Laman

Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Mei 2017

Penyakit Umur 20-an

Hey all.. 
Sudah 5 bulan, saya baru muncul.
Di tulisan sebelumnya saya menyebutkan keluarga kami akan punya hajat Desember tahun lalu. Molor sedikit sih, tapi tetap sekitar-sekitar itu.
Alhamdulillah kakak saya sudah menikah.
Nih fotonya pas akad.


Cantik kan? Siapa dulu juru makeup-nya.. Hahaha.
Foto pas resepsi ngga diupload ah, makeup-nya menor, pakai orang salon sih, saya kan males lihat makeup-makeup yang begitu.
Oiya, alhamdulillah lagi kakak saya sekarang sedang hamil keponakan saya yang pertama. Baru jalan 3 bulan kalau tidak salah.
You know what? Waktu pertama tahu kakak saya hamil, bapak langsung joget-joget. Sambil nyanyi-nyanyi "Arep nduwe putu, arep nduwe putu". Kocak lah si babeh.
Semoga sehat dedek sama ibunya sampai lahiran, sehat teruuuss biar si dedek bisa ngerusuhin tantenya ini.


Kali ini saya ingin menulis hal yang paling sering dibicarakan orang-orang umur 20-an.
Menikah.
Kok topiknya ini? Mmm, sebenarnya mau yang lain tapi kemarin ada yang request sih jadi diturutin dulu.

Jumat, 12 Juni 2015

Masih Kuat? Masih :)

5 hari yang lalu, 7 Juni 2015. Seleksi IMC selesai dan aku gagal. Hahaha. Ternyata tahun lalu adalah ONMIPA dan IMC pertama sekaligus terakhirku.
I don't know, it seems like many things are not going well this year.
2015 baru berjalan setengahnya tapi sudah banyak keluh dan air mata keluar. Hmm..

Kabar baiknya adalah, 4 dari 7 wakil Indonesia tahun ini merupakan anak ITB (yeah, sekali-kali arogansi) dan meskipun aku tidak bisa menebak apa yang terjadi nanti, aku optimis ITB akan membawa setidaknya second prize nantinya (amiin insya Allah).
Semangat Kahfi, Ucup, Brilly, Afif..
Terutama 2 sohib ini, Brilly dan Mas Apip. Get your best, guys :D
Habis itu, seperti rencana, kita wisuda bareng-bareng (masih lama sih Oktober).

Kembali ke tahun ini. Tahun yang hmm.. Entahlah.. Semester ini kacau sekali (as I wrote before).
Kesehatanku juga kacau sekali, semester ini semester paling banyak bolos karena sakit dan sakitnya tidak seringan biasanya. Alhamdulillah sekarang baik-baik saja, aku lebih jaga diri deh biar nggak kumat-kumat lagi.
Dan semester ini juga semester paling galau, galau soal masa depan tentunya.
Kerja dulu? Tapi mau daftar kemana? Dimana-mana yang diincar statistik dan keuangan. Da aku mah anti dua-duanya *lemah*.
S2 dulu? Memang mau lanjut kemana? Ambil apa?
Atau nganggur dulu? Tapi aku butuh pemasukan..
Alhasil, TA nya dipelan-pelanin sembari mencari titik terang (ampun pak dosbing, ampun, bapak jangan susah-susah ditemui ya pak meskipun sudah jadi dekan *ciyee* ).

Bicara tentang tahun ini dan hal-hal yang 'hmm' ini pasti tidak akan lepas dari menangis.
Well, I cried. Again and again. Terakhir ya tanggal 7 itu, sampai tanggal 8 sepertinya. Kalau masalah 'tidak lolos' nya sih aku sudah legowo. 7 manusia terpilih itu memang kemampuannya di atasku, jadi aku sadar diri. Makanya nangisnya bukan setelah pengumuman banget. Melainkan beberapa jam kemudian. Setelah telpon rumah dan packing barang-barang. Kebetulan di antara peserta seleksi memang hanya ada satu perempuan, jadi aku sendirian di kamar. Nyesek dikit, melow dikit, langsung nangis.

Kenapa nyesek? Ya nyesek aja sadar mimpi yang dipendam bertahun-tahun pada akhirnya tidak tergapai juga meski sudah berusaha hingga kesempatan terakhir.
Bertahun-tahun kuliah, coba kompetisi sana-sini, medali aja nggak pernah dapet.
Ditambah lagi adek mau masuk SMA, kalau biaya kurang nggak ada jaga-jaga nih hehehe (duit mulu pikirannya).
Mana aku masih merasa masa depanku suram kan? Nah loh, numpuk numpuk numpuk, nangis deh.
Dan ini memecah rekor terlama aku menangis. 2,5 jam. Wow. Dari 23.00-an sampai 01.30-an.
Keren ya? Sembab sembab sono. Untung paginya pulang dari hotel diantar Brilly, ketutup helm. Coba naik angkot? Kan malu sama ibu-ibu yang seangkot (ya bisa jadi teteh-teteh atau bapak-bapak juga ding).

