonsultasi dengan orang tuaku. Aku harap mereka juga setuju denganku. Aku cuma ingin melihat adikku mengikuti jalannya sendiri dan menemukan cara belajarnya sendiri.
I just love him, what else can I do?
Kalau aku sendiri yang parah di bagian distraksi. Susah menyelesaikan sesuatu tepat waktu. Kurang bisa fokus saat mengerjakan sesuatu berjangka waktu panjang.
Apalagi pas olimpiade, wuh 4 jam harus fokus itu susah, paling lama 2 jam aku bisa karena memang dibiasakan (dulu susah juga sih), lebih dari itu harus ada refreshingnya.
Btw, ini beda aku dan adikku, aku anaknya cukup 'patuh' dan bisa 'dibiasakan', adikku sebaliknya.
Kembali lagi ke distraksi, kalau olim 4 jam, mulai jam ketiga aku mulai mainan pensil, lihat-lihat kanan kiri.
Bahkan jaman SMP, pas pelajaran, setelah 20-an menit aku sibuk melubangi meja dengan jangka, melempari buletan kertas kecil-kecil ke rambut teman yang keriting, atau main pesan berantai dengan teman sebelah.
Kalau SMA kan jarang sekolah, kalaupun sekolah aku duduk pojokan kalau mulai bosen paling nulis-nulis.
Kalau kuliah ya paling gambar-gambar (binderku isinya gambar dan coretan, catetannya sedikit), coretin tangan Fetra Ilfan atau Tamaro, tendang-tendang kursi orang di depanku, ngeliatin orang lewat, merhatiin pucuk pohon dari jendela kelas, dsb.
Ada lagi, aku pikir aku hanya sekedar deadliner yang malas mengerjakan tugas (walaupun banyak juga yang selesai jauh sebelum deadline).
Aku selalu bilang, "Bentar deh, belum mood". Sepertinya kata 'mood' ini yang aku maksudkan dengan ketertarikan.
Sekedar cerita, setiap kali aku mencoba melakukan apa yang 'seharusnya' dilakukan, tiba-tiba ada hal yang lebih menarik dan membuatku melakukannya saat itu juga.
Contohnya,
pernah aku berniat merombak kamar kos, baru juga mulai nyapu, tiba-tiba denger lagu enak dari kamar sebelah, langsung ambil HP, download lagunya, cari chordnya, main gitar lagu itu lalu lihat lampu mulai kedip-kedip lalu ke indomart beli lampu lalu menggantinya dan ujung-ujungnya berakhir dengan mencoba model kerudung di youtube (jauh ya?),
pernah juga berniat mengerjakan presentasi dengan latex (dan pada saat itu aku belum ngerti pake latex padahal deadline malam itu juga) lalu tiba-tiba pengen McFlurry akhirnya aku bela-belain ke McD cuma beli eskrim dan balik lagi ke kosan.
Lalu kenapa harus deadliner? Catatan, deadliner hanya untuk hal yang nggak disuka.
Ya karena ngga bisa dipaksa (kecuali ujian, ujian itu, sekali lagi, adalah hal yang terpaksa kita lakukan dan itu dibiasakan sejak SD, jadi kalau ujian ya bisa-bisa aja dipaksa),
tapi ketika J-sekian, hawanya bukan hawa tugas lagi, hawanya hawa ujian. Makanya dipaksa oke-oke aja.
Tapi kalau aku suka, mau deadline sebulan lagi juga aku bisa-bisa aja selesaikan dalam sehari. Namanya juga suka.
Buatku, tidak ada masalah sih gejala ADHD selama itu tidak mengganggu. Well, mungkin akan tetap ganggu tapi selama bisa diatasi, aku pikir bukan masalah besar.
Toh itu membantu dalam beberapa hal.
Seneng kali bisa tahu banyak hal, disaat orang lain terpaku sama satu doang. Walaupun, yeah, ngga ahli, sekedar tahu dan bisa, kemudian ketertarikan itu hilang gitu aja.
Believe me, aku suka banget matematika dan aku suka banget ngajar. Tapi bukan berarti aku freak dan ngga bisa apa-apa selain itu.
Aku belajar banyak hal, aku pernah menari (tradisional tentunya), nge-dance (tapi ngga jadi masuk Infinity), menyanyi pop jazz klasik campursari dangdut keroncong nasyid, main seruling, peking, saron, gitar, angklung (tapi ngga ke KPA karena kaderisasinya lama), nulis puisi, menjahit, menyulam, bikin boneka, menggambar, melukis, make-up, fotografi, tata busana, origami, paperart, benerin colokan listrik, bongkar radio, bongkar tv, apalagi ya? Hahaha.
