Laman

Kamis, 25 Juