Kadang hidup seperti 'soft breeze', namun hidup juga bisa berubah menjadi 'harsh storm', hanya dirimu sendirilah yang bisa menentukannya :) Keep smiling to face your complex world easier !
Selasa, 30 Mei 2017
Dunia yang Sempit
Bukan, bukan baper atau kebelet pengen. Karena sedang masa-masanya banyak yang nikah saja (sampai bingung kalau mau kondangan soalnya banyak ini undangannya).
Kali ini saya ingin bercerita tentang beberapa teman saya yang sudah menikah. Teman olimpiade dulu lebih tepatnya.
Kamis, 25 Juni 2015
Kuliah Lapangan Oseanografi
Sebelumnya, aku sebutkan dulu anak matematika yang ada di TKP.
Dari angkatan 2012 ada Alfred (si kokoh rempong), Ferdy (kokoh berkaki SNSD, aku ngefans banget sama kakinyaaa), Udin (iya, Udin si anak rese' yang papinya dosen analisis itu, papinya baik tapi alhamdulillah) dan Evellyn (rempongnya sejenis sama Alfred, and unfortunately dia satu kelompok denganku).
Angkatan 2013 ada Levina (Le irit banget ngomongnya), Nidya (pacarnya Udin), dan Jaenuri (Jae mah, hmm, no comment, lieur urang).
Dan dari angkatanku ada Mufri (manusia tegap, berotot, pecinta alam, pendaki gunung pelewat lembah, yang kameranya kereeen, like di IG nya sampai ratusan huaaa :o ), Haje (kokoh skinny boy cem-cem Ferdy, kalau sama Mufri ngga bisa akur), dan tentunya Cindy, AK dan aku, coba ada Akmal sekalian, wuh 'geng wacana' komplit deh.
Ceritanya, kami ber-12 ini adalah peserta matkul Oseanografi Lingkungan dari jurusan Matematika.
Sebenarnya aku sudah mengambil matkul lingkungan di semester 2 yaitu Astronomi Lingkungan. Tapi berhubung penasaran dengan yang ini, apa salahnya diambil?
Ada pengalaman tersendiri saat kita kuliah bersama teman-teman yang lintas jurusan. Disitu kadang kelihatan cara pandangnya yang berbeda-beda dan itu asyik.
Apalagi kalau ada peserta kuliah yang sedap dipandang mata hahaha. Bosen kali lihatnya anak Matematika terus. Apalagi semester ini. Ilfan lagi, Fetra lagi, Dimi lagi, Taufiq lagi, Hosanna lagi. Hmm -.-"
Di kelas Osling kemarin lumayan sih anak Ose sama anak Elektro ada yang ganteng. Semester lalu juga, alhamdulillah pas ambil matkul manajemen ada pemandangan seger juga di antara gerombolan anak Penerbangan sama Elektro *timpuksendal*
Nggak ding. Mumpung ada kuliah lapangannya sebenarnya. Kan seru. Mana ada anak Matematika ITB kuliah lapangan? Dan, 25-26 Mei 2015 adalah jadwal kulap kami.
Dini hari itu, kami berangkat ke Muara Angke untuk kemudian menyeberang ke pulau Pramuka. Bye, ITB, bye, KAA, bye, Bandung yang super ramai weekend itu.
Yah, namanya kuliah lapangan pasti ada modul-modul yang harus dikerjakan. Dan pada kulap ini ada 5 modul yang disiapkan.
Modul Pengukuran Garis Pantai, modul Mangrove, modul Sampah, modul Kualitas Air Laut, dan modul Wawancara. Aku sih malas cerita detailnya, yang jelas walaupun panas, kami tetap semangat.
Berhubung peserta matkul ini banyak, jadi beberapa kelompok baru bisa menyelesaikan modulnya pada 26 pagi. Tapi karena asistennya yahud dan bisa diajak bekerja sama, kami bisa bekerja lebih cepat dan alhasil semua kelompok berhasil menyelesaikan modulnya dalam sehari.
Kelompok terakhir selesai sekitar 17.20 dan itu kelompokku.
Kenapa terakhir? Karena modul terakhir kami adalah modul Kualitas Air Laut, yang prosesnya memang cukup lama dan kami juga harus membersihkan alatnya juga (ini alat termahal yang pernah aku pegang, namanya Horiba, harganya 200 juta, wew)
Hari itu, aku akhiri dengan mengejar sunset yang malah tertutup awan, kemudian malam mingguan di dermaga bersama para mathematician *weiss*
Cuaca nampak tidak mendukung malam itu, kami yang tadinya berniat duduk-duduk sambil bercerita dan mendengarkan ombak akhirnya malah duduk-duduk sambil menghitung kilat dan petir di langit.
Dan benar saja, tidak lama setelah kami kembali ke penginapan, hujan turun.
But that's okay, setidaknya hujan malam itu menambah nyenyak tidur kami yang kelelahan setelah seharian menyusuri pantai menghitung pH air, salinitas, memungut sampah, dsb di bawah panas matahari yang menyengat pulau kecil itu.
Paginya aku terbangun pukul 05.05 dan merasa aneh karena belum ada satu pun orang yang bangun (merasa rajin sekali-kali). Usai solat dan membangunkan cindy, aku meluncur keluar, mengejar sunrise meskipun tahu bahwa aku terlambat.
