Kadang hidup seperti 'soft breeze', namun hidup juga bisa berubah menjadi 'harsh storm', hanya dirimu sendirilah yang bisa menentukannya :) Keep smiling to face your complex world easier !
Selasa, 23 Juni 2020
The Trigger
Terhitung 6 bulan sejak tulisan terakhir. Kemajuan berarti ya? Kan belum sampe setahun :D
How's my life? It's hard but still good in many ways.
Akhir tahun lalu, pas aku nulis post terakhir, aku bilang aku udah baik-baik aja kan?
Ya memang iya sih, udah baik-baik aja.
Tapi sejujurnya, masih ada yang mengganjal waktu itu.
Kayak masih ada sebagian kecil perasaan nggak terima, karena aku belum tahu penyebab masalahku apa, dan aku butuh tahu.
Jenuh doang nggak mungkin se-powerful itu sampai breaking me down like scattered glass (anjay kayak lagu).
Jadi aku terus berusaha cari tahu, tanya sana-sini, konsul sana-sini.
Kamis, 19 Oktober 2017
Pekerjaan dan Pilihan
Hmm, kadang saya bingung mau isi blog ini dengan apa.
Karena faktanya, kehidupan pasca kuliah itu monoton sekali.
Yang lanjut kuliah ya gitu-gitu aja, thesis lagi, dosen lagi, ujian lagi.
Yang kerja ya kaya gitu, proyek lagi, lembur lagi, escape buat liburan, ketemu senin lagi.
Yang freelance juga, hectic kerja, terus kosong lama, hectic lagi.
Apalagi yang pengangguran, pusing cari kerja tiap hari, dinyinyirin pula.
Oiya, btw, ngomongin kerja nih.
Di post sebelum ini saya nulis sesuatu.
Yang cukup meresahkan beberapa teman.
Karena ngga lama setelah itu jadi pada tanya kabar saya.
Tapi terlepas dari puisi yang kadang saya buat karena iseng,
that time I wrote it based on my situation.
Ngga exactly 'that time' sih situasinya, tapi beberapa waktu sebelum itu.
Saya pernah nulis tentang keluarga saya yang sering dinyinyiri karena status saya yang tidak bekerja.
Saya pengen ralat itu sebenernya.
Selasa, 30 Mei 2017
Dunia yang Sempit
Bukan, bukan baper atau kebelet pengen. Karena sedang masa-masanya banyak yang nikah saja (sampai bingung kalau mau kondangan soalnya banyak ini undangannya).
Kali ini saya ingin bercerita tentang beberapa teman saya yang sudah menikah. Teman olimpiade dulu lebih tepatnya.
Selasa, 21 Juni 2016
...
Pas beres-beres gantungan kunci pas lagunya 5 Seconds of Summer, Amnesia,
"It's hurt to hear your name when I haven't seen you in so long.
It's like we're never happened, was it just a lie?
If what we had was real, how could you be fine?
'Cause I'm not fine at all.."
Terus lihat gantungan kunci. Terus baper.
Tetap mencoba cari pengalih perhatian, terus nemu ini, pas lagunya Shawn Mendes mulai.
"Cause even after all this time I still wonder why I can't move on
Just the way you did so easily"
Anjay. Baper lagi.
Merasa tersindir. Eh. Nggak ding.
Definisi move on buatku, yang penting tidak berlama-lama dalam kesusahan. Yang penting, mau tertawa, mau berusaha lagi, mau jadi berjalan maju pokoknya, bukan diam di tempat. So, yes, I'm moving on.
Pencet-pencet next. Lagunya malah semakin kacau. Kampret.
Akhirnya music player ditutup.
Hening. Lihat boneka itu. Sedih. Heu :(
Mau dibuang, sayang. Mau dibongkar, dulu bikinnya capek. Mau disimpan, buat apa.
Harusnya ini sudah bukan di lemariku, tapi di tempat seseorang. Seharusnya itu hadiah wisuda untuknya. Niat awalnya mau sok-sok surprise tiba-tiba nongol pas wisudaan, eh malah akunya mendadak ada ujian. Batal deh semuanya.
