Kadang hidup seperti 'soft breeze', namun hidup juga bisa berubah menjadi 'harsh storm', hanya dirimu sendirilah yang bisa menentukannya :) Keep smiling to face your complex world easier !
Selasa, 30 Mei 2017
Penyakit Umur 20-an
Sudah 5 bulan, saya baru muncul.
Di tulisan sebelumnya saya menyebutkan keluarga kami akan punya hajat Desember tahun lalu. Molor sedikit sih, tapi tetap sekitar-sekitar itu.
Alhamdulillah kakak saya sudah menikah.
Nih fotonya pas akad.
Cantik kan? Siapa dulu juru makeup-nya.. Hahaha.
Foto pas resepsi ngga diupload ah, makeup-nya menor, pakai orang salon sih, saya kan males lihat makeup-makeup yang begitu.
Oiya, alhamdulillah lagi kakak saya sekarang sedang hamil keponakan saya yang pertama. Baru jalan 3 bulan kalau tidak salah.
You know what? Waktu pertama tahu kakak saya hamil, bapak langsung joget-joget. Sambil nyanyi-nyanyi "Arep nduwe putu, arep nduwe putu". Kocak lah si babeh.
Semoga sehat dedek sama ibunya sampai lahiran, sehat teruuuss biar si dedek bisa ngerusuhin tantenya ini.
Kali ini saya ingin menulis hal yang paling sering dibicarakan orang-orang umur 20-an.
Menikah.
Kok topiknya ini? Mmm, sebenarnya mau yang lain tapi kemarin ada yang request sih jadi diturutin dulu.
Selasa, 22 September 2015
Halaman Favorit
Satu halaman yang isinya lebih mewakili kehidupan selama belasan tahun daripada puluhan halaman berikutnya yang merupakan hasil kerja 2 semester terakhir.
Satu halaman yang 2 baris pertamanya merupakan motto hidup yang pertama dikenal. Tanpa tahu quotes siapa. Tanpa tahu bagaimana bunyi aslinya. Hanya tahu bahwa, bapak yang memperkenalkan ini dalam kehidupanku, kehidupan kami.
Jangan protes soal 6 baris terakhir. Memang sengaja ditulis. Oleh diri sendiri, untuk diri sendiri.
Sekali-kali eksis di buku tidak masalah bukan? Toh, buku buatan sendiri :D
Senin, 03 Agustus 2015
Kabut
Lenyapkan kabut-kabut maut
Menindih perih luka dengan lembaran tawa
Berharap bahagia sudi mendampingi
Tapi apa?
Kabut kembali di kala remang
Pekat menikam mata
Membutakan pandang
Melumpuhkan angan
Memaksa diam
Hingga tenggelam
Lalu hilang
Tanpa dikenang.
Minggu, 24 Mei 2015
It Was Your Birthday, Right?
Bagiku kau seperti bayangan.
Meski seringkali lenyap dalam gelap, namun hadirmu buatku yakin aku tak sendiri di tengah teriknya hari
Happy birthday, Big Boy.. Maaf terlambat.
Semoga umurnya diberkahi Allah, urusannya dilancarkan, dan tetap jadi orang baik hati, amiin.
Wherever you are, whatever you do, jangan lupa makan, jangan lupa istirahat, jangan lupa ibadah dan jangan lupa kabari orang tua.
Hey, kau, satu-satunya orang yang bisa mengalahkan gengsiku (meski tidak selalu), aku hanya ingin menutup pesan ini dengan.. Aku kangen, dan aku masih disini masih menunggumu :)
Sabtu, 07 Maret 2015
Semester Ini Semester Hmm
Niat awal 8 SKS, pada akhirnya 18 SKS, hahaha, jauh memang.
Kenapa bisa?
Awalnya karena ada isu-isu perihal mata kuliah wajib ITB yang 3 SKS, 1 SKS-nya tidak bisa dilempar ke jatah mata kuliah luar prodi. Jadi mau tidak mau, aku ambil salah satu mata kuliah luar 2 SKS, untuk antisipasi. Oke, sementara 10 SKS.