No problem. Langitnya tetap bagus. Hawanya tetap segar. Dan yang paling penting aku menikmati suasana tersebut.
Ternyata tidak jauh dari tempatku Nidya dan Udin sudah duduk-duduk di tepi pantai. Berarti aku salah kira, bukan belum ada yang bangun tapi yang bangun duluan langsung cabut hunting sunrise. Tidak lama kemudian Cindy dan AK menyusulku, telat sekalii, matahari sudah tinggi hahaha. Akhirnya foto-foto aja deh. Cindy ternyata ambil foto candid aku, foto galau of the month
Dan pagi itu teman-teman berencana menyeberang ke pulau sebelah untuk diving dan snorkeling, tapi karena renang pun aku tidak bisa, aku memilih tetap di tempat, beres-beres, lalu memutari pulau Pramuka sambil jajan-jajan.
Sekitar pukul 10 kapal yang akan kami tumpangi sudah merapat di dermaga. Setelah teman-teman kembali, kami naik kapal. Kembali ke Bandung dan menyambut minggu terakhir perkuliahan semester genap :)
Oiya, btw, selama pulang dan pergi di kapal, aku tidak duduk bersama Cindy AK lho. Aku memilih di dekat Eve dan Ferdy, pas berangkat malah dekat Alfred juga (pusing sih sama anak ini tapi cerewetnya lucu), kami duduk bersama gerombolan anak-anak Oseanografi.
And you know what. Ada anak yang kocak habis. Kebetulan dia sekelompok denganku juga.
Anak ini badannya agak besar, susah bilang 'R' dan kalau ngomong banyol abis. Di kapal, tanpa ngeliatin cukup denger suaranya aja aku ngga bisa tahan ketawa. Kalau sambil dilihatin, omaigat, dia Uus versi gendut dan ngga botak mungkin. Kalau Ferdy sih nyebutnya 'TV nya kak Dian' hahaha.
Bayangin deh. Pulang pergi dekat dia, selama kulap sekelompok juga. Aku bukan capek gara-gara kulapnya, capek ketawa iya.
Untung kami beda bis, bisa-bisa perutku kaku sampai di Bandung. Aku satu bis dengan Cindy AK (emang geng nih).
Dan satu hal kocak lagi, kami semua tahu AK bermasalah dengan alat transportasi selain sepeda motor. Alhamdulillah sih pas berangkat sehat, pulang juga di kapal masih oke, tapi di bis dia muntah.
And you know what? Muntahnya pas udah nyampe Pelesiran. Elah, ini beberapa meter juga udah sampe kampus kali. Muntahnya ngga elegan si AK.
Yah begitulah kulap pertama dan terakhirku selama S1 di ITB. Kacau sih tapi seruuu.
Kamis, 28 Mei 2015
ITB Juara :D
Hai hai. Pengumuman nih, tadi malam pengumuman ONMIPA 2015 diselenggarakan. And guess what? ITB juara umum lagi dong. Alhamdulillah.. Kalian super kece, teman-teman. Btw, ini post nya si Tamaro di instagram..
Dari 8 peserta bidang Matematika, 5 orang mendapat medali. Dugaanku 6 sih, meleset sedikit. Tapi tidak apa-apa, itu tetap luar biasa.
Turut bahagia dengan kabar gembira ini. Selamaaat, sukses terus semuanya. Buat yang medalis matematika, ayo semangat seleksi IMC nya. Aku nggak mau kalah sama kalian :)
Senin, 18 Mei 2015
My Third HM
Bulan lalu, tepatnya 21 April, hasil ONMIPA regional diumumkan, dan.. Tidak ada namaku. Padahal kalau dilihat di buku panduan tahun ini seharusnya masih ada namaku dan Anto, tapi nihil. Terus sediiihh, kan pengen jalan-jalan *salah fokus*. Lumayan refreshing.. Sambil pemanasan buat seleksi IMC, biar terbiasa lihat soal begituan lagi. Apalagi tahun lalu, di ONMIPA aku dapatnya HM (iya, HM, yang selisih skornya sama perunggu cuma 1 poin itu, nyesek ya? Hahaha) Kan pengen dapat medali sekali-kali. Kalaupun bisa ikut IMC lagi (amiin ya Allah, amiin) dapat medalinya susaah euy huhuhu.. Yah sudahlah, doakan saja di seleksi IMC nanti lancar dan bisa ikut IMC lagi, amiin.
Hari itu, karena sedih dan pundung, akhirnya aku berusaha cari pelampiasan. Mengingat ada 2 film inceran yang belum ditonton, aku tancap gas ke BIP, maraton aja mumpung ada waktu.
Tadinya berniat nonton sama Cindy tapi jadwal kosong kami susah disatukan, mana kadang aku tiba-tiba gantiin ngajar les, tambah susah. Daripada wacana, mending sendiri yang penting kesampean. Maaf ya, Ciinn.. Nah bodohnya aku, aku nonton bulan di atas kuburan belakangan. Niat awal cari hiburan, pulang-pulang malah kebawa sedih sampe kosan -_-" Tapi sedih ini tidak berlangsung lama, karena ada kabar baik yang menghibur yaitu hasil MCM-ICM.