Seharusnya tinggalah seharusnya. Apalah arti seharusnya jika enggan berganti menjadi faktanya (weiisss).
Waktu berlalu terlalu cepat sepertinya. Seenaknya mengganti adegan demi adegan yang terjadi. Diputarbalik. Dicampuraduk. Dipontangpanting. Dibalikin lagi. Dan manusia yang merasa jadi korban, hanya bisa ikut alur. Nangis. Berdiri lagi. Tertawa. Nangis lagi.
Hari ini mungkin hidupmu rasanya baik-baik saja. Tapi tidak ada yang bisa menebak esok-lusa akan jadi seperti apa.
Dan bodohnya aku yang unaware dengan ini semua. Sok-sok positive thinking, merasa semuanya undercontrol, semuanya baik-baik saja.
Hingga akhirnya aku sadar, dia yang dulu kerapkali berkata, "Jangan pergi", dia juga yang perlahan menghindar, menjauh, dan akhirnya menghilang. Meninggalkan tanya, juga koma, yang jelas bukan titik.
Masih berusaha kuat, I'm keep telling myself that everything is fine, I'm okay..
Don't ever ask me whether I'm really that strong or just pretend.
Jawabannya, bila kau pikir aku sekuat itu, 24/7 aku bahagia.. (really like this song)
Nggak sekuat itu sih, tapi setidaknya cobalah berbahagia.
Nangis sih, tapi ya jangan keseringan.
Sedih sih, tapi jangan kebablasan jadi sedih-sedih banget.
Hidupku tidak semerana itu.
Beberapa waktu lalu, aku mendengar kabar tentangnya. Entah benar atau hanya selentingan. Aku tidak mampu menanyakan kebenarannya.
Bagaimana bisa jika dia menjaga jarak sejauh itu.
Sedih? Pasti. Lalu apa? Entah. Toh, aku juga tidak bisa berbuat banyak.
Sejak dulu, aku tidak berani berharap terlalu tinggi. Menduga bahwa pasti 'ada' yang akan terjadi.
Berusaha membangun benteng lagi dan bersiap sakit hati. Tetap saja tidak kusangka akan sesakit ini.
Patah hati sesakit ini ya, Tuhan? (entutmu ah, Yan)
Aku masih berharap mendapat jawaban atas semuanya. Karena selalu ada alasan atas semua tindakan.
Kalau tidak, setidaknya aku ingin titip pesan, jika mungkin terbaca olehnya.
Kalau ada sebesit keinginan untuk datang lagi, datanglah dan jangan pergi lagi.
Sebaliknya, kalau sudah tetap hati untuk pergi, pergilah dan jangan datang lagi.
Aduh, sudah, Dian, jangan ngarep, jelas-jelas yang dipilih yang kedua. Hahaha. Ya, intinya, jangan buat emosiku labil. Aku juga pengen kali totalitas moveon-nya.
Tapi terlepas dari itu semua, dia tetap temanku. Setidaknya aku menganggap demikian.
Jadi, kalau memang jadi menikah, kabar-kabarilah teman yang satu ini.
Kabari aja, jangan diundang. Nggak akan dateng ini mah. Hahahaha.
Daripada ada disana tapi aku cuma bisa meradang..menjadi yang di sisimu (njuk malah nyanyi, pret).
Once again, I'm okay.. Sedih memang, tapi masih batas wajar. So, everyone, don't worry about me yaa..
Dia pernah bilang, aku berhak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari dia.
Aku harap demikian. Semoga dipertemukan dengan yang lebih baik.
Semoga kami bisa dengan baik-baik,
menjalani hidup kami,
masing-masing..
Sabtu, 11 Juni 2016
Hei :)
It's me
I was wondering if..
Stop, stop. Nanti kebablasan satu lagu ditulis liriknya.