Dan sekarang aku di rumah. Mau bercengkerama bersama orang-orang tercinta dulu. Sambil ngerjain TA kok, tenang saja. Kalau di Bandung aku agak nggak beres soalnya, males euy, tidur terus (kalau di rumah ada ibu yang omelin), boros lagi makanan serba mahal (di rumah makan gratis, jajan juga masih terjangkau).
Jadi, aku mengasingkan diri di rumah dulu ya sampai tanggal 22.
Anybody need to see me?
Tunggu tanggal 23, aku available di Bandung, atau kalau mau sih sini ke rumah, aku available di rumah sebelum tanggal itu :)

Tahun ini berat. Tahun ini membingungkan. Tapi aku punya pilihan apa selain berusaha melewati semuanya dan menganggap semua baik-baik saja?
Sudah lelah menangis, sudah lelah minum obat terus, sudah lelah merasa nggak ada teman berbagi.
Saatnya cengingisan dan haha hihi lagi.
Dian sehat. Dian kuat. Dian mandiri.
Semangaaaat !!

Sabtu, 16 Mei 2015

Sedih Tapi Kuat Kok

Hei, sudah Mei ternyata. Perkuliahan semester 8 selesai, tapi belum resmi selesai, mengingat UAS masih banyak dan semester pendek juga belum dilewati. Alhamdulillah sudah semangat TA (baru mulai? maklum deadliner) hahaha. Semoga lancar ya Allah, amiin. Many things happened, khususnya Maret-April kemarin. Banyak yang mau ditulis tapi lupa terus. Jadi diceritainnya satu-satu deh ya *nyicil ceritanya*..

Di tulisanku sebelumnya, aku cerita tentang rasa malasku ngerjain TA dan upaya refreshing-nya yang cukup terhambat karena ada sedikit masalah hati *wejiaan*. Tapi serius, memang beneran bermasalah waktu itu.

Ceritanya akhir Februari, tanggal 20, aku berniat pulang menghabiskan weekend di rumah, sekalian ada acara keluarga. Sayangnya itu batal karena jadwal kegiatan yang tidak bersahabat. Jumat ada kuliah sore, Sabtu dan Minggu ada kegiatan wajib rutin beswan, Senin malam mengajar privat. Sedih sih. Akhirnya pas hari Kamis aku telpon rumah dan bilang bahwa aku batal pulang. Orang rumah biasa saja, tidak ada masalah. Masalahnya di minggu depannya..

Seminggu kemudian, aku tidak menelepon rumah, tepar karena pulang kemalaman. Jumatnya, bertepatan di tanggal lahirku, bangun-bangun aku buka HP, berharap ada 2 pesan disana, ibu dan mbak. Aku kan hanya butuh tahu bahwa ibu ingat hari ulang tahunku. Tapi, nihil.. Sedihnya tambah. Ya sudah, dengan agak malas siangnya aku ke kampus. Di kampus ternyata si emak (Cindy) nyariin, akhirnya dia dan AK (Akmal juga dihitung deh) nyamperin sebelum aku masuk kelas cuma buat bilang happy birthday dan nyuruh aku ketemu mereka dulu sehabis kelas. Ternyata, Cindy masak puding dan ngajak makan berempat sehabis kelas. So sweet banget nggak sih anak satu ini. Terima kasih banyak pokoknya, you're my moodbooster that day. Mana habis itu waktu aku buka HP ada 2 pesan. Siapa lagi? Ibu dan mbak. Alhamdulillah, sedihnya hilang. Katanya ibu ngga sempat sms pagi-pagi. Agak heran sih, jarang-jarang ibu telat ngucapin. Tapi biar deh, yang penting ibu sms, udah lega.

Sore itu, aku juga ada kumpul dengan anak-anak Mathco mengingat sebentar lagi ganti kepengurusan. Dan ternyata ada yang beliin kue untukku dan seorang adik tingkat yang juga berulangtahun hari itu. Well, thanks, guys. Mathco yahud euy.

Sayangnya happy ini nggak bertahan lama. Malamnya, aku telepon rumah mengingat malam sebelumnya tepar. Awalnya pembicaraan kami biasa, tapi di akhir ibu bilang, "nduk mbok bali nek bisa", dan dengan alasan yang sama aku menjelaskan aku tidak bisa pulang. Tapi rasanya aneh. Saat aku tanya ada apa, ibu bilang, "yo ora popo, mung pengen dian bali, tapi nek nduk pancen ora bisa yo wes." Ditanya-tanya lagi pun jawabannya sama, tidak ada apa-apa. Habis salam telepon tutup. Nah kan, curiganya nambah. Pasti ada hubungannya dengan ibu yang tadi pagi nggak sempat sms. Ini pasti ada sesuatu yang ditutupi.

Akhirnya seperti biasa, aku berusaha men-distract diri sendiri, ngerjain ini-itu agar lupa walaupun sebentar. Eh, susah.. Malah tambah kepikiran. Dua hari kemudian semuanya memuncak. Pengen pulang tapi nggak bisa. Mau ngapa-ngapain nggak konsen. Mau cerita bingung sama siapa. Aku memang suka bercerita banyak hal, tapi kalau ada masalah apalagi tentang keluarga, aku sangat selektif memilih tempat bercerita. Lagipula, kalaupun ada tempat bercerita, aku bingung harus mulai darimana dan apa yang harus dikatakan. Jadi pada akhirnya malam itu aku hanya bisa menangis lama. Berharap keluargaku dilindungi dan semuanya baik-baik saja.