Yang jelas, it's fun and I enjoy it. Hope my brother would be like that too.
Senin, 16 Juni 2014
Rindu
. Mungkin rindu itu ketika mengaku tak memikirkan namun ada sosok yang hadir dalam mimpi
. Mungkin rindu itu ketika terdiam melihat sesuatu merasa ribuan memori menyeruak keluar darinya
. Mungkin rindu itu ketika segan hendak menyapa namun kecewa jika tak disapa
. Mungkin rindu itu ketika merasa ingin bertemu namun jarak, waktu dan kesempatan tak senada dengan keinginan
. Mungkin rindu itu ketika mengingat perasaan bahagia dan tanpa sadar bayangannya terlintas sejenak
. Mungkin rindu itu ketika mau menunggu tanpa memperhatikan sejauh apa waktu berlalu
. Mungkin rindu itu seperti kunang-kunang, tak tampak saat terang namun jelas terlihat ketika gelap datang
Jika benar adanya, mungkin aku memang merindu.
Mungkin bukan hanya rindu? Mungkin sayang?
Sayang terlalu rumit untuk bisa dinyatakan, meskipun sangat sederhana untuk bisa dirasakan
Rindu dan sayang terlampau jauh bedanya..
Ah, jangan tanyakan sayang.
Aku hanya sekedar rindu..
Minggu, 23 Februari 2014
Drawing
Drawing. It's fun although sometimes we find it hard to get a good result.. So do I.
I like drawing. As much as I like dancing. As much as I like singing. They have so many similarities for me.
I like them, but I'm not an expert at it.
I like them, although I don't do it all the time.
I like them, because they make happy.
I like them, just like that..
I don't need to do it regularly, or seriously..
But if I want, I can do it anytime, anywhere.
Yang penting aku seneng dan nggak butuh banyak mikir banyak tenaga.
Gambar ITU diambil 23 februari '14, jam 8-an, di Alamanda 99, rumahnya adek yang les sama aku.
Iseng sebenarnya. Sembari ngeliatin si adek ngerjain soal, mataku ter-distract oleh kacamataku sendiri ditambah cangkir unyu isi teh manis hangat di belakangnya. Alhasil, sibuk menggambar pada akhirnya :3
Jelek memang, namanya juga hobi yang tidak pernah diasah, hahaha.
Biarin lah, yang penting seneng ^^
Selasa, 19 Februari 2013
'Pacar' dalam Kamusku
Pacar? Kata yang pasti familiar untuk setiap orang. Masalahnya, meskipun familiar, belum tentu semua orang pernah memilikinya #ups .Sengaja sih, nyindir para jomblo #nggak tau diri
Kenapa aku tiba-tiba menulis tentang pacar?
Karena tiba-tiba aku teringat kejadian tahun lalu saat aku TPB.
Saat itu aku berjalan-jalan dengan ibuku (suasana liburan).
Di tengah-tengah perjalanan, entah ada angin apa, ibu berkata, "nduk, nek saiki arep pacaran wes ra popo" (nduk,kalo sekarang mau pacaran udah boleh).
Langsung dong aku mengernyitkan dahi. Iyeu teh si ibu kunaon?
Bisa tebak seperti apa responku?
Dengan ekspresi datar seperti biasa, aku jawab, "mmm, ngko lah bu, gampang, nek wes jodo ben teka dhewe" (mmm, nanti deh bu, gampang, kalo udah jodoh juga datang sendiri).
Ibu pun hanya mengangguk-angguk dengan ekspresi yang sangat terbaca (yaudah deh terserah kamu).
Aku paham maksud ibuku. Mungkin beliau hanya sedikit khawatir.
Dalam satu hal ini aku jauh berbeda dari ibu dan mbakku.
Ibuku jaman muda entah berapa kali pacaran (banyak yang jelas).
Mbakku? Dari kelas 2 SMP dia juga sudah punya pacar dan aku pun tidak tahu berapa kali ganti (ini bahkan lebih banyak dari ibu). Dari yang selisih sekian tahun di atas sampai sekian tahun di bawah, semua sudah mbakku lalui (berasa naon kitu nyak?)