Yang 8 SKS?
Karena keisengan dan merasa butuh juga (butuh tau aja sebenernya mah), aku ambil salah satu mata kuliah tingkat 3, jadi kuliahnya sama adik tingkat biar berasa tetap muda (opo lho?). Jadi ya 14 SKS.
Masih ada 4 Day?Iya. Singkat cerita, waktu itu di grup angkatan ada teman yang cari peminat untuk mata kuliah tertentu, alasannya pendaftarnya hanya 4 orang jadi terancam bubar, padahal dia butuh mata kuliah itu. Nah, mengingat mata kuliahnya terlihat berguna untuk ONMIPA dan aku belum belajar dan dosennya favoritku dan dosennya juga suka menggambar (ora nyambung sithik ra popo ah), jadi aku ambil deh. Alhasil 18 SKS di tangan. Tapi selow aja, kuliah tetap harus santai ~
Untungnya, jadwal kuliahnya pas hari Selasa, Kamis, Jumat AJA. Uwoooo, setidaknya ada 2 hari yang bisa sedikit leye-leye.
Minggu, 01 Maret 2015
Kamis, 22 Januari 2015
Bukan Drama, Hanya.. Gengsi.
Setuju dengan pendapat Pipit, menurutku kangen itu muncul karena adanya stimuli yaitu rasa terbiasa. Dan saat kita kangen dengan seseorang atau sesuatu, memori tentangnya akan dengan mudah muncul dimana-mana. Di halaman novel yang kita baca, di whiteboard yang penuh tulisan dosen, di jendela angkot, di lirik lagu yang terputar di radio kantin, bahkan di dalam kekosongan saat kita beranjak tidur (aseek). Terdengar lebay ya? Tapi memang gitu sih..
Kembali ke tulisan kedua temanku tadi. Kalau pertanyaannya nggak kangen nggak cinta, aku balik dulu deh. Kalau cinta, kangen nggak? Aku sih optimis, kebanyakan orang akan menjawab iya. Lha wong yang cuma temenan sebentar aja dikangenin, benda mati juga kadang dikangenin, apalagi yang dicinta (tuh kan, geuleuh ih pake kata 'cinta' -_- ) Jadi, jawabannya iya, kalau nggak kangen berarti nggak cinta.
Nah, kalau kangen, terus apa? Kembali ke orangnya masing-masing menurutku. Mungkin x persen akan langsung mengontak orang bersangkutan dan bilang "Apa kabar?" atau dengan gamblangnya "Aku kangen". Tapi masih ada (100-x) persen yang tidak demikian. Dan salah satu faktor penyebabnya bisa jadi adalah gengsi. Ya, gengsi.
Kaum gengsi ini, pasti akan memilih untuk sibuk sendiri. Bukan upaya menambah drama di tengah rumitnya hidup, hanya usaha men-distract diri sendiri dengan cara apapun. Berusaha lupa sementara. Mungkin akhirnya benar-benar lupa. Tapi tidak jarang yang justru semakin rindu dan rindu. Sampai akhirnya, dengan penuh pertimbangan, dia akan mengontak terlebih dahulu dengan hanya "Hai" atau "Kamu sibuk?". Padahal dalam hatinya, "Aku kangen.. Banget."
Katanya, kalau memang cinta, sesulit apapun, pasti ada usaha meluangkan waktu satu sama lain.Mmm, oke sih, kalau nggak gengsi. Sebenarnya usaha ada.. Tapi, gengsi itu.. Gimana ya? Susaaaah banget dimusnahkan (bahasane ah), ya dihilangkan deh. Dikurangi aja susah, apalagi sampai hilang. Mustahil. Yang bilang bisa hanya mereka yang nggak gengsi-gengsi banget. Selain gengsi, mungkin cuek. Ini sifat kedua yang juga susah dihilangkan. Tapi lumayan bisa dikurangi. Mau sayang gimana juga, karakter cuek itu sekali-kali bisa muncul. Kangen sih dikit, tapi ya udah lah nggak perlu dibilangin. Ujungnya sama-sama tiada kabar.