Bulan Februari lalu, aku mengikuti lomba pemodelan, namanya MCM (Mathematical Contest in Modeling), kalau yang satu namanya ICM (Interdisciplinary Contest in Modeling). Namanya juga pemodelan, tentunya di awal kami diberikan beberapa permasalahan yang bisa dipilih untuk kemudian dibuat model penyelesaiannya dan paper yang menjelaskan tentang model itu. Yang penasaran detilnya, bisa buka web nya . Untuk menyelesaikan model ini kami diberi waktu 4 hari (atau 5? Ya kira-kira segitu lah). Agar kami fokus mengerjakan tugas kami, kami dianjurkan menginap di kampus. Ada 5 ruangan di Labtek III (gedung Matematika) yang dikosongkan yang dapat digunakan sebagai 'tempat bekerja' kami, yang jika malam mulai larut berubah menjadi tempat tidur. Masalah makanan, jangan khawatir, terjamin kok, melimpah bahkan hahaha.
Tahun ini ITB mengirim 5 tim. Sebelumnya, ada beberapa tim yang berminat tapi setelah diseleksi, 5 tim ini yang terpilih. Dari 5 tim ini, 3 tim berasal dari angkatanku, sebut saja Tim Statistik (Stella, Tria, Caca), Tim Diskrit (Dimi, Fetra, aku) dan Tim Cina (Davin, Leo, Yohans). 2 tim sisanya dari angkatan 2012, sebut saja Tim Hijab (Eva, Desi, Nurul) dan Tim Smart (Selly, Elsa, Gope).
Kalau malam tiba, aku dan Gope berkeliaran mengungsi ke ruangan tetangga untuk numpang tidur. Sedih memang.. Tapi serunya, berhubung saat itu weekend, ITB sepiii, rasanya kami yang berkuasa jadinya :D
Kembali ke pemodelan. Di hari pertama kami memilih problem dan mulai corat-coret menentukan apa yang harus dilakukan. Akhirnya, 4 tim memilih MCM, dimana tim statistik dan diskrit memilih problem B (tentang pencarian pesawat hilang) dan tim hijab dan smart memilih problem A (penanggulangan ebola). Sisanya, tim Cina (habis isinya kokoh-kokoh semua) memilih ICM yaitu problem C.
Hari pertama dan kedua suraaam. Ini 5 tim kerjaannya sama, kalau pusing langsung keluar ruangan cari makanan atau gangguin tim lain. Aku sukanya gangguin tim statistik, ngeriweuhin Stella atau ngusilin Tria. Tapi pas balik ke ruangan sendiri sudah ada kokoh-kokoh yang ngajakin ngomongin orang (itu lho, ibu penghuni ruangan sebelah). Kalau bukan ngomongin orang, mereka ngomongin yang enggak-enggak. Tahu kan pembicaraan lelaki? Dan tiap kali aku ehem-ehem, mereka cuma bilang, "selow lah, Sito ini, nggak papa kalau dia yang denger, kalau sama cewek baru malu". Lhah, gender-ku disamakan ternyata. Kalau nggak, sudah ada Gope, tidur-tiduran di kasur yang dipakai tidur Dimi (ini kasurnya bukan diberdiriin malah ditaruh aja, kata Dimi sengaja, biar orang-orang tergoda). Kacau pokoknya. Apalagi badan masih lemas belum sembuh benar. Malahan pas hari pertama dijengukin Cindy, AK, Akmal dan dianterin Akmal juga buat ambil obat huhuhu. Maaf ya ngerepotin mulu.. Udah gitu aku ngerjainnya sambil setengah bego lagi, maaf ya tims. Ternyata yang tadinya terlihat mudah sebenarnya tidak mudah.
Di hari ketiga akhirnya pencerahan datang. Model sudah lumayan, tapi masih butuh banyak disempurnakan. Hari terakhir disibukkan dengan menulis paper (Fetra masih utak-atik program, masih ada yang mengganjal katanya). Bahkan di malam terakhir itu hampir semua tim begadang. Tahu hal konyolnya apa? Malam itu, sudah tahu paper belum selesai, koh Davin malah ngajak pesen PHD. Katanya, "Tahun lalu juga kami gitu, berbahagia dulu sebelum submit paper, biar tambah semangat juga ngetiknya kalau udah makan enak". Entah itu teori darimana, kami yang juga terserang virus lapar tengah malam mengiyakan omongan Davin. Makan-makan selesai, bukannya semangat ngetik, malah ngantuk karena kenyang. Si kokoh nih biang keladi. Biar melek, akhirnya aku ngemil jeruk, pilih yang kecut, sambil buka youtube putar lagu Jamrud, Fetra ngedoping (minum kopi hitam maksudnya) sampai 3 gelas sambil puter lagu kebangsaan (Maroon 5), Dimi yang nggak kuat akhirnya memilih tidur dan minta dibangunkan 1 jam kemudian.
Jam 6 pagi semua beres, tinggal submit dan untungnya ITB tidak mati listrik (tahun lalu mati listrik katanya, makanya pada rempong). Setelah mengurusi berkas ini-itu dan beres-beres ruangan masing-masing kami pulang dan tepar (bahagia banget lihat kasur di kosan).
Pertengahan April, hasil diumukan. Tidak percuma sih, walaupun belum bagus-bagus amat tapi perolehan tahun ini lebih baik lah dibanding tahun sebelumnya. 3 tim dari angkatanku semua mendapat Honorable Mention (HM lagi, Dian?). 1 tim (tim Smart) mendapat Meritorious Winner dan 1 tim terakhir (tim Hijab) mendapat SP (Successful participant).