Esok paginya aku sudah mulai tenang walaupun mataku bengkak. Dan aku putuskan sms ibu, bilang kalau memang ada hal penting yang harus dilakukan, lakukan aja nggak perlu tunggu Dian, Dian bantu doa dari sini dan beliau hanya membalas "iya nduk". Walaupun belum plong tapi lebih lega.
Pada akhirnya selalu begini, seberat apapun itu aku masih kuat hadapi masalahku sendiri. Kalau sedang rapuh-rapuhnya selalu merasa butuh tempat luapan curhat, tapi lagi-lagi tembok kamar selalu cukup jadi tempat bercerita. Strong, Yan, strong!

Masuk bulan Maret, ada libur hari raya Nyepi, yang kebetulan jatuh di weekend. Bisa pulang juga nih :3 Sampai rumah aku dan keluargaku banyak bercerita. Ternyata memang ada sesuatu saat itu but that's okay now. Jadi, aku tidak perlu khawatir lagi :)

Btw, tadi banget, aku mimpi sedih. Aku mimpi ibu, bapak, dan mbakku nggak ada. Naudzubillah ya Allah, jangan dulu, aku masih sangat butuh mereka.
Dulu pas aku SD aku pernah bermimpi ibu nggak ada, bangun langsung nangis teriak-teriak panggil ibu, terus langsung berhenti pas ibu nyamperin ke kamar.
Pas SMP aku mimpi adikku nggak ada, nggak pake teriak sih tapi bantalku super basah dan bangun pun masih sesenggukan.
Beberapa minggu lalu aku mimpi bapak nggak ada, sama seperti saat mimpi adik, nangisnya dalam mimpi, jadi bangun tinggal sesenggukannya.
Nah yang tadi pagi parah. Bangun bantal sudah basah, ditambah masih nangis kebawa sedih, nangisnya bukan main pula, 40 menitan, sekitar sejam setelah bangun baru bisa tenang dan berpikir jernih. Aku takut beneran. Kalau kejadian kan aku nggak tahu harus gimana. Kuliahku belum selesai, adikku sebentar lagi masuk SMA, akunya juga pasti shock berat. Nggak kebayang gimana rasanya karena aku pasti tidak kuat tapi aku tidak bisa terus-terusan nangis apalagi di depan adikku. Kakak itu contoh buat adiknya, kalau aku begitu kan kasihan adikku. Makanya tadi nangisnya lamaaaa.. Jangan dulu, ya Allah. Lindungi keluargaku, amiin.
Ya sudah, ceritanya gitu. Kalau ngomongin keluarga bisa keterusan kalau nggak direm hahaha. See you in the next post :D

Sabtu, 28 Februari 2015

Post Terakhir Bulan Ini

Mumpung sebentar lagi ganti tanggal jadi judulnya begitu.
Well, apa kabar semua? Mau pamer nih, aku punya boneka brown loooh..


Itu dari si emak (maksudnya Cindy Putri Puspita, ini panggilan baru) Makasih banyak, Cin :3 Ini meredakan gejolak hati soalnya kemaren aku nangis karena aku pikir orang rumah nggak ada yang inget, ternyata memang baru sempet ngucapinnya sorean. Sama pudingnya juga enak. Yummy.. (ini berarti AK Akmal juga kena kok makasihnya :D )
Makasih juga tim Mathco, sore yang menyenangkan bersama kalian, semoga tetap berjaya ya..
Makasih juga Mars PDA yang malah nggosip dan dengan santainya bongkar-bongkar rahasia orang.
Dan makasih MA'11, tetap bebas linier dan membangun :)

Kamis, 22 Januari 2015

Bukan Drama, Hanya.. Gengsi.

Beberapa hari yang lalu aku membaca blog post seorang teman -Idham namanya- yang berjudul "Enggak Kangen, Enggak Cinta" yang kemudian memiliki blog post tandingan dari Pipit dengan judul "Drama". Tadinya, tidak ingin ikut-ikutan tapi tergoda juga akhirnya..

Setuju dengan pendapat Pipit, menurutku kangen itu muncul karena adanya stimuli yaitu rasa terbiasa. Dan saat kita kangen dengan seseorang atau sesuatu, memori tentangnya akan dengan mudah muncul dimana-mana. Di halaman novel yang kita baca, di whiteboard yang penuh tulisan dosen, di jendela angkot, di lirik lagu yang terputar di radio kantin, bahkan di dalam kekosongan saat kita beranjak tidur (aseek). Terdengar lebay ya? Tapi memang gitu sih..

Kembali ke tulisan kedua temanku tadi. Kalau pertanyaannya nggak kangen nggak cinta, aku balik dulu deh. Kalau cinta, kangen nggak? Aku sih optimis, kebanyakan orang akan menjawab iya. Lha wong yang cuma temenan sebentar aja dikangenin, benda mati juga kadang dikangenin, apalagi yang dicinta (tuh kan, geuleuh ih pake kata 'cinta' -_- ) Jadi, jawabannya iya, kalau nggak kangen berarti nggak cinta.
Nah, kalau kangen, terus apa? Kembali ke orangnya masing-masing menurutku. Mungkin x persen akan langsung mengontak orang bersangkutan dan bilang "Apa kabar?" atau dengan gamblangnya "Aku kangen". Tapi masih ada (100-x) persen yang tidak demikian. Dan salah satu faktor penyebabnya bisa jadi adalah gengsi. Ya, gengsi.
Kaum gengsi ini, pasti akan memilih untuk sibuk sendiri. Bukan upaya menambah drama di tengah rumitnya hidup, hanya usaha men-distract diri sendiri dengan cara apapun. Berusaha lupa sementara. Mungkin akhirnya benar-benar lupa. Tapi tidak jarang yang justru semakin rindu dan rindu. Sampai akhirnya, dengan penuh pertimbangan, dia akan mengontak terlebih dahulu dengan hanya "Hai" atau "Kamu sibuk?". Padahal dalam hatinya, "Aku kangen.. Banget."