Lama tak berjumpa ya? Setengah tahun lho. Luar biasa memang saya -.- Nanti aku akan cerita kok kenapa 6 bulan terakhir ini "ngilang". Be patient, guys. Yang penting muncul dulu biar eksis (naon maneh, Yan?)
Oke. Ini 2016. Berikut ucapan-ucapan yang mungkin terlalu terlambat untuk diucapkan sekarang. Lha yo ben. Blog blog-ku yo karepku tak isi opo. Hahaha
"Selamat tahun baru 2016, semoga tahun ini menyenangkan"
"Selamat hari lahir yang ke-23, Dian Sito Rukmi. Be a better girl, Day. Don't cry too much, don't think too much, keep strong, be patient, just step forward and go as far as you can"
"Selamat menikmati pekerjaan baru di tempat baru, Mbak-ku sayang, eh kurang, selamat pacarnya juga baru lagi. Hahaha"
"Selamat Tim OSN SMA Jateng, khususnya tim Matematika. Proud of you, boys. Kece ih kalian"
Dan yang cukup up to date
"Selamat belajar di Jawa, keponakanku, Miftahul Sifa. Jangan nakal-nakal nanti dikirim pulang ke Riau tahu rasa dirimu"
"Selamat menjalankan puasa semuanya. Alhamdulillah masih bisa menikmati Ramadan kembali. Semoga imannya dan pahalanya bertambah banyaaaak. Aamiin"
"Selamat ya, tinggal 1,5 bulan lagi tuntaslah segala pengobatan ini. Yang sehat, yang sehat.."
Udahan ya, bahaya kalau telat bangun sahur. Good night !!
Jumat, 23 Oktober 2015
Tutup Buku
Bukan pula rima yang menentukan nilai estetika.
Ada yang tersirat di balik rimbunan huruf dan spasi.
Tak berpola, namun sarat makna.
Hanya terasa oleh segelintir insan yang tenggelam menyepi, terlambungkan mimpi, terhunus kenangan pilu, atau tersayat bilah-bilah rindu.
Lembaran buku ini tak penuh terisi.
Pernah ku isi sebentar, lalu ku tutup kembali.
Ku akhiri dengan sebuah titik tanpa spasi.
Berharap mampu membuka buku lain, mengisinya dengan hal yang lebih ceria, lebih berwarna.
Berbagai tulisan terukir, warna tertoreh, sketsa tergambar pada lembaran-lembaran yang terkotak-kotakkan dalam bukuku.
Selalu berusaha mengakhiri satu cerita dengan titik tanpa spasi.
Yang lalu biarlah berlalu, harapku.
Suatu ketika, ku tuliskan seuntai frasa pada sehelai lembar kosong.
Bukan buku baru.
Ini buku usang.
Yang lembarnya kembali ku isi.
Pada paragraf berbeda dan lembar berbeda.
Tak banyak tinta ku goreskan pada lembaran ini.
Kertasnya terlalu kasar, membuat aus ujung penaku.
Memaksanya berhenti.
Pada suatu titik tanpa spasi.
Buku itu ku tutup kembali.
Jikalau harus terisi, semoga tak ada lagi pena yang terlukai.
Waktu berlalu, jemari ini tak henti menari.
Semakin banyak dongeng tercipta, dengan taburan karakter bermacam rupa.
Andai bisa memilih, aku pilih tumpukan buku baru untuk ku isi dengan jutaan kisah yang ingin ku narasikan.
Namun ada yang menarikku kembali.
Ke sebuah buku usang yang pernah ku coba akhiri.
Hendak ku goreskan lembarnya dengan pulpen biasa, tapi tak bisa.
Harus pena yang sama.
Meski curiga cerita ini akan kembali terhenti tiba-tiba, tangan ini tetap bekerja.
Karena ada sesuatu yang terasa, entah apa, sesuatu yang bersembunyi di balik aksara.
Lalu ia terhenti di sebuah koma, dengan spasi, tak diteruskan, pun enggan diselesaikan.
Penaku tak lagi berguna, ia terlanjur luka.
Andai mampu, ingin ku akhiri tulisanku.