Aku? Boro-boro berapa kali, pernah aja kagak, hahaha (ini ngakak beneran, nggak bohong)
Pacar, atau apalah itu yang biasa diawali dengan 'tembakan' dan diakhiri dengan 'putus' (aneh ya, kenapa tembak pasangannya putus?), untuk beberapa orang mungkin merupakan elemen penting untuk menjalani hidup.
Aku pun tidak memungkiri itu, sepanjang dengan pacaran kedua orang yang bersangkutan bisa saling mendukung, saling mengerti dan memberi solusi, kenapa tidak?
Aku sendiri bukan orang religius yang anti pacaran karena 'katanya' banyak mudaratnya.
Untukku, semua kembali ke masing-masing pribadi.
Suatu hal yang jelek di mata orang, jika dikemas dan dilakukan dalam hal, waktu dan tempat yang sesuai, jelas dia tidak akan menjadi 'mudarat'. Jadi, itu masalah persepsi juga..
Kalau bukan anti lalu kenapa tidak mencoba?
Hmmmm, pengen sih. Nggak ding, hahaha.
Kenapa ya? Aku juga sebenarnya bingung #piye jal?
Yang jelas ada berbagai hal yang mendukungku untuk 'belum' menjalin status dengan orang (belum berarti akan kok #amin deh amin)
Aku bukan tipe cewek yang diidamkan cowok.
Katanya, cowok itu butuh sosok cewek yang bisa menenangkan, perhatian, dsb. Aku? Bahkan jauh dari kata perhatian.
Semua orang yang mengenalku tahu super cueknya aku, seberapa introvert-nya aku (bukan introvert ding, hanya lebih suka menyendiri, salah sendiri orang-orang marmos), kurang peka, suka tidur, aneh, kerjaannya ngemil, nggak bisa dandan, nggak bisa masak (cewek nggak sih sebenernya?).
Tapi, sejelek apapun sifat-sifat itu, aku selalu senang menjadi diriku sendiri. I love myself, the way I am..
Dan aku tidak suka jika ada orang yang berusaha mengubahku.
Aku bisa berubah, jika memang sudah saatnya aku berubah.
Aku dulu tomboy (bukannya sekarang masih?), anti pakaian feminin, anti make-up, anti pilih-pilih baju. Seiring umur bertambah, ada waktunya aku menjadi remaja yang memang sudah waktunya untuk menjadi 'cewek'. Dan saat waktunya tiba, aku berubah perlahan dengan sendirinya.
Aku hanya butuh waktu, aku akan menyadari seperti apa seharusnya aku dan aku bisa meng-handle itu semua.
Sayangnya, cowok yang bisa mengerti cewek seperti ini memang tidak banyak.
Kalau pun ada, belum tentu dia bisa bertahan menghadapi super cueknya aku, salah-salah akhirnya dia kepincut cewek lain (curhat dikit yak, hahahaha)
Alasan pendukung yang lain?
Mmm, buat aku pacaran bukan mainan, bukan sekedar suka-sukaan. Kalau bosen, putus, cari pacar baru lagi.
Kalau hidup seperti itu terus-terusan, kapan mau nikah? (sabar ya, mbak #eh #adikkurangajar)
Lebih baik tidak terlalu sering tapi langgeng kan?
Lagipula, aku bukan orang yang bisa dengan mudah melupakan orang yang pernah ada dalam keseharianku.
Kalau pun sudah bisa, susah membuka hati lagi kalo kata Riris, adik kelasku.
Ada lagi?
Aku tidak suka membuat orang lain tidak nyaman (kecuali aku benci orangnya :p)
Aku tahu sifat super cuek ini cenderung tidak baik untuk orang lain, lebih-lebih jika orang tersebut punya hubungan lebih dekat denganku.
Bisa jadi dia justru menahan sakit hati sendiri karena merasa tidak diperhatikan.
That's why I choose to be more independent, to be alone.
Lebih baik menyendiri kan daripada membuat suasana di keramaian menjadi tidak nyaman? :D
Walaupun banyak yang salah mengira aku introvert, aku malah nyaman dengan hal ini (tu kan aneh)
Lagipula aku tidak introvert, buktinya aku kenal dengan semua teman seangkatanku.
Dan buktinya juga, aku bisa menjadi tukang ngelawak saat aku berkumpul dengan sohib-sohibku.
Orang tuaku sangat paham dengan segala pribadiku ini.
Hebatnya, beliau tidak pernah melarang, menyuruh, atau mengomentariku.
Beliau berdua selalu berkata, anak-anak sudah besar dan tahu apa yang mereka lakukan.