Katanya, kalau memang cinta, sesulit apapun, pasti ada usaha meluangkan waktu satu sama lain.
Mmm, oke sih, kalau nggak gengsi. Sebenarnya usaha ada.. Tapi, gengsi itu.. Gimana ya? Susaaaah banget dimusnahkan (bahasane ah), ya dihilangkan deh. Dikurangi aja susah, apalagi sampai hilang. Mustahil. Yang bilang bisa hanya mereka yang nggak gengsi-gengsi banget. Selain gengsi, mungkin cuek. Ini sifat kedua yang juga susah dihilangkan. Tapi lumayan bisa dikurangi. Mau sayang gimana juga, karakter cuek itu sekali-kali bisa muncul. Kangen sih dikit, tapi ya udah lah nggak perlu dibilangin. Ujungnya sama-sama tiada kabar. 
Tapi tenang.. Kalau memang cinta, pasti ada yang mengalah duluan :) Makanya, untuk kaum seperti ini, quotes di atas sepertinya harus sedikit di revisi
Kalau memang cinta, sesulit apapun, pasti ada usaha mengalahkan gengsi dan ego masing-masing.
Sedikit cerita, tentang orang-orang yang selalu membuatku kangen. Keluargaku. Lebaran yang lalu,lebaran pertama yang aku lalui tanpa keluargaku. H-2 lebaran aku menelpon rumah dan berbagi kabar seputar keberangkatanku. Tadinya aku merasa normal-normal saja, tapi H-1 lebaran rasanya sangat hampa. Sore-sore aku berjalan-jalan di kompleks belakang hotel, berniat mengambil laundry. Sepanjang jalan, aku jumpai beberapa rumah tampak ramai, sepertinya kerabatnya pulang kampung ke rumah tersebut. Dan sesak mulai terasa. Aku rindu keluargaku. Tapi ditahan saja, baru juga tadi malam telpon. Gengsi. Yap, untuk beberapa hal, aku masih gengsi dengan keluargaku sendiri, apalagi untuk berkata "Ibu, aku kangen" atau "Makasih ya, Pak". Sampai akhirnya azan Isya berkumandang dan langit Jakarta mulai dipenuhi kembang api, sedangkan aku hanya menatap itu semua dari jendela kamarku sambil memegang HP,  galau pengen telpon tapi gengsi, kalau nggak telpon kangen. Untungnya beberapa menit kemudian, HP ku berdering. Bapak. Langsung ku angkat dan kami sekeluarga ngobrol berjam-jam malam itu.

See? Jangan pernah samakan statement Anda untuk semua orang. Karena biasanya, kaum gengsi punya statement sendiri :)

Minggu, 30 November 2014

Jangan Lagi

Well, it's the last day of November.. Aaarrgh, December is comiiinngg! Nooo!. Maaf lebay, sindrom akhir tahun begini nih. Hmm..

Minggu depan minggu terakhir kuliah. Itu artinya minggu depan adalah minggu dimana
1) tugas-tugas berdatangan lebih dan lebih banyak dari biasanya
2) nutor kalkulus lebih dan lebih sering dari biasanya
3) beberapa ujian mulai menerjang
4) deadline-deadline semakin dekat, yang TA, yang artikel, yang tubes
5) homesick semakin dan semakin parah

Yang kelima ini lho masalahnya. Beberapa hari ini pikiranku agak tidak fokus dan badan juga tidak enak. Padahal cuma kehujanan, harusnya paling pol demam. Tapi bukan cuma demam, pusing, tapi maag-nya ikutan kumat. Mana perutnya sering kram juga (ini sih bawaan M kali, Dian). Kalau kata ibu, mungkin sedang banyak pikiran. Mungkin juga.. Lebih tepatnya kalau ada pikiran yang agak membebani sih. Kalau itu alasannya, mmm, mungkin benar..

Beberapa hari ini mimpiku selalu tentang orang-orang rumah. Bukan cuma mimpinya yang begitu tapi perasaanku juga tidak enak. Entah aku yang terlalu rindu rumah atau mood-nya yang agak bergejolak atau apa. Aku sudah beberapa kali telpon rumah. And they're okay there. Setidaknya saat mereka bicara denganku, itu yang mereka katakan. Seharusnya aku lega, tapi sebaliknya, aku takut.
Seperti yang pernah aku ceritakan, bapak pernah sakit dan kambuh. Dan parahnya, serumah tidak ada yang memberitahuku karena tidak ingin aku khawatir. Ya walaupun aku justru kepikiran sendiri karena perasaanku tidak enak dan tidak karuan.
And now I'm scared that it may be the same thing. Astagfirullahaladzim.. Jangan ya, Tuhan. Semoga bukan apa-apa. Berkahi dan jaga mereka. Semoga orang-orang yang aku sayang selalu ada di lindunganMu, ya Allah..

Makanya aku mau minta maaf dulu aku kemarin-kemarin hilang. Habis kuliah langsung pergi, habis bikin tugas langsung hilang, pawai DIES absen, malam DIES juga absen, HP nggak dibawa-bawa jadi susah dihubungi.
I just need to be with myself, to be alone, to clear my mind. Jatuhnya kayak ansos memang. Mau bagaimana lagi, kalau aku di keramaian tapi pikirannya masih begini ujung-ujungnya malah murung sendiri, kalau parah malah jadi emosi, bawaannya pengen ngomel ke semua orang. Maaf yah, Cindy, Nabil, Fetra, Yoga, Tria, Stella, Nanda, serta teman-teman MA yang tadi malam rame-rame DIES (btw, dirgahayu ke-54 HIMATIKA ITB. Jaya dan berkarya selaluu). Sama manusia yang lagi jauh disana, sorry I didn't contact you first, takut ganggu, jaga diri dan cepat pulang ya..

Now I feel better. Masih nggak enak sih perasaannya tapi mending kok.
Bismillahirrahmanirrahim.. Semoga besok-besok lebih baik dan semoga ini semua bukan firasat atau pertanda aneh-aneh. Amin..

Rabu, 13 November 2013

One of My Dreams

Sadar masih punya mimpi.
Sadar masih punya harapan.
Sadar masih jauh untuk digapai.
Sadar masih belum menjadi apa-apa.
Sadar masih harus bekerja keras.
Sadar masih ada kesempatan meski tak tahu kapan ujungnya.
Mungkin puluhan tahun lagi.
Mungkin tahun depan.
Mungkin bulan depan.
Mungkin besok.
Atau mungkin hari ini.
Yang jelas..
Aku hanya memohon, biarkanlah kami tetap ada, jadikanlah kami tetap utuh.
Setidaknya, hingga keempat mimpi besarku terwujud.
Salah satunya.. ini..
Insya Allah, nanti (entah kapan), bapak ibu bisa menjadi tamu-Mu, Tuhan :)
Sebelumnya, biarkan aku terus berusaha, dan luruskan niat serta jalanku..
Tuhan itu sesuai prasangka hamba-Nya. Dan Engkau pasti tahu, Engkau selalu yang paling baik di mataku. ^^

Selasa, 19 Februari 2013

'Pacar' dalam Kamusku


Pacar? Kata yang pasti familiar untuk setiap orang. Masalahnya, meskipun familiar, belum tentu semua orang pernah memilikinya #ups .Sengaja sih, nyindir para jomblo #nggak tau diri

Kenapa aku tiba-tiba menulis tentang pacar?
Karena tiba-tiba aku teringat kejadian tahun lalu saat aku TPB.
Saat itu aku berjalan-jalan dengan ibuku (suasana liburan).
Di tengah-tengah perjalanan, entah ada angin apa, ibu berkata, "nduk, nek saiki arep pacaran wes ra popo" (nduk,kalo sekarang mau pacaran udah boleh).
Langsung dong aku mengernyitkan dahi. Iyeu teh si ibu kunaon?
Bisa tebak seperti apa responku?
Dengan ekspresi datar seperti biasa, aku jawab, "mmm, ngko lah bu, gampang, nek wes jodo ben teka dhewe" (mmm, nanti deh bu, gampang, kalo udah jodoh juga datang sendiri).
Ibu pun hanya mengangguk-angguk dengan ekspresi yang sangat terbaca (yaudah deh terserah kamu).

Aku paham maksud ibuku. Mungkin beliau hanya sedikit khawatir.
Dalam satu hal ini aku jauh berbeda dari ibu dan mbakku.
Ibuku jaman muda entah berapa kali pacaran (banyak yang jelas).
Mbakku? Dari kelas 2 SMP dia juga sudah punya pacar dan aku pun tidak tahu berapa kali ganti (ini bahkan lebih banyak dari ibu). Dari yang selisih sekian tahun di atas sampai sekian tahun di bawah, semua sudah mbakku lalui (berasa naon kitu nyak?)
Aku? Boro-boro berapa kali, pernah aja kagak, hahaha (ini ngakak beneran, nggak bohong)

Pacar, atau apalah itu yang biasa diawali dengan 'tembakan' dan diakhiri dengan 'putus' (aneh ya, kenapa tembak pasangannya putus?), untuk beberapa orang mungkin merupakan elemen penting untuk menjalani hidup.
Aku pun tidak memungkiri itu, sepanjang dengan pacaran kedua orang yang bersangkutan bisa saling mendukung, saling mengerti dan memberi solusi, kenapa tidak?
Aku sendiri bukan orang religius yang anti pacaran karena 'katanya' banyak mudaratnya.
Untukku, semua kembali ke masing-masing pribadi.
Suatu hal yang jelek di mata orang, jika dikemas dan dilakukan dalam hal, waktu dan tempat yang sesuai, jelas dia tidak akan menjadi 'mudarat'. Jadi, itu masalah persepsi juga..

Kalau bukan anti lalu kenapa tidak mencoba?
Hmmmm, pengen sih. Nggak ding, hahaha.
Kenapa ya? Aku juga sebenarnya bingung #piye jal?
Yang jelas ada berbagai hal yang mendukungku untuk 'belum' menjalin status dengan orang (belum berarti akan kok #amin deh amin)
Aku bukan tipe cewek yang diidamkan cowok.
Katanya, cowok itu butuh sosok cewek yang bisa menenangkan, perhatian, dsb. Aku? Bahkan jauh dari kata perhatian.
Semua orang yang mengenalku tahu super cueknya aku, seberapa introvert-nya aku (bukan introvert ding, hanya lebih suka menyendiri, salah sendiri orang-orang marmos), kurang peka, suka tidur, aneh, kerjaannya ngemil, nggak bisa dandan, nggak bisa masak (cewek nggak sih sebenernya?).
Tapi, sejelek apapun sifat-sifat itu, aku selalu senang menjadi diriku sendiri. I love myself, the way I am..
Dan aku tidak suka jika ada orang yang berusaha mengubahku.
Aku bisa berubah, jika memang sudah saatnya aku berubah.
Aku dulu tomboy (bukannya sekarang masih?), anti pakaian feminin, anti make-up, anti pilih-pilih baju. Seiring umur bertambah, ada waktunya aku menjadi remaja yang memang sudah waktunya untuk menjadi 'cewek'. Dan saat waktunya tiba, aku berubah perlahan dengan sendirinya.
Aku hanya butuh waktu, aku akan menyadari seperti apa seharusnya aku dan aku bisa meng-handle itu semua.
Sayangnya, cowok yang bisa mengerti cewek seperti ini memang tidak banyak.
Kalau pun ada, belum tentu dia bisa bertahan menghadapi super cueknya aku, salah-salah akhirnya dia kepincut cewek lain (curhat dikit yak, hahahaha)

Alasan pendukung yang lain?
Mmm, buat aku pacaran bukan mainan, bukan sekedar suka-sukaan. Kalau bosen, putus, cari pacar baru lagi.
Kalau hidup seperti itu terus-terusan, kapan mau nikah? (sabar ya, mbak #eh #adikkurangajar)
Lebih baik tidak terlalu sering tapi langgeng kan?
Lagipula, aku bukan orang yang bisa dengan mudah melupakan orang yang pernah ada dalam keseharianku.
Kalau pun sudah bisa, susah membuka hati lagi kalo kata Riris, adik kelasku.

Ada lagi?
Aku tidak suka membuat orang lain tidak nyaman (kecuali aku benci orangnya :p)
Aku tahu sifat super cuek ini cenderung tidak baik untuk orang lain, lebih-lebih jika orang tersebut punya hubungan lebih dekat denganku.
Bisa jadi dia justru menahan sakit hati sendiri karena merasa tidak diperhatikan.
That's why I choose to be more independent, to be alone.
Lebih baik menyendiri kan daripada membuat suasana di keramaian menjadi tidak nyaman? :D
Walaupun banyak yang salah mengira aku introvert, aku malah nyaman dengan hal ini (tu kan aneh)
Lagipula aku tidak introvert, buktinya aku kenal dengan semua teman seangkatanku.
Dan buktinya juga, aku bisa menjadi tukang ngelawak saat aku berkumpul dengan sohib-sohibku.

Orang tuaku sangat paham dengan segala pribadiku ini.
Hebatnya, beliau tidak pernah melarang, menyuruh, atau mengomentariku.
Beliau berdua selalu berkata, anak-anak sudah besar dan tahu apa yang mereka lakukan.
Kalau sampai beliau berdua marah atau menegurku, itu berarti aku yang sudah keterlaluan.
Aduuuuh, syukur alhamdulillah ya Allah punya bapak-ibu kayak gini. Hohoho..
Tenang, pak, bu, insya Allah beberapa tahun lagi ada yang main ke rumah kok #ekspektasi, jiahahaha.
Kata orang, jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kalau kamu tidak mengambilnya bagaimana jodoh akan jatuh ke tanganmu?
Kataku, jodoh di tangan Tuhan, masa depan juga di tangan Tuhan.
Tinggal pilih mana yang lebih mendesak untuk dilakukan.
Kalau masa depan memang lebih mendesak, ambil masa depan dulu.
Toh Tuhan tidak sejahat itu membatalkan jodoh yang sudah seharusnya untukmu, iya nggak, Tuhan #wink

Senin, 31 Desember 2012

Akhirnya Pulang :)

Tugu Galeh, Desember 2012
 Gambar di atas gambar Tugu Galeh. Tugu bdi deket rumahku. Bedanya 4 bulan lalu dan sekarang, mmm, beda penerangannya sih, sekarang lampunya lebih terang :D
p.s. itu yang nangkring di bawah tugu motor bapakku lho (terus kenopo, nduk?) #pamer

Sito vs Sita
Yang ini namanya Sita. Keponakanku yang lahir tepat 1 hari setelah aku sampe Bandung (pas bulan Juni). Dia sengaja kali mau bikin tantenya kecewa buru-buru pulang :/
Btw, aku lho yang ngasih dia nama Sita. Soalnya mas sama mbak sepupuku galau sih, yaudah aku aja yang telfon terus ngasih nama dia. Hahaha,sekate-kate emang ye :p
Lucu kan si Sita? Kayak yang nge-gendong :D Harusnya aku fotonya bareng mbakku juga biar jadi Sita vs duo Sito (opo to, yan?) hahahaha..
Udah, ah, ini jadi post terakhirku tahun ini, mau nonton Shah Rukh Khan dulu nih. Mumpung tahun baru.

Bye all, Happy New Year, hope we'll be better in 2013 !!