Well, this is my third HM (I hope it'll be the last). Masih bisa IMC kan, Tuhan? Boleh dong ikut lagi, boleh juga kan dapet lebih dari HM? Pengen dapet medali nih *mulai ngarep*. Kenyang sama HM hehehe.
Sabtu, 28 Februari 2015
Post Terakhir Bulan Ini
Well, apa kabar semua? Mau pamer nih, aku punya boneka brown loooh..
Itu dari si emak (maksudnya Cindy Putri Puspita, ini panggilan baru) Makasih banyak, Cin :3 Ini meredakan gejolak hati soalnya kemaren aku nangis karena aku pikir orang rumah nggak ada yang inget, ternyata memang baru sempet ngucapinnya sorean. Sama pudingnya juga enak. Yummy.. (ini berarti AK Akmal juga kena kok makasihnya :D )
Makasih juga tim Mathco, sore yang menyenangkan bersama kalian, semoga tetap berjaya ya..
Makasih juga Mars PDA yang malah nggosip dan dengan santainya bongkar-bongkar rahasia orang.
Dan makasih MA'11, tetap bebas linier dan membangun :)
Kamis, 22 Januari 2015
Bukan Drama, Hanya.. Gengsi.
Setuju dengan pendapat Pipit, menurutku kangen itu muncul karena adanya stimuli yaitu rasa terbiasa. Dan saat kita kangen dengan seseorang atau sesuatu, memori tentangnya akan dengan mudah muncul dimana-mana. Di halaman novel yang kita baca, di whiteboard yang penuh tulisan dosen, di jendela angkot, di lirik lagu yang terputar di radio kantin, bahkan di dalam kekosongan saat kita beranjak tidur (aseek). Terdengar lebay ya? Tapi memang gitu sih..
Kembali ke tulisan kedua temanku tadi. Kalau pertanyaannya nggak kangen nggak cinta, aku balik dulu deh. Kalau cinta, kangen nggak? Aku sih optimis, kebanyakan orang akan menjawab iya. Lha wong yang cuma temenan sebentar aja dikangenin, benda mati juga kadang dikangenin, apalagi yang dicinta (tuh kan, geuleuh ih pake kata 'cinta' -_- ) Jadi, jawabannya iya, kalau nggak kangen berarti nggak cinta.
Nah, kalau kangen, terus apa? Kembali ke orangnya masing-masing menurutku. Mungkin x persen akan langsung mengontak orang bersangkutan dan bilang "Apa kabar?" atau dengan gamblangnya "Aku kangen". Tapi masih ada (100-x) persen yang tidak demikian. Dan salah satu faktor penyebabnya bisa jadi adalah gengsi. Ya, gengsi.
Kaum gengsi ini, pasti akan memilih untuk sibuk sendiri. Bukan upaya menambah drama di tengah rumitnya hidup, hanya usaha men-distract diri sendiri dengan cara apapun. Berusaha lupa sementara. Mungkin akhirnya benar-benar lupa. Tapi tidak jarang yang justru semakin rindu dan rindu. Sampai akhirnya, dengan penuh pertimbangan, dia akan mengontak terlebih dahulu dengan hanya "Hai" atau "Kamu sibuk?". Padahal dalam hatinya, "Aku kangen.. Banget."
Katanya, kalau memang cinta, sesulit apapun, pasti ada usaha meluangkan waktu satu sama lain.Mmm, oke sih, kalau nggak gengsi. Sebenarnya usaha ada.. Tapi, gengsi itu.. Gimana ya? Susaaaah banget dimusnahkan (bahasane ah), ya dihilangkan deh. Dikurangi aja susah, apalagi sampai hilang. Mustahil. Yang bilang bisa hanya mereka yang nggak gengsi-gengsi banget. Selain gengsi, mungkin cuek. Ini sifat kedua yang juga susah dihilangkan. Tapi lumayan bisa dikurangi. Mau sayang gimana juga, karakter cuek itu sekali-kali bisa muncul. Kangen sih dikit, tapi ya udah lah nggak perlu dibilangin. Ujungnya sama-sama tiada kabar.
Tapi tenang.. Kalau memang cinta, pasti ada yang mengalah duluan :) Makanya, untuk kaum seperti ini, quotes di atas sepertinya harus sedikit di revisi
Kalau memang cinta, sesulit apapun, pasti ada usaha mengalahkan gengsi dan ego masing-masing.Sedikit cerita, tentang orang-orang yang selalu membuatku kangen. Keluargaku. Lebaran yang lalu,lebaran pertama yang aku lalui tanpa keluargaku. H-2 lebaran aku menelpon rumah dan berbagi kabar seputar keberangkatanku. Tadinya aku merasa normal-normal saja, tapi H-1 lebaran rasanya sangat hampa. Sore-sore aku berjalan-jalan di kompleks belakang hotel, berniat mengambil laundry. Sepanjang jalan, aku jumpai beberapa rumah tampak ramai, sepertinya kerabatnya pulang kampung ke rumah tersebut. Dan sesak mulai terasa. Aku rindu keluargaku. Tapi ditahan saja, baru juga tadi malam telpon. Gengsi. Yap, untuk beberapa hal, aku masih gengsi dengan keluargaku sendiri, apalagi untuk berkata "Ibu, aku kangen" atau "Makasih ya, Pak". Sampai akhirnya azan Isya berkumandang dan langit Jakarta mulai dipenuhi kembang api, sedangkan aku hanya menatap itu semua dari jendela kamarku sambil memegang HP, galau pengen telpon tapi gengsi, kalau nggak telpon kangen. Untungnya beberapa menit kemudian, HP ku berdering. Bapak. Langsung ku angkat dan kami sekeluarga ngobrol berjam-jam malam itu.