Kalau sampai beliau berdua marah atau menegurku, itu berarti aku yang sudah keterlaluan.
Aduuuuh, syukur alhamdulillah ya Allah punya bapak-ibu kayak gini. Hohoho..
Tenang, pak, bu, insya Allah beberapa tahun lagi ada yang main ke rumah kok #ekspektasi, jiahahaha.
Kata orang, jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kalau kamu tidak mengambilnya bagaimana jodoh akan jatuh ke tanganmu?
Kataku, jodoh di tangan Tuhan, masa depan juga di tangan Tuhan.
Tinggal pilih mana yang lebih mendesak untuk dilakukan.
Kalau masa depan memang lebih mendesak, ambil masa depan dulu.
Toh Tuhan tidak sejahat itu membatalkan jodoh yang sudah seharusnya untukmu, iya nggak, Tuhan #wink
Sabtu, 29 September 2012
Gara-gara Kuliah Kewarganegaraan
Wih, ini pertama kalinya aku posting disini
Nah, kembali ke judul tulisan ini, ceritanya tadi siang aku ada kuliah KWN alias kewarganegaraan tepatnya di kelas K09 di TVST A (kyaaaa, akhirnya dapet kelas yang bagus, ber-AC pula ^^ ) You know what? Kelas ini tadinya isi hampir 100 orang, pokoknya penuh.. Tapi semua berubah
Pertemuan selanjutnya, aku niat ngitung nih, dan ternyata… jeng-jeng-jeng.. cuma ada 23 mahasiswa dengan hanya 4 orang angkatan 2011 diantaranya. Beuh, PRS semua nih jangan-jangan. Tapi berhubung menurutku ibunya nggak parah-parah banget ngajarnya (masih bisa lah diserap otak dikit-dikit) jadi aku tetep aja jadi penghuni K09.
Pertemuan selanjutnya lagi alias tadi siang, penghuni semakin menipis, yang hadir tadi hanya 13 mahasiswa dengan 5 orang angkatan 2011 (kenapa malah nambah ya?)
Hmm, jadi apa dong hubungannya si judul sama keadaan kelasku? Nggak ada sih, sebenernya cuma buat pengetahuan aja (oke, skip). Yang seru dari pelajaran hari ini adalah SAWO. Kok bisa? Bisa dongs..
Awalnya sih si ibu nerangin bahan materi yang lagi dibahas, yaitu identitas nasional, terus meleber-leber kemana-mana. Intinya si ibu bilang, masyarakat Indonesia sekarang gampang banget terpengaruh sekitar,
Minggu, 02 September 2012
OSN di Mata Beberapa Orang
OSN adalah singkatan dari Olimpiade Sains Nasional yang diselenggarakan setiap tahun sekali (biasanya di awal ajaran baru) dan tempatnya berganti-ganti. Aku kurang paham juga sih sistem pergantian tempatnya seperti apa, tapi kalau provinsi yang seharusnya jadi tuan rumah itu tidak siap, biasanya penyelanggaraannya dilaksanakan di Jakarta -_-" (panas bro). Tingkatannya juga berjenjang, dari tingkat SD sampai SMA ada semua.. Untuk tahun ini, dilangsungkan di Jakarta (bagi tingkat SMA) tanggal 2-8 September 2012.
Sayangnya, ada berbagai pandangan tentang kegiatan ini.
Beberapa berkomentar...
Komentar-komentar itu adalah tanggapan dari pendapat seorang dosen tentang OSN. Disini lengkapnya kalau berminat membaca.
Yah pokoknya isinya tentang latar belakang OSN, prestasi Indonesia di tingkat internasional, alumni OSN yang mudah untuk kuliah di luar negeri serta beberapa pendapat beliau.
Iya sih, menurut saya, beberapa ada benarnya, tapi TIDAK SEPENUHNYA (maaf pake kapital, bukan emosi tapi hanya penegasan)
Kamis, 23 Agustus 2012
Selasa, 27 Maret 2012
Arti Kata Guru Untukku (part 2)
Beliau adalah guruku semasa SMP.
Guru yang tangguh, berkemauan keras dan berkeyakinan kuat, yang terkadang tak kuasa menahan egonya sendiri.
Tapi Ibu seorang guru yang istimewa..
Ibu bukan sekedar guru tapi Ibu benar-benar 'ibu' bagi kami.