Pada sebuah titik.
Tanpa spasi. Tanpa lembar berikutnya.
Agar tak lagi ada cerita, tak lagi ada luka.
Tak mengapa.
Koma tak selalu berarti jeda.
Titik pun tak melulu berhasil mengakhiri.
Untuk sekian kali, buku ini aku tutup lagi.
Semoga tak ada yang menarikku kembali.
Penaku terlanjur rusak, sudah tak bisa kulanjutkan tulisanku.
Kalaupun penaku mampu, mungkin aku tak mau.
Buku ini ku tutup.
Usanglah..
Biar sisa lembarnya habis termakan waktu.
Dan ku lanjutkan tulisanku di buku yang baru,
lembaran baru,
dengan pena yang baru..
Selasa, 22 September 2015
Halaman Favorit
Satu halaman yang isinya lebih mewakili kehidupan selama belasan tahun daripada puluhan halaman berikutnya yang merupakan hasil kerja 2 semester terakhir.
Satu halaman yang 2 baris pertamanya merupakan motto hidup yang pertama dikenal. Tanpa tahu quotes siapa. Tanpa tahu bagaimana bunyi aslinya. Hanya tahu bahwa, bapak yang memperkenalkan ini dalam kehidupanku, kehidupan kami.
Jangan protes soal 6 baris terakhir. Memang sengaja ditulis. Oleh diri sendiri, untuk diri sendiri.
Sekali-kali eksis di buku tidak masalah bukan? Toh, buku buatan sendiri :D
Jumat, 14 Agustus 2015
...
Di jalanan ini,
mungkin nanti aku kembali berjalan sendiri
Entah kau mendadak berhenti
Entah kau akan mendahului
Entah kau memilih berbelok ke kiri
Dan entah kapan waktunya,
entah di perempatan yang mana
aku kemudian bisa menatapmu lagi
Satu hal yang harus kita sadari,
selagi masih berjalan bersama
seharusnya kita lupakan luka dan mencoba bahagia
Tanpa menduga-duga apakah langkah kita 'kan tetap seirama
Senin, 03 Agustus 2015
Kabut
Lenyapkan kabut-kabut maut
Menindih perih luka dengan lembaran tawa
Berharap bahagia sudi mendampingi
Tapi apa?
Kabut kembali di kala remang
Pekat menikam mata
Membutakan pandang
Melumpuhkan angan
Memaksa diam
Hingga tenggelam
Lalu hilang
Tanpa dikenang.
Jumat, 12 Juni 2015
Masih Kuat? Masih :)
I don't know, it seems like many things are not going well this year.
2015 baru berjalan setengahnya tapi sudah banyak keluh dan air mata keluar. Hmm..
Kabar baiknya adalah, 4 dari 7 wakil Indonesia tahun ini merupakan anak ITB (yeah, sekali-kali arogansi) dan meskipun aku tidak bisa menebak apa yang terjadi nanti, aku optimis ITB akan membawa setidaknya second prize nantinya (amiin insya Allah).
Semangat Kahfi, Ucup, Brilly, Afif..
Terutama 2 sohib ini, Brilly dan Mas Apip. Get your best, guys :D
Habis itu, seperti rencana, kita wisuda bareng-bareng (masih lama sih Oktober).
Kembali ke tahun ini. Tahun yang hmm.. Entahlah.. Semester ini kacau sekali (as I wrote before).
Kesehatanku juga kacau sekali, semester ini semester paling banyak bolos karena sakit dan sakitnya tidak seringan biasanya. Alhamdulillah sekarang baik-baik saja, aku lebih jaga diri deh biar nggak kumat-kumat lagi.
Dan semester ini juga semester paling galau, galau soal masa depan tentunya.
Kerja dulu? Tapi mau daftar kemana? Dimana-mana yang diincar statistik dan keuangan. Da aku mah anti dua-duanya *lemah*.
S2 dulu? Memang mau lanjut kemana? Ambil apa?
Atau nganggur dulu? Tapi aku butuh pemasukan..