4 Bulan di Rantau

Waaaah, blog ini sudah lama aku telantarkan. Maaf ya, nak, ibu terlalu banyak bekerja. Huhuhu.. #pake nangis bombay
Daripada bingung mau cerita apa, mending cerita hal-hal yang aku lalui sebelum liburan. Berhubung akhir tahun juga, jadi sedikit review lah, hehehe.
Apa aja nih ceritanya?
Oke, diruntutin ajakali ya, biar enak dibaca juga
1. Awal bulan September, hari yang sibuk yang menyenangkan! Pernah aku ceritain kok. Di tulisan yang ini (klik kalo mau baca)
Then, beberapa hari kemudian mbakku ultah, widiiih, tambah tua nih, cepet dapet jodoh yak. Biar nggak banyak galu #eh
Sisanya? Kuliah dong ya, teman-teman. Semester baru, semangat baru! Apalagi aku ambil kuliah KWN yang super sekali, sampe-sampe aku nulis tulisan ini : gara-gara kuliah KWN Yang jelas dengan diselingi osjur (ospek-jurusan) tiap weekend-nya. Kumpul angkatan berkali-kali, main seangkatan juga rame-rame. Walaupun menuhin jalan, tapi tetep seru sih. Oke, namanya juga bagian dari rutinitas.
Apa rasanya bulan September tahun ini menurutku? Jawabannya : "sangat mahasiswa" :D
2. Bulan Oktober, adikku ultah, jiahaha, makin gede kau, nak, tapi tetep aja belum berani disunat -_- Terus aku main ke Bogor bareng mbak Ita, Afif sama Yoga. Yang ini nih ceritanya (baca aja bro). Di bulan ini juga udah mulai UTS, tugas kuliah numpuk, tugas osjur bejibun, belum lagi aku double job nutor kalkulus gara-gara mas Rudi jadi asisten pelatnas di Malang. Fuhhh, ternyata kata 'sibuk' masih belum berakhir.
Apa rasanya bulan Oktober tahun ini untukku? Jawabannya : "ini yang namanya kuliah" :/
3. Bulan November, diawali dengan hal menyenangkan. Kami, Matematika ITB 2011 resmi dilantik menjadi HIMATIKA ITB 2012. Asiiiiiiiik, akhirnya berjaket maroon juga ;) Apa yang dilakukan dini hari itu setelah dilantik? Kalau aku sih buka hp, sms mbak Ita, langsung deh dapet jahim yang bisa dipinjem :D (males nyari, hahaha)
finally, jahim maroon (with laras, karin, ikhlas)
Ada apalagi? Karena osjur selesai, kewajiban berunit harus dilanjutin kembali harusnya. Oke deh, aku kembali sibuk dengan sekreku dan melatih anak 2012 untuk menari yang cantik. ^^
Masih dalam hawa-hawa massa himpunan baru, nggak lengkap dong kalo nggak pernah foto pake kaos angkatan. Alhasil, MA 2011 kesampean foto pake kaos angkatan.
Kami MA, kami satu, kami satu-kosong-satu, MA MA MA !!
Itu doang? Nggak sih, nggak jauh dengan Desember, tugas menggunung juga, maklum mendekati akhir semester.. Hmmm.
Apa rasanya bulan November tahun ini? Jawabannya : "Seneng. Karena, meskipun bukan keluarga sendiri yang ada di dekatku, tapi aku punya keluarga baru disini"  :D
4. Bulan Desember... Wuhuuuuu. Awal bulan diwarnai dengan UTS Aljabar dan pagelaran ca-PSTK. Sialnya kedua hal ini benar-benar bareng. Jadi aku nggak bisa nonton adek-adek TT. Tapi aku nggak ketinggalan kegiatan malemnya kok, yaitu pelantikan! Welcome PSTK 2012. Mas-mbakmu menanti kontribusimu #asekasek
PSTK 11 - pelantikan 2012
Nih pemandangannya dari tempat penginapan kami.  Seger kaaannn?
pemandangan dari ciburial atas
Oiya, 4 hari sebelum hari pelantikan, aku diangkat secara tidak jelas sebagai PJ kostum dan makeup Pagelaran Tanggap Warsa PSTK ke 42. Lha ik kowe, padahal pegang makeup aja kagak pernah -_- That's why liburan ini aku musti kerja kerassss. Semangattt !!!
Setelah pelantikan PLE PSTK, aku kembali ke kehidupan kuliah lagi bersama UAS-UAS yang menanti. Rencanaku sebenarnya tanggal 20 ke Semesta biar bisa selesai lebih awal terus nyusul anak-anak PSTK ke Solo. Tapi apa daya ternyata ada kegiatan outbound dari Bidikmisi yang musti diikuti juga. Parahnya, aku baru tahu itu wajib setelah aku beli tiket buat ke Semarang. Jiaaaaaaaaaaaah TT Akhirnya seluruh rencana berubah. Batal le Solo juga, tiket ke Semarang juga dibatalin. Huhuhuhu. Ibu, anakmu molor nih pulangnya #nangis bombay lagi, tapi beneran aku nangis gara-gara seluruh rencanaku batal
Tapi outboundnya asik kok. Raftingnya seru bangeeeeeettt, apalagi ngeliat temen-temen pada kepeleset sama teriak-teriak. Aku mah, malah ketawa seneng, hahaha.
Berhubung pas kegiatan nggak dibolehin bawa hape sama kamera, aku cuma bisa hotoin Situ Cileunca dari deket tempat parkir bis.
dari sisi kiriku

dari sisi kananku
Dua hari kemudian aku ke Semesta, Semesta lagi-lagi ada yang berubah. Yaitu ruang musik, kantin SMA putri, dapur SMA putri, kamar abla, dan pembangunan gedung asrama baru. Hmmm, ada-ada aja nih Semesta. Akhirnya, setelah hampir sekitar 5 hari disana aku pulang ke rumah tercintaaaa.
That's all. Hal yang ku lalui selama 4 bulan nggak pulang. Emang nggak semua sih yang diceritain. Mana bisa aku inget detail semua hal? Bisa-bisa nggak cukup lagi halamannya :p
Jadi, apa rasanya Desember menurutku? Jawabannya : Desember penuh tawa, senyum, bahkan tangis :)