See? Jangan pernah samakan statement Anda untuk semua orang. Karena biasanya, kaum gengsi punya statement sendiri :)
Minggu, 30 November 2014
Jangan Lagi
Minggu depan minggu terakhir kuliah. Itu artinya minggu depan adalah minggu dimana
1) tugas-tugas berdatangan lebih dan lebih banyak dari biasanya
2) nutor kalkulus lebih dan lebih sering dari biasanya
3) beberapa ujian mulai menerjang
4) deadline-deadline semakin dekat, yang TA, yang artikel, yang tubes
5) homesick semakin dan semakin parah
Yang kelima ini lho masalahnya. Beberapa hari ini pikiranku agak tidak fokus dan badan juga tidak enak. Padahal cuma kehujanan, harusnya paling pol demam. Tapi bukan cuma demam, pusing, tapi maag-nya ikutan kumat. Mana perutnya sering kram juga (ini sih bawaan M kali, Dian). Kalau kata ibu, mungkin sedang banyak pikiran. Mungkin juga.. Lebih tepatnya kalau ada pikiran yang agak membebani sih. Kalau itu alasannya, mmm, mungkin benar..
Beberapa hari ini mimpiku selalu tentang orang-orang rumah. Bukan cuma mimpinya yang begitu tapi perasaanku juga tidak enak. Entah aku yang terlalu rindu rumah atau mood-nya yang agak bergejolak atau apa. Aku sudah beberapa kali telpon rumah. And they're okay there. Setidaknya saat mereka bicara denganku, itu yang mereka katakan. Seharusnya aku lega, tapi sebaliknya, aku takut.
Seperti yang pernah aku ceritakan, bapak pernah sakit dan kambuh. Dan parahnya, serumah tidak ada yang memberitahuku karena tidak ingin aku khawatir. Ya walaupun aku justru kepikiran sendiri karena perasaanku tidak enak dan tidak karuan.
And now I'm scared that it may be the same thing. Astagfirullahaladzim.. Jangan ya, Tuhan. Semoga bukan apa-apa. Berkahi dan jaga mereka. Semoga orang-orang yang aku sayang selalu ada di lindunganMu, ya Allah..
Makanya aku mau minta maaf dulu aku kemarin-kemarin hilang. Habis kuliah langsung pergi, habis bikin tugas langsung hilang, pawai DIES absen, malam DIES juga absen, HP nggak dibawa-bawa jadi susah dihubungi.
I just need to be with myself, to be alone, to clear my mind. Jatuhnya kayak ansos memang. Mau bagaimana lagi, kalau aku di keramaian tapi pikirannya masih begini ujung-ujungnya malah murung sendiri, kalau parah malah jadi emosi, bawaannya pengen ngomel ke semua orang. Maaf yah, Cindy, Nabil, Fetra, Yoga, Tria, Stella, Nanda, serta teman-teman MA yang tadi malam rame-rame DIES (btw, dirgahayu ke-54 HIMATIKA ITB. Jaya dan berkarya selaluu). Sama manusia yang lagi jauh disana, sorry I didn't contact you first, takut ganggu, jaga diri dan cepat pulang ya..
Now I feel better. Masih nggak enak sih perasaannya tapi mending kok.
Bismillahirrahmanirrahim.. Semoga besok-besok lebih baik dan semoga ini semua bukan firasat atau pertanda aneh-aneh. Amin..
Minggu, 01 Juni 2014
Upaya Mengharumkan Almamater
| Seneng itu saat kebagian kamar yang executive. Pemandangannya okee :D |
| We can see the sun rise from our window :D |
| Beautiful view when the night comes |
| Big mirror in front of the lifts, makes me want to take a selfie -_- |
| Hai, Laksamana! We are ITB team :) |
| Dan akhirnya untuk pertama kalinya masuk lawang sewu *kemaneaje |
| Udah seneng ngeliat aneh-aneh di foto, eh mas Afif -_- |
| Satu-kosong-satu itu nomor kami, Matematik |
| Usaha kita nggak sia-sia kawan. Alhamdulillah juara umum (y) |
| Bakti kami untukmu, Tuhan, bangsa dan almamater. Merdeka! |
| Nunggu kereta? Mending nonton orang mancing di depan stasiun |
| Nunggu kereta? Ngapain? Mending karaokean |
Rabu, 20 Februari 2013
Some Old Friends, Some Old Memories
Beberapa saat yang lalu, seorang sahabat lama bercerita kepadaku (sepertinya kali ini tidak perlu sebut nama, setahuku dia orang yang tidak suka diekspos, walaupun sepertinya seiring tulisan ini dibaca, identitasnya akan semakin terkuak).
Karena aku malas menarasikannya, let's just write down a part of our conversation..
friend : "Dulu aku pernah cerita kan kalau dalam memperoleh suatu tujuan sebenarnya yang penting
bukanlah tercapainya tujuan tersebut namun prosesnya.