Alhasil, TA nya dipelan-pelanin sembari mencari titik terang (ampun pak dosbing, ampun, bapak jangan susah-susah ditemui ya pak meskipun sudah jadi dekan *ciyee* ).
Bicara tentang tahun ini dan hal-hal yang 'hmm' ini pasti tidak akan lepas dari menangis.
Well, I cried. Again and again. Terakhir ya tanggal 7 itu, sampai tanggal 8 sepertinya. Kalau masalah 'tidak lolos' nya sih aku sudah legowo. 7 manusia terpilih itu memang kemampuannya di atasku, jadi aku sadar diri. Makanya nangisnya bukan setelah pengumuman banget. Melainkan beberapa jam kemudian. Setelah telpon rumah dan packing barang-barang. Kebetulan di antara peserta seleksi memang hanya ada satu perempuan, jadi aku sendirian di kamar. Nyesek dikit, melow dikit, langsung nangis.
Kenapa nyesek? Ya nyesek aja sadar mimpi yang dipendam bertahun-tahun pada akhirnya tidak tergapai juga meski sudah berusaha hingga kesempatan terakhir.
Bertahun-tahun kuliah, coba kompetisi sana-sini, medali aja nggak pernah dapet.
Ditambah lagi adek mau masuk SMA, kalau biaya kurang nggak ada jaga-jaga nih hehehe (duit mulu pikirannya).
Mana aku masih merasa masa depanku suram kan? Nah loh, numpuk numpuk numpuk, nangis deh.
Dan ini memecah rekor terlama aku menangis. 2,5 jam. Wow. Dari 23.00-an sampai 01.30-an.
Keren ya? Sembab sembab sono. Untung paginya pulang dari hotel diantar Brilly, ketutup helm. Coba naik angkot? Kan malu sama ibu-ibu yang seangkot (ya bisa jadi teteh-teteh atau bapak-bapak juga ding).
Dan sekarang aku di rumah. Mau bercengkerama bersama orang-orang tercinta dulu. Sambil ngerjain TA kok, tenang saja. Kalau di Bandung aku agak nggak beres soalnya, males euy, tidur terus (kalau di rumah ada ibu yang omelin), boros lagi makanan serba mahal (di rumah makan gratis, jajan juga masih terjangkau).
Jadi, aku mengasingkan diri di rumah dulu ya sampai tanggal 22.
Anybody need to see me?
Tunggu tanggal 23, aku available di Bandung, atau kalau mau sih sini ke rumah, aku available di rumah sebelum tanggal itu :)
Tahun ini berat. Tahun ini membingungkan. Tapi aku punya pilihan apa selain berusaha melewati semuanya dan menganggap semua baik-baik saja?
Sudah lelah menangis, sudah lelah minum obat terus, sudah lelah merasa nggak ada teman berbagi.
Saatnya cengingisan dan haha hihi lagi.
Dian sehat. Dian kuat. Dian mandiri.
Semangaaaat !!
Minggu, 24 Mei 2015
It Was Your Birthday, Right?
Bagiku kau seperti bayangan.
Meski seringkali lenyap dalam gelap, namun hadirmu buatku yakin aku tak sendiri di tengah teriknya hari
Happy birthday, Big Boy.. Maaf terlambat.
Semoga umurnya diberkahi Allah, urusannya dilancarkan, dan tetap jadi orang baik hati, amiin.
Wherever you are, whatever you do, jangan lupa makan, jangan lupa istirahat, jangan lupa ibadah dan jangan lupa kabari orang tua.
Hey, kau, satu-satunya orang yang bisa mengalahkan gengsiku (meski tidak selalu), aku hanya ingin menutup pesan ini dengan.. Aku kangen, dan aku masih disini masih menunggumu :)
Sabtu, 16 Mei 2015
Sedih Tapi Kuat Kok
Di tulisanku sebelumnya, aku cerita tentang rasa malasku ngerjain TA dan upaya refreshing-nya yang cukup terhambat karena ada sedikit masalah hati *wejiaan*. Tapi serius, memang beneran bermasalah waktu itu.