Tapi tenang.. Kalau memang cinta, pasti ada yang mengalah duluan :) Makanya, untuk kaum seperti ini, quotes di atas sepertinya harus sedikit di revisi
Kalau memang cinta, sesulit apapun, pasti ada usaha mengalahkan gengsi dan ego masing-masing.Sedikit cerita, tentang orang-orang yang selalu membuatku kangen. Keluargaku. Lebaran yang lalu,lebaran pertama yang aku lalui tanpa keluargaku. H-2 lebaran aku menelpon rumah dan berbagi kabar seputar keberangkatanku. Tadinya aku merasa normal-normal saja, tapi H-1 lebaran rasanya sangat hampa. Sore-sore aku berjalan-jalan di kompleks belakang hotel, berniat mengambil laundry. Sepanjang jalan, aku jumpai beberapa rumah tampak ramai, sepertinya kerabatnya pulang kampung ke rumah tersebut. Dan sesak mulai terasa. Aku rindu keluargaku. Tapi ditahan saja, baru juga tadi malam telpon. Gengsi. Yap, untuk beberapa hal, aku masih gengsi dengan keluargaku sendiri, apalagi untuk berkata "Ibu, aku kangen" atau "Makasih ya, Pak". Sampai akhirnya azan Isya berkumandang dan langit Jakarta mulai dipenuhi kembang api, sedangkan aku hanya menatap itu semua dari jendela kamarku sambil memegang HP, galau pengen telpon tapi gengsi, kalau nggak telpon kangen. Untungnya beberapa menit kemudian, HP ku berdering. Bapak. Langsung ku angkat dan kami sekeluarga ngobrol berjam-jam malam itu.
See? Jangan pernah samakan statement Anda untuk semua orang. Karena biasanya, kaum gengsi punya statement sendiri :)
Senin, 16 Juni 2014
Rindu
. Mungkin rindu itu ketika mengaku tak memikirkan namun ada sosok yang hadir dalam mimpi
. Mungkin rindu itu ketika terdiam melihat sesuatu merasa ribuan memori menyeruak keluar darinya
. Mungkin rindu itu ketika segan hendak menyapa namun kecewa jika tak disapa
. Mungkin rindu itu ketika merasa ingin bertemu namun jarak, waktu dan kesempatan tak senada dengan keinginan
. Mungkin rindu itu ketika mengingat perasaan bahagia dan tanpa sadar bayangannya terlintas sejenak
. Mungkin rindu itu ketika mau menunggu tanpa memperhatikan sejauh apa waktu berlalu
. Mungkin rindu itu seperti kunang-kunang, tak tampak saat terang namun jelas terlihat ketika gelap datang
Jika benar adanya, mungkin aku memang merindu.
Mungkin bukan hanya rindu? Mungkin sayang?
Sayang terlalu rumit untuk bisa dinyatakan, meskipun sangat sederhana untuk bisa dirasakan
Rindu dan sayang terlampau jauh bedanya..
Ah, jangan tanyakan sayang.
Aku hanya sekedar rindu..
Selasa, 19 Februari 2013
'Pacar' dalam Kamusku
Pacar? Kata yang pasti familiar untuk setiap orang. Masalahnya, meskipun familiar, belum tentu semua orang pernah memilikinya #ups .Sengaja sih, nyindir para jomblo #nggak tau diri
Kenapa aku tiba-tiba menulis tentang pacar?
Karena tiba-tiba aku teringat kejadian tahun lalu saat aku TPB.
Saat itu aku berjalan-jalan dengan ibuku (suasana liburan).
Di tengah-tengah perjalanan, entah ada angin apa, ibu berkata, "nduk, nek saiki arep pacaran wes ra popo" (nduk,kalo sekarang mau pacaran udah boleh).