Tahukah kalian berapa orang yang telah Ibu bantu dalam melanjutkan sekolahnya? Aku bahkan tidak mau menghitung, Ibu terlalu banyak membantu orang. Entah dengan cara beliau membiayai sendiri biaya sekolah anak-anak itu atau beliau membantu mencari beasiswa ke sekolah-sekolah berkualitas yang sekiranya mau membantu anak-anak desa yang kesulitan bersekolah ini.
Aku salah satu dari anak-anak desa yang beruntung karena telah bertemu Ibu dan akhirnya bisa mendapat pendidikan hingga jenjang ini.
Dulu, aku tidak pernah berpikir akan kuliah. Jangankan kuliah, aku pun tidak membayangkan akan melanjutkan di SMA. Yang aku bayangkan adalah aku lulus SMP dan melanjutkan ke SMK. Kenapa? Jika aku di SMK, bapak tidak akan mengeluarkan uang sebanyak di SMA, lagipula aku ingin cepat bekerja agar beban bapak-ibu sedikitnya bisa berkurang.
Tapi, di SMP semua berubah. Ibu adalah guruku. Ibu suka anak yang pintar. Anak cerdas. Karena Ibu akan mudah membimbingnya, sehingga dia bisa sukses olimpiade. Kenapa harus olimpiade? Setidaknya dengan itu jalan ke depan bisa terbuka lebih lebar dan lebih terang daripada hanya sekedar 'pintar di sekolah'.
Aku bukan anak pintar. Aku hanya anak yang bisa lebih dari rata-rata. Beruntungnya, Ibu mengajakku bergabung dengan beliau dan memulai semua dari awal.. Belajar bersama teman-teman di rumah ibu. Bahkan tak jarang kami makan disana. Sekarang baru terbayang betapa merepotkannya kami untuk ibu..
Waktu terus berjalan.. Untuk mencapai sesuatu yang besar, tentu ada saja kerikil-kerikil hingga batu-batu besar yang menghambat jalan kita. Begitu pun aku. Jalan terasa berliku. Setahun berlalu, tak ada yang jauh berbeda.
Aku jenuh. Aku bosan. Bukankah Ibu bilang aku bisa? Tapi kenapa aku bahkan tidak diberi kesempatan?
Emosi semakin menjadi-jadi. Aku semakin merasa Ibu tidak adil. Ibu membedakanku dengan yang lain. Ibu sering bersikap tak acuh kepadaku. Dan aku benci itu.
Sewajarnya anak SMP yang juga butuh bersenang-senang, hari Sabtu sepulang sekolah aku pergi bersama kawan-kawanku. Aku tahu hari itu ada bimbingan. Tapi aku memutuskan untuk bolos satu hari. Toh setiap harinya aku berangkat bimbingan. Aku juga butuh menikmati duniaku sendiri.
Ibu tahu apa yang aku lakukan. Ibu marah. Aku disidang habis-habisan. Hari berikutnya ibu semakin tak acuh. Aku bingung kenapa Ibu begitu marah. Tidakkah Ibu tahu apa yang aku rasakan? Aku hanya butuh sedikit penyegaran. Aku jenuh. Jenuh menunggu dan belajar begitu lama tapi bahkan tidak diberi sedikitpun kesempatan. Tidak diizinkan sedikit saja membuktikan kemampuanku. Ibu yang dulu mengajakku bergabung dengannya tapi kenapa sekarang ibu yang menelantarkan aku?
Bapak dan ibuku sendiri yang akhirnya menyemangatiku dan membuatku mau bangkit untuk membuktikan apa yang seharusnya aku buktikan.
Suatu hari, kesempatan itu tiba dan aku mulai berhasil membuktikannya. Aku bisa, Bu, aku bisa...
Ibu mulai peduli padaku dan itu membuatku lebih lega. Seiring jalannya hari, aku bisa menjadi lebih dan lebih baik lagi. Namun mulai ada sesuatu yang mengganjal lagi. Tentang aku dan teman-temanku.
Aku memiliki beberapa teman karib dan setiap kami bersama tiada tawa yang bisa dilewatkan. Kami selalu tersenyum bersama dan saling mendukung satu sama lain. Tapi Ibu tidak suka itu. Ibu selalu bilang, "Terlalu banyak tertawa justru bisa berujung menangis di akhir".Saat pelajaran di kelas, Ibu sering memindah tempat duduk kami agar berjauh-jauhan. Ibu bahkan menyuruh teman-temanku untuk menjauhiku agar aku fokus pada apa yang harus aku lakukan. Tapi maaf, aku tidak bisa. Mereka juga bagian terpenting untukku karena mereka sahabat karibku.