So, over all? How's 2012 for you, Day? Of course, it's INCREDIBLE :D

Senin, 20 Agustus 2012

Keluarga, Keluarga dan Keluarga

Hari ini.
Hari Senin. 20 Agustus 2012. 2 Syawal 1433 H. 3 hari setelah HUT RI (diingatkan oleh post sebelumnya yang telat). Dan hari ke 12 aku berada di rumah setelah sekian lama tak pulang (asa bang Toyib -_-)
Tidak separah itu juga sebenarnya. Soalnya, 2 bulan lalu aku sempat pulang, sayangnya hanya 2 hari, that's why tidak ada rasanya, huhuhu..
     2 bulan yang terasa begitu panjang karena banyaknya kegiatan yang harus dikerjakan, akhirnya sudah berlalu. 2 bulan yang penuh suka duka. 2 bulan yang penuh pengalaman dan keluarga baru.
2 bulan yang penuh keyakinan akan "Integrasi Untuk Indonesia" . 2 bulan yang unforgettable.
     Beberapa teman sering mengusili..
.  "Gimana, Dian? Masih semangat berintegrasi buat negara?"
.  "Makanya nggak usah ikut diklat biar bisa liburan kayak aku"
.  "Yah, kamu nggak pulang sih, nggak bisa ikut buka bersama deh, sekalian reuni nih"
.  "2 bulan panas-panasan pasti cuman dapet itemnya doang, hahaha"
.  ada juga yang bolos diklat karena kebelet pengen main sama temen-temennya, beberapa hanya karena mager (dan yang berangkat justru mendapat hukuman karena tidak kuorum :'( )
     Tapi, itu semua berakhir setelah negara api menyerang, karena aku menemukan kesenangan disana. Hal yang menurut orang lain memuakkan, membosankan dsb, aku malah suka (aneh? iya deh, sedikit)
     Ya pokoknya, ikut diklat OSKM dengan ikhlas dan senyuman itu memberi warna sendiri dan membuatku bisa mengambil hikmah yang lebih banyak serta makna yang lebih dalam :) Daripada kebanyakan, cerita tentang diklat dan OSKM lanjut di lain post aja kali.. (di rumah internet lelet, maklum deh, rumah agak ndeso,hahaha)
     Singkat cerita, aku menikmati keluarga baru yang aku peroleh dari proses 2 bulan itu.
Tapi menikmati keluarga baru bukan berarti meninggalkan keluarga asli lah ya..
Kalian tahu? Kemarin beasiswaku sempat agak trouble dan membuatku tidak bisa mengisi rencana studi, padahal masa liburan sudah mulai dan ibu di rumah juga mulai menghujaniku dengan pertanyaan, "nduk, arek kondur kapan?". Akhirnya, setelah melalui sekian proses, masalah selesai dan aku bisa pulang.
     Perasaan berbeda muncul saat bis yang ku tumpangi memasuki kawasan kampung halaman (soalnya ademnya langsung kerasa, tapi nggak juga ding). Rasanya lega, tinggal selangkah lagi bisa memandang wajah beliau berdua dan kakak-adikku. Apalagi saat aku sampai rumah disambut muka kaget-seneng-kangen keluargaku. "ealah, kok ora ngandhani nek kondur saiki, tiwas ra takpethuk neng galeh". Dan aku hanya senyum-mrenges tanpa menjawabnya.
     Rumah selalu menjadi tempat semua orang ingin kembali. Begitupun aku. Senyaman apa pun aku di perantauan, tidak ada kata 'malas' untuk mudik. Bagaimana tidak? Ada keluarga di rumah selalu menunggu :)
udahan ah, tidak ada hal yang ingin aku sampaikan lagi. Perasaan bahagia bersama keluarga terlalu indah dan rumit untuk sekedar dituliskan (aseeeeeeeeek).
Akhir kata, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin :D (finally maaf-maafan juga kan)
salam sayang, dari dian dan kakak-adiknya :p

Sabtu, 11 Februari 2012

Buatku Ultah Itu . . .

       Most people say that birthday is special day for them, so they celebrate it with make a great party etc. But, they and I are not the same..
Buat aku, mmm, gimana ya? Dibilang spesial? Mmm, nggak gitu juga sih. Toh aku nggak pernah ngapa-ngapain pas ultah.
       Dari aku kecil, aku sekeluarga nggak pernah ngadain pesta buat perayaan hari lahir sampai sekarang. Kalau ada yang ultah, biasanya ibu yang tiba-tiba masak sesuatu yang disukai sama si orang yang ultah tadi. Jadi kesannya spesial.. Sebenarnya, bukan bagian makanannya sih yang spesial. Tapi apa yang ibu lakukan itu yang spesial.. Tandanya ibu selalu perhatian sama keluarganya. Alasan kenapa ada 'makan-makan' buatan ibu ini yang jelas bukan merayakan sesuatu, tapi bentuk rasa syukur karena alhamdulillah Allah masih ngasih umur buat yang ultah ini. Alias keluarga kami masih diizinkan untuk tetap komplit. :)