Ceritanya akhir Februari, tanggal 20, aku berniat pulang menghabiskan weekend di rumah, sekalian ada acara keluarga. Sayangnya itu batal karena jadwal kegiatan yang tidak bersahabat. Jumat ada kuliah sore, Sabtu dan Minggu ada kegiatan wajib rutin beswan, Senin malam mengajar privat. Sedih sih. Akhirnya pas hari Kamis aku telpon rumah dan bilang bahwa aku batal pulang. Orang rumah biasa saja, tidak ada masalah. Masalahnya di minggu depannya..
Seminggu kemudian, aku tidak menelepon rumah, tepar karena pulang kemalaman. Jumatnya, bertepatan di tanggal lahirku, bangun-bangun aku buka HP, berharap ada 2 pesan disana, ibu dan mbak. Aku kan hanya butuh tahu bahwa ibu ingat hari ulang tahunku. Tapi, nihil.. Sedihnya tambah. Ya sudah, dengan agak malas siangnya aku ke kampus. Di kampus ternyata si emak (Cindy) nyariin, akhirnya dia dan AK (Akmal juga dihitung deh) nyamperin sebelum aku masuk kelas cuma buat bilang happy birthday dan nyuruh aku ketemu mereka dulu sehabis kelas. Ternyata, Cindy masak puding dan ngajak makan berempat sehabis kelas. So sweet banget nggak sih anak satu ini. Terima kasih banyak pokoknya, you're my moodbooster that day. Mana habis itu waktu aku buka HP ada 2 pesan. Siapa lagi? Ibu dan mbak. Alhamdulillah, sedihnya hilang. Katanya ibu ngga sempat sms pagi-pagi. Agak heran sih, jarang-jarang ibu telat ngucapin. Tapi biar deh, yang penting ibu sms, udah lega.
Sore itu, aku juga ada kumpul dengan anak-anak Mathco mengingat sebentar lagi ganti kepengurusan. Dan ternyata ada yang beliin kue untukku dan seorang adik tingkat yang juga berulangtahun hari itu. Well, thanks, guys. Mathco yahud euy.
Sayangnya happy ini nggak bertahan lama. Malamnya, aku telepon rumah mengingat malam sebelumnya tepar. Awalnya pembicaraan kami biasa, tapi di akhir ibu bilang, "nduk mbok bali nek bisa", dan dengan alasan yang sama aku menjelaskan aku tidak bisa pulang. Tapi rasanya aneh. Saat aku tanya ada apa, ibu bilang, "yo ora popo, mung pengen dian bali, tapi nek nduk pancen ora bisa yo wes." Ditanya-tanya lagi pun jawabannya sama, tidak ada apa-apa. Habis salam telepon tutup. Nah kan, curiganya nambah. Pasti ada hubungannya dengan ibu yang tadi pagi nggak sempat sms. Ini pasti ada sesuatu yang ditutupi.
Akhirnya seperti biasa, aku berusaha men-distract diri sendiri, ngerjain ini-itu agar lupa walaupun sebentar. Eh, susah.. Malah tambah kepikiran. Dua hari kemudian semuanya memuncak. Pengen pulang tapi nggak bisa. Mau ngapa-ngapain nggak konsen. Mau cerita bingung sama siapa. Aku memang suka bercerita banyak hal, tapi kalau ada masalah apalagi tentang keluarga, aku sangat selektif memilih tempat bercerita. Lagipula, kalaupun ada tempat bercerita, aku bingung harus mulai darimana dan apa yang harus dikatakan. Jadi pada akhirnya malam itu aku hanya bisa menangis lama. Berharap keluargaku dilindungi dan semuanya baik-baik saja.
Esok paginya aku sudah mulai tenang walaupun mataku bengkak. Dan aku putuskan sms ibu, bilang kalau memang ada hal penting yang harus dilakukan, lakukan aja nggak perlu tunggu Dian, Dian bantu doa dari sini dan beliau hanya membalas "iya nduk". Walaupun belum plong tapi lebih lega.