Hari kian berlalu. Hal-hal itu semakin memudar. Aku bisa memfokuskan diriku bahkan tanpa diminta. Aku sudah bisa berpikir dewasa. Aku mulai bisa menjalani semuanya secara mandiri.
Kini aku mengerti apa yang Ibu lakukan. Kenapa-kenapa yang semula memenuhi kepala mulai bisa ku jawab sendiri.
Ibu bukan pilih kasih. Ibu ingin mengoptimalkan mereka yang berkemampuan lebih tinggi. Tapi bukan berarti Ibu tidak memikirkan orang-orang sepertiku. Ada waktunya sendiri untuk kami. Belajar itu harus sabar, bukan instan.
Ibu bukan tidak mengizinkanku beristirahat dan menikmati waktuku. Ibu ingin aku mengerti arti kerja keras yang sesungguhnya. Orang sukses bukan selalu orang yang pintar, tapi orang yang mau bekerja keras. Dan sekarang aku tahu itu.
Ibu bukan menelantarkanku. Ibu ingin aku belajar dari kepahitan agar aku bisa bangkit sendiri. Seperti yang kita tahu, untuk mengetes kekuatan sebuah besi kita harus menempa besi itu. Semakin tahan ia ditempa, semakin kuat besi tersebut.
Tapi, maaf, untuk masalah sahabat. Aku masih tidak mengerti. Mungkin Ibu bermaksud agar aku fokus. Tapi itu bukan cara terbaik. Andai Ibu tahu bahwa teman-temanku adalah penyemangatku dan aku butuh mereka. Dulu saat aku OSN SMP mereka menitipkan surat untukku lewat salah satu guru yang menjengukku di karantina. Dan surat itu membuatku merasa tidak sendiri karena ada mereka yang ikut mendukungku walaupun mereka tidak di dekatku. Bertemu mereka untuk bercanda dan tertawa bersama adalah hal yang selalu aku nantikan setiap hari. Mereka yang selalu menghiburku saat aku jenuh. Mereka yang selalu membantuku berdiri saat aku mulai rapuh. Andai Ibu tahu dipisahkan jauh dari mereka -seperti saat ini- adalah hal berat untukku. Karena kami semakin jarang bertemu dan semakin jarang berkomunikasi. Hari terasa berbeda tanpa mereka. Terkadang aku merindukan mereka tapi aku tahu rasa rindu itu hanya bisa disimpan hingga saat liburan tiba. Mereka orang-orang yang sangat berarti untukku, Bu. Jadi mohon maaf sekali lagi aku tidak mengikuti anjuranmu dalam hal ini.
Tapi sudah sangat jelas untukku bahwa Ibu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk para muridnya walaupun terkadang caranya kurang cocok. Mungkin karena usia Ibu terpantau relatif jauh dari kami. Terkadang beda generasi juga menunjukkan perbedaan sikap. Seberapapun bedanya, aku selalu berusaha menghargaimu, Bu. Karena tanpa Ibu aku tidak akan mempelajari banyak hal. Terima kasih atas segala yang Ibu beri, Ibu ajarkan dan Ibu tuntut dari kami. Ibu adalah GURU yang hebat. Dan aku BANGGA pernah menjadi MURID dan ANAK mu. Sekali lagi terima kasih untuk Ibu.
Sabtu, 11 Februari 2012
Buatku Ultah Itu . . .
Buat aku, mmm, gimana ya? Dibilang spesial? Mmm, nggak gitu juga sih. Toh aku nggak pernah ngapa-ngapain pas ultah.Dari aku kecil, aku sekeluarga nggak pernah ngadain pesta buat perayaan hari lahir sampai sekarang. Kalau ada yang ultah, biasanya ibu yang tiba-tiba masak sesuatu yang disukai sama si orang yang ultah tadi. Jadi kesannya spesial.. Sebenarnya, bukan bagian makanannya sih yang spesial. Tapi apa yang ibu lakukan itu yang spesial.. Tandanya ibu selalu perhatian sama keluarganya. Alasan kenapa ada 'makan-makan' buatan ibu ini yang jelas bukan merayakan sesuatu, tapi bentuk rasa syukur karena alhamdulillah Allah masih ngasih umur buat yang ultah ini. Alias keluarga kami masih diizinkan untuk tetap komplit. :)