Nah, ketika aku SMP aku memahami betapa pentingnya kejujuran dalam kehidupan ini especially
dalam memperoleh nilai (saat itu aku masih nilai oriented). Saat itu aku masih berfikiran sempit,
bahkan cenderung jahat.
Aku memandang teman-teman yang kurang mampu dalam pelajaran (nilainya kurang memuaskan)
kurang melakukan usaha, mereka tidak mengeluarkan seluruh daya dan upaya mereka.
Apalagi kebanyakan dari mereka menggunakan alasan tersebut sebagai pembelaan terhadap
ketidakjujuran (mencontek)"
me : "Then?"
friend : "Hal itu semakin membuat aku tidak simpati terhadap mereka.
Ketika SMA aku terhenyak ketika melihat betapa kerasnya usaha salah satu teman kita.
Then, aku menyadari satu lagi dari makna proses. Melakukan yang terbaik.
Nah, baru-baru ini, aku mengingat kebiasaan kalian di asrama, laskar cumi-cumi.
(jeda agak lama)
friend : "Tiki yang tiap aku bangun atau mau bobo lagi habis subuhan, sudah duduk manis di atas kasurnya
berduaan sama campbel sambil mainin poninya.
Lala yang baca buku habis keramas dengan handuk untuk ngeringin rambut,lala dengan
post-it2nya.
Yuyun yang main dan menghibur di setiap suasana dan ketika udah serius langsung cespleng
belajarnya nyampe pagi.. yuyun yang mampu menyampaikan pikirannya dan mengajarkannya pada
teman-teman dengan bahasa yang mudah dan menyenangkan.
Nabiling yang semangat belajarnya luar biasa, anak ajaib.
me : "terus aku malah jadi pengen nangis bacanya fal "
friend : "Dian yang idealismenya jempol dah, dipegang dengan kuat. belajar biologi tidak dengan menghafal
tapi dianggap sebagai pengetahuan. dian yang bikin aku terkesan ketiak ia pertama kali datang
ke SMA, buku langsung jadi kawan, fokus membayar waktu yang terlewat..
Lekg yang dengan tekunnya membaca, meringkas sampe satu buku, yang pas bukunya ilang
nyarinya sampe muter-muter. Lekg, yang belajarnya luar biasa kuat, sampe larut bahkan,
dan bangun pagi.
Melinda, yang kasurnya berantakan dengan buku, tapi tulisannya bagus. Lagi-lagi dia adalah
orang yang tekun, mengayomi adik-adik kelas. mengejar kesempatan OSP sampe ke solo
bahkan walau ia ditolak.
Sekar yang pada akhirnya harus berjuang di medan lain, project, tentunya dengan awalan air mata.
Meli yang tekuuuun.
Ira yang mengayomi.."
friend : "Ya intinya itu adalah memori kita di masa muda. kerja keras kita. Tentang cita-cita, impian, dan
bagaimana kita bisa bertahan. itulah salah satu memori kita, mengisi masa muda.
karna sukses itu tidaklah instan, tapi dimulai dari masa muda.
friend : "Aaa, maaf gea! gea yang luar biasa. Melakukan semuanya dengan maksimal.
As perfect as possible."
friend : " Mari kembali..
Karna sukses itu tidaklah instan, tapi dimulai dari masa muda.
Let's see habibie, SBY, mereka mengisi waktu mereka dengan hal-hal yang bermanfaat
dan membangun."
me : "Dan semoga kita juga bisa seperti beliau berdua ^^ but, there's someone left.."
friend : "Dan begitu juga kalian, kita, laskar cumi-cumi waktu itu.
Karna waktu kita sangat berharga. Karna masa muda adalah masa yang krusial.
Ini makna proses baru yang aku temukan. kerja keras. Memanfaatkan waktu. Mengisi masa muda.
Sudah dian, makasih dah mau baca..kangen kalian.. peluk cium
what is that?"
me: : " Kangen kamu jugaaaaaaaaaaaaa.
di laskar cumi-cumi. "
friend : "Bentar biarkan aku mengingat.
. . . . .
elthaaaa!
Ya, dia orang pertama yang cerita tentang tentang kehidupan pribadinya ke aku. Orang yang
usahanya luar biasa, bela-belain privat sama dosen. Competitive. Pemikiran yang tak terduga.
Teriakannya yang memecah kesunyian kamar 2 "terlentang, tengkurep"
partner-partner yang begitu bersemangat. merasa aku tak bekerja sekeras dulu.."
tambah males, tambah nggak serius.
mungkin faktor lingkungan yang bikin kita semua kayak gini.
Tapi, kalo ngobrol kayk gini, semangatku jadi balik lagi nih, let's do our best..
more than we used to... :D :D :D "
Dan seperti biasa, pembicaraan kami selalu ditutup dengan saling menyemangati dan saling mendoakan.
She's a good friend. Teman paling lurus yang pernah aku punya mungkin. Bahkan dulu aku dan teman-temanku selalu berkata , "Suatu saat nanti aku yakin, dia pasti dapet suami yang soleh, baik, pinter,
perfect lah" (diaminin yaaa). Dan berbicara dengannya selalu meringankan beban.
Thanks God for giving me a friend like this one. She's really coooooollll.
Jadi dokter yang bener ya, kawan, biar aku bangga.. wuhuhuhu.
You all too, laskar cumi-cumi.. Semoga sukses dengan jalan masing-masing, asik..