Pada akhirnya selalu begini, seberat apapun itu aku masih kuat hadapi masalahku sendiri. Kalau sedang rapuh-rapuhnya selalu merasa butuh tempat luapan curhat, tapi lagi-lagi tembok kamar selalu cukup jadi tempat bercerita. Strong, Yan, strong!
Masuk bulan Maret, ada libur hari raya Nyepi, yang kebetulan jatuh di weekend. Bisa pulang juga nih :3 Sampai rumah aku dan keluargaku banyak bercerita. Ternyata memang ada sesuatu saat itu but that's okay now. Jadi, aku tidak perlu khawatir lagi :)
Btw, tadi banget, aku mimpi sedih. Aku mimpi ibu, bapak, dan mbakku nggak ada. Naudzubillah ya Allah, jangan dulu, aku masih sangat butuh mereka.
Dulu pas aku SD aku pernah bermimpi ibu nggak ada, bangun langsung nangis teriak-teriak panggil ibu, terus langsung berhenti pas ibu nyamperin ke kamar.
Pas SMP aku mimpi adikku nggak ada, nggak pake teriak sih tapi bantalku super basah dan bangun pun masih sesenggukan.
Beberapa minggu lalu aku mimpi bapak nggak ada, sama seperti saat mimpi adik, nangisnya dalam mimpi, jadi bangun tinggal sesenggukannya.
Nah yang tadi pagi parah. Bangun bantal sudah basah, ditambah masih nangis kebawa sedih, nangisnya bukan main pula, 40 menitan, sekitar sejam setelah bangun baru bisa tenang dan berpikir jernih. Aku takut beneran. Kalau kejadian kan aku nggak tahu harus gimana. Kuliahku belum selesai, adikku sebentar lagi masuk SMA, akunya juga pasti shock berat. Nggak kebayang gimana rasanya karena aku pasti tidak kuat tapi aku tidak bisa terus-terusan nangis apalagi di depan adikku. Kakak itu contoh buat adiknya, kalau aku begitu kan kasihan adikku. Makanya tadi nangisnya lamaaaa.. Jangan dulu, ya Allah. Lindungi keluargaku, amiin.
Ya sudah, ceritanya gitu. Kalau ngomongin keluarga bisa keterusan kalau nggak direm hahaha. See you in the next post :D
Selasa, 21 April 2015
Tampak, Bukan Sejati
Sejatinya selunak kapas
Tampaknya subur
Sejatinya tanah berlumpur
Tampaknya tenang
Sejatinya sembunyikan gelombang
Tampaknya tinggi
Sejatinya tak mampu berdiri
Tampaknya kokoh
Sejatinya nyaris roboh
Tampaknya kuat
Sejatinya hati tersayat
Tampaknya bahagia
Sejatinya lelah pada dunia
Tampaknya diam
Sejatinya jeritan terpendam
Tampaknya bersenandung
Sejatinya 'tuk tutupi mendung
Tampaknya aku
Sejatinya?
Minggu, 22 Maret 2015
Jauh
They said, people fall in love in mysterious way (and mysterious person). Dan kau, terlihat remang. Seperti kabut yang tak mampu ku sentuh. Selalu ada teka-teki yang menyelimutimu. Seringkali gagal ku terka, namun pada akhirnya terjawab meski harus bertahun-tahun ku tunggu jawabnya. Kali ini aku sama sekali tak mengerti.. Akankah kau singkap kabutmu? Atau tetap membisu membingungkanku? Aku tak keberatan kau diam. Akupun selalu memilih cara itu. Aku hanya berharap diam tak kan merenggutmu pergi (lagi).. Agar aku tak perlu membohongi diri bahwa aku baik-baik saja (lagi).
Sabtu, 07 Maret 2015
Semester Ini Semester Hmm
Niat awal 8 SKS, pada akhirnya 18 SKS, hahaha, jauh memang.
Kenapa bisa?