Langsung dong aku mengernyitkan dahi. Iyeu teh si ibu kunaon?
Bisa tebak seperti apa responku?
Dengan ekspresi datar seperti biasa, aku jawab, "mmm, ngko lah bu, gampang, nek wes jodo ben teka dhewe" (mmm, nanti deh bu, gampang, kalo udah jodoh juga datang sendiri).
Ibu pun hanya mengangguk-angguk dengan ekspresi yang sangat terbaca (yaudah deh terserah kamu).
Aku paham maksud ibuku. Mungkin beliau hanya sedikit khawatir.
Dalam satu hal ini aku jauh berbeda dari ibu dan mbakku.
Ibuku jaman muda entah berapa kali pacaran (banyak yang jelas).
Mbakku? Dari kelas 2 SMP dia juga sudah punya pacar dan aku pun tidak tahu berapa kali ganti (ini bahkan lebih banyak dari ibu). Dari yang selisih sekian tahun di atas sampai sekian tahun di bawah, semua sudah mbakku lalui (berasa naon kitu nyak?)
Aku? Boro-boro berapa kali, pernah aja kagak, hahaha (ini ngakak beneran, nggak bohong)
Pacar, atau apalah itu yang biasa diawali dengan 'tembakan' dan diakhiri dengan 'putus' (aneh ya, kenapa tembak pasangannya putus?), untuk beberapa orang mungkin merupakan elemen penting untuk menjalani hidup.
Aku pun tidak memungkiri itu, sepanjang dengan pacaran kedua orang yang bersangkutan bisa saling mendukung, saling mengerti dan memberi solusi, kenapa tidak?
Aku sendiri bukan orang religius yang anti pacaran karena 'katanya' banyak mudaratnya.
Untukku, semua kembali ke masing-masing pribadi.
Suatu hal yang jelek di mata orang, jika dikemas dan dilakukan dalam hal, waktu dan tempat yang sesuai, jelas dia tidak akan menjadi 'mudarat'. Jadi, itu masalah persepsi juga..
Kalau bukan anti lalu kenapa tidak mencoba?
Hmmmm, pengen sih. Nggak ding, hahaha.
Kenapa ya? Aku juga sebenarnya bingung #piye jal?
Yang jelas ada berbagai hal yang mendukungku untuk 'belum' menjalin status dengan orang (belum berarti akan kok #amin deh amin)
Aku bukan tipe cewek yang diidamkan cowok.
Katanya, cowok itu butuh sosok cewek yang bisa menenangkan, perhatian, dsb. Aku? Bahkan jauh dari kata perhatian.
Semua orang yang mengenalku tahu super cueknya aku, seberapa introvert-nya aku (bukan introvert ding, hanya lebih suka menyendiri, salah sendiri orang-orang marmos), kurang peka, suka tidur, aneh, kerjaannya ngemil, nggak bisa dandan, nggak bisa masak (cewek nggak sih sebenernya?).
Tapi, sejelek apapun sifat-sifat itu, aku selalu senang menjadi diriku sendiri. I love myself, the way I am..
Dan aku tidak suka jika ada orang yang berusaha mengubahku.
Aku bisa berubah, jika memang sudah saatnya aku berubah.
Aku dulu tomboy (bukannya sekarang masih?), anti pakaian feminin, anti make-up, anti pilih-pilih baju. Seiring umur bertambah, ada waktunya aku menjadi remaja yang memang sudah waktunya untuk menjadi 'cewek'. Dan saat waktunya tiba, aku berubah perlahan dengan sendirinya.
Aku hanya butuh waktu, aku akan menyadari seperti apa seharusnya aku dan aku bisa meng-handle itu semua.
Sayangnya, cowok yang bisa mengerti cewek seperti ini memang tidak banyak.
Kalau pun ada, belum tentu dia bisa bertahan menghadapi super cueknya aku, salah-salah akhirnya dia kepincut cewek lain (curhat dikit yak, hahahaha)
Alasan pendukung yang lain?