Udahan ah, menye nih kalo baca ini, hahaha. Night all...
Selasa, 19 Februari 2013
'Pacar' dalam Kamusku
Pacar? Kata yang pasti familiar untuk setiap orang. Masalahnya, meskipun familiar, belum tentu semua orang pernah memilikinya #ups .Sengaja sih, nyindir para jomblo #nggak tau diri
Kenapa aku tiba-tiba menulis tentang pacar?
Karena tiba-tiba aku teringat kejadian tahun lalu saat aku TPB.
Saat itu aku berjalan-jalan dengan ibuku (suasana liburan).
Di tengah-tengah perjalanan, entah ada angin apa, ibu berkata, "nduk, nek saiki arep pacaran wes ra popo" (nduk,kalo sekarang mau pacaran udah boleh).
Langsung dong aku mengernyitkan dahi. Iyeu teh si ibu kunaon?
Bisa tebak seperti apa responku?
Dengan ekspresi datar seperti biasa, aku jawab, "mmm, ngko lah bu, gampang, nek wes jodo ben teka dhewe" (mmm, nanti deh bu, gampang, kalo udah jodoh juga datang sendiri).
Ibu pun hanya mengangguk-angguk dengan ekspresi yang sangat terbaca (yaudah deh terserah kamu).
Aku paham maksud ibuku. Mungkin beliau hanya sedikit khawatir.
Dalam satu hal ini aku jauh berbeda dari ibu dan mbakku.
Ibuku jaman muda entah berapa kali pacaran (banyak yang jelas).
Mbakku? Dari kelas 2 SMP dia juga sudah punya pacar dan aku pun tidak tahu berapa kali ganti (ini bahkan lebih banyak dari ibu). Dari yang selisih sekian tahun di atas sampai sekian tahun di bawah, semua sudah mbakku lalui (berasa naon kitu nyak?)
Aku? Boro-boro berapa kali, pernah aja kagak, hahaha (ini ngakak beneran, nggak bohong)
Pacar, atau apalah itu yang biasa diawali dengan 'tembakan' dan diakhiri dengan 'putus' (aneh ya, kenapa tembak pasangannya putus?), untuk beberapa orang mungkin merupakan elemen penting untuk menjalani hidup.
Aku pun tidak memungkiri itu, sepanjang dengan pacaran kedua orang yang bersangkutan bisa saling mendukung, saling mengerti dan memberi solusi, kenapa tidak?
Aku sendiri bukan orang religius yang anti pacaran karena 'katanya' banyak mudaratnya.
Untukku, semua kembali ke masing-masing pribadi.
Suatu hal yang jelek di mata orang, jika dikemas dan dilakukan dalam hal, waktu dan tempat yang sesuai, jelas dia tidak akan menjadi 'mudarat'. Jadi, itu masalah persepsi juga..
Kalau bukan anti lalu kenapa tidak mencoba?
Hmmmm, pengen sih. Nggak ding, hahaha.
Kenapa ya? Aku juga sebenarnya bingung #piye jal?
Yang jelas ada berbagai hal yang mendukungku untuk 'belum' menjalin status dengan orang (belum berarti akan kok #amin deh amin)
Aku bukan tipe cewek yang diidamkan cowok.
Katanya, cowok itu butuh sosok cewek yang bisa menenangkan, perhatian, dsb. Aku? Bahkan jauh dari kata perhatian.
Semua orang yang mengenalku tahu super cueknya aku, seberapa introvert-nya aku (bukan introvert ding, hanya lebih suka menyendiri, salah sendiri orang-orang marmos), kurang peka, suka tidur, aneh, kerjaannya ngemil, nggak bisa dandan, nggak bisa masak (cewek nggak sih sebenernya?).
Tapi, sejelek apapun sifat-sifat itu, aku selalu senang menjadi diriku sendiri. I love myself, the way I am..
Dan aku tidak suka jika ada orang yang berusaha mengubahku.
Aku bisa berubah, jika memang sudah saatnya aku berubah.
Aku dulu tomboy (bukannya sekarang masih?), anti pakaian feminin, anti make-up, anti pilih-pilih baju. Seiring umur bertambah, ada waktunya aku menjadi remaja yang memang sudah waktunya untuk menjadi 'cewek'. Dan saat waktunya tiba, aku berubah perlahan dengan sendirinya.
Aku hanya butuh waktu, aku akan menyadari seperti apa seharusnya aku dan aku bisa meng-handle itu semua.
Sayangnya, cowok yang bisa mengerti cewek seperti ini memang tidak banyak.
Kalau pun ada, belum tentu dia bisa bertahan menghadapi super cueknya aku, salah-salah akhirnya dia kepincut cewek lain (curhat dikit yak, hahahaha)
Alasan pendukung yang lain?
Mmm, buat aku pacaran bukan mainan, bukan sekedar suka-sukaan. Kalau bosen, putus, cari pacar baru lagi.
Kalau hidup seperti itu terus-terusan, kapan mau nikah? (sabar ya, mbak #eh #adikkurangajar)
Lebih baik tidak terlalu sering tapi langgeng kan?
Lagipula, aku bukan orang yang bisa dengan mudah melupakan orang yang pernah ada dalam keseharianku.
Kalau pun sudah bisa, susah membuka hati lagi kalo kata Riris, adik kelasku.
Ada lagi?