Awalnya karena ada isu-isu perihal mata kuliah wajib ITB yang 3 SKS, 1 SKS-nya tidak bisa dilempar ke jatah mata kuliah luar prodi. Jadi mau tidak mau, aku ambil salah satu mata kuliah luar 2 SKS, untuk antisipasi. Oke, sementara 10 SKS.
Yang 8 SKS?
Karena keisengan dan merasa butuh juga (butuh tau aja sebenernya mah), aku ambil salah satu mata kuliah tingkat 3, jadi kuliahnya sama adik tingkat biar berasa tetap muda (opo lho?). Jadi ya 14 SKS.
Masih ada 4 Day?Iya. Singkat cerita, waktu itu di grup angkatan ada teman yang cari peminat untuk mata kuliah tertentu, alasannya pendaftarnya hanya 4 orang jadi terancam bubar, padahal dia butuh mata kuliah itu. Nah, mengingat mata kuliahnya terlihat berguna untuk ONMIPA dan aku belum belajar dan dosennya favoritku dan dosennya juga suka menggambar (ora nyambung sithik ra popo ah), jadi aku ambil deh. Alhasil 18 SKS di tangan. Tapi selow aja, kuliah tetap harus santai ~
Untungnya, jadwal kuliahnya pas hari Selasa, Kamis, Jumat AJA. Uwoooo, setidaknya ada 2 hari yang bisa sedikit leye-leye.
Minggu, 01 Maret 2015
Sabtu, 28 Februari 2015
Post Terakhir Bulan Ini
Well, apa kabar semua? Mau pamer nih, aku punya boneka brown loooh..
Itu dari si emak (maksudnya Cindy Putri Puspita, ini panggilan baru) Makasih banyak, Cin :3 Ini meredakan gejolak hati soalnya kemaren aku nangis karena aku pikir orang rumah nggak ada yang inget, ternyata memang baru sempet ngucapinnya sorean. Sama pudingnya juga enak. Yummy.. (ini berarti AK Akmal juga kena kok makasihnya :D )
Makasih juga tim Mathco, sore yang menyenangkan bersama kalian, semoga tetap berjaya ya..
Makasih juga Mars PDA yang malah nggosip dan dengan santainya bongkar-bongkar rahasia orang.
Dan makasih MA'11, tetap bebas linier dan membangun :)
Selasa, 17 Februari 2015
Demam oh Demam
Kalau agak mending demamnya, aku masih bisa jalan-jalan, ngobrol, bahkan loncat-loncat. Tapi kalau demamnya barengan pusing dan mual, selamat ya, Bapak Ibu dosen, mahasiswanya ilang 1 hari ini. Buat duduk di tempat tidur aja nggak kuat, ke kamar mandi aja kayak nenek 90 tahun jalan, semua dijadiin pegangan (maklum, pas semester 4 pernah jatuh dari tangga gara-gara tiba-tiba pusing). Mana bisa berangkat kuliah? Nanti turun angkot malah nyungsep. Kan susah. Udah gitu, suhu badan lama turunnya kalau hanya istirahat dan makan obat. Karena itu sejak beberapa tahun lalu, aku bersahabat dengan makhluk bernama "By*-by* Fever" ya kalau yang ini habis, aku beli "Co*l Fever". Semacam sih, hanya berbeda merk
Minggu, 01 Februari 2015
Hey
Aku hanya seseorang yang mengkhawatirkanmu tanpa ingin diketahui dan berharap tahu kabarmu tanpa harus mengoceh mengganggu..
Hey,
I miss you.. anyway..
Kamis, 22 Januari 2015
Mata Itu
Tanpa kau getarkan pita suaramu aku tahu
Tanpa kau gemakan pikiranmu aku tahu
Tanpa kau sisipkan fakta ke dalam canda aku tahu
Tanpa kau goreskan rasa menjadi alinea pun aku tahu
Aku tahu.
Bukan. Aku bukan tuhan.
Sorot mata itu yang narasikan
Repost
Bandung, 28 Agustus 2013