Mmm, buat aku pacaran bukan mainan, bukan sekedar suka-sukaan. Kalau bosen, putus, cari pacar baru lagi.
Kalau hidup seperti itu terus-terusan, kapan mau nikah? (sabar ya, mbak #eh #adikkurangajar)
Lebih baik tidak terlalu sering tapi langgeng kan?
Lagipula, aku bukan orang yang bisa dengan mudah melupakan orang yang pernah ada dalam keseharianku.
Kalau pun sudah bisa, susah membuka hati lagi kalo kata Riris, adik kelasku.
Ada lagi?
Aku tidak suka membuat orang lain tidak nyaman (kecuali aku benci orangnya :p)
Aku tahu sifat super cuek ini cenderung tidak baik untuk orang lain, lebih-lebih jika orang tersebut punya hubungan lebih dekat denganku.
Bisa jadi dia justru menahan sakit hati sendiri karena merasa tidak diperhatikan.
That's why I choose to be more independent, to be alone.
Lebih baik menyendiri kan daripada membuat suasana di keramaian menjadi tidak nyaman? :D
Walaupun banyak yang salah mengira aku introvert, aku malah nyaman dengan hal ini (tu kan aneh)
Lagipula aku tidak introvert, buktinya aku kenal dengan semua teman seangkatanku.
Dan buktinya juga, aku bisa menjadi tukang ngelawak saat aku berkumpul dengan sohib-sohibku.
Orang tuaku sangat paham dengan segala pribadiku ini.
Hebatnya, beliau tidak pernah melarang, menyuruh, atau mengomentariku.
Beliau berdua selalu berkata, anak-anak sudah besar dan tahu apa yang mereka lakukan.
Kalau sampai beliau berdua marah atau menegurku, itu berarti aku yang sudah keterlaluan.
Aduuuuh, syukur alhamdulillah ya Allah punya bapak-ibu kayak gini. Hohoho..
Tenang, pak, bu, insya Allah beberapa tahun lagi ada yang main ke rumah kok #ekspektasi, jiahahaha.
Kata orang, jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kalau kamu tidak mengambilnya bagaimana jodoh akan jatuh ke tanganmu?
Kataku, jodoh di tangan Tuhan, masa depan juga di tangan Tuhan.
Tinggal pilih mana yang lebih mendesak untuk dilakukan.
Kalau masa depan memang lebih mendesak, ambil masa depan dulu.
Toh Tuhan tidak sejahat itu membatalkan jodoh yang sudah seharusnya untukmu, iya nggak, Tuhan #wink
Sabtu, 10 November 2012
Nyesek,cuy :(
@kosan(cisitu)
#titik jenuh melanda
Hal yang paling menyesakkan itu..
Saat kamu butuh nyampah,
butuh cerita,
butuh teriak,
butuh menangis,
butuh mengeluarkan semua yang kau rasakan,
tapi sedikit pun tak bisa.
Senin, 15 Oktober 2012
Rabu, 19 September 2012
Sedih Itu Wajar
Yang penting,
sesaat kemudian kau bisa
tersenyum lebar kembali
by. Dian Sito Rukmi
Minggu, 02 September 2012
Hidup dan Pilihan
- "Kotak-kotak Kehidupan Andrei", Berjuta Rasanya / Tere-liye
Kamis, 23 Agustus 2012
Makna Kehilangan
"Kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisimu, maka kau akan mengutuk Tuhan, hanya mengembalikan kenangan masa-masa gelap itu. Bertanya apakah belum cukup semua penderitaan yang kau alami. Bertanya mengapa Tuhan tega mengambil kebahagiaan orang-orang baik, dan sebaliknya memudahkan jalan bagi orang-orang jahat. Kau tidak akan pernah menemukan jawabannya karena kau dari sisi yang ditinggalkan."
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu / tere liye