Aku tidak suka membuat orang lain tidak nyaman (kecuali aku benci orangnya :p)
Aku tahu sifat super cuek ini cenderung tidak baik untuk orang lain, lebih-lebih jika orang tersebut punya hubungan lebih dekat denganku.
Bisa jadi dia justru menahan sakit hati sendiri karena merasa tidak diperhatikan.
That's why I choose to be more independent, to be alone.
Lebih baik menyendiri kan daripada membuat suasana di keramaian menjadi tidak nyaman? :D
Walaupun banyak yang salah mengira aku introvert, aku malah nyaman dengan hal ini (tu kan aneh)
Lagipula aku tidak introvert, buktinya aku kenal dengan semua teman seangkatanku.
Dan buktinya juga, aku bisa menjadi tukang ngelawak saat aku berkumpul dengan sohib-sohibku.
Orang tuaku sangat paham dengan segala pribadiku ini.
Hebatnya, beliau tidak pernah melarang, menyuruh, atau mengomentariku.
Beliau berdua selalu berkata, anak-anak sudah besar dan tahu apa yang mereka lakukan.
Kalau sampai beliau berdua marah atau menegurku, itu berarti aku yang sudah keterlaluan.
Aduuuuh, syukur alhamdulillah ya Allah punya bapak-ibu kayak gini. Hohoho..
Tenang, pak, bu, insya Allah beberapa tahun lagi ada yang main ke rumah kok #ekspektasi, jiahahaha.
Kata orang, jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kalau kamu tidak mengambilnya bagaimana jodoh akan jatuh ke tanganmu?
Kataku, jodoh di tangan Tuhan, masa depan juga di tangan Tuhan.
Tinggal pilih mana yang lebih mendesak untuk dilakukan.
Kalau masa depan memang lebih mendesak, ambil masa depan dulu.
Toh Tuhan tidak sejahat itu membatalkan jodoh yang sudah seharusnya untukmu, iya nggak, Tuhan #wink
Senin, 15 Oktober 2012
Akhirnya ke Bogor Juga
Lanjut deh yaa.. Ngapain sih jauh-jauh ke Bogor? Jadi, ceritanya IPB ngadain lomba matematika. Terus, pada hari Sabtu 6 Oktober 2012, mbak Ita (itu lho, yang kakak kelasku dari SMP) pengen ikut tapi nggak ada partner. Then, diajak deh akunya.. Mengingat
1. Aku belum pernah ke Bogor
2. Lama nggak ikutan lomba
3. Pengen jalan-jalan
4. GRATIS! (sebenarnya ini alasan utama)
Alhasil aku mau ikutan dongs :3 (maklum yak, anak kos nih)
Tapi semua berubah sejak kelas Analisis Data hari Selasa kemarin. Why? Si ibu bilang Sabtu ada UTS. Lhaik kowe, yan. Nggak berubah juga sih aslinya. Orang aku dengan senang hati bolos malah. Habis aku nggak suka Andat sih #eh
Jumat, 21 September 2012
Sahabat Dulu, Kini, Nanti dan Selamanya
| Mars PDA gambar jaman alay a.k.a jaman SMP |
Belum ada yang bisa menandingi mereka yang inisial namanya tertulis di gambar itu. Merekalah sahabatku.. Sahabat sejak kami masih polos dan berkutat dengan obrolan-obrolan kurang jelas, sampai sekarang ketika pemikiran dewasa telah melekat di kepala kami masing-masing.
Mereka penyemangatku berangkat ke sekolah. Kenapa? Aku bahkan juga bingung.. Satu hal yang jelas, sesedih apa pun aku, segalau apa pun hatiku, saat aku bertemu mereka, ada-ada saja hal yang bisa kami tertawakan. Dan itu adalah bentuk hiburan paling ampuh untukku.
Thanks guys, love you always ^^
Minggu, 05 Februari 2012
5 Februari 2007
Karena di hari itu semuanya bermula.
5 Februari 2007 bertempat di gedung LPMP Jateng. Pertama kalinya saya meninggalkan rumah untuk suatu kepentingan dalam beberapa hari dan tidak ada satu orang pun yang saya kenal sebelumnya. Hanya bermodal 'mau belajar' dan saya bisa melewati saat yang sebelumnya saya pikir menakutkan menjadi saat yang sangat menyenangkan.
Saat itu merupakan saat-saat penting dalam hidup saya karena dari sana saya mulai menemukan keyakinan diri saya sendiri. Mulai mengerti bahwa orang yang direndahkan itu tidak selalu kalah, justru ia memiliki peluang lebih untuk mendorong dirinya agar lebih kuat. Dan dari sana pula saya mengenal orang-orang hebat yang membantu saya hingga bisa menjadi seperti ini. Dosen-dosen yang mungkin jika dibandingkan dengan dosen-dosen lain di Indonesia, mereka tidak akan terlihat gemilang tapi yang jelas mereka gemilang di mata saya. Karena mereka mengajarkan banyak hal dan memberikan support yang luar biasa. Pak Bambang, Pak Susilo, Pak Farikhin (yang super jenius), Pak Agus, Bu Widowati, Pak Mukid, Pak Suryoto, dan dosen-dosen Undip lain yang terlalu banyak untuk saya sebutkan. Terima kasih atas bimbingan Anda sekalian.. :)
Selain dosen-dosen yang baik tadi, tentu saja ada teman-teman yang membuat saya selalu merindukan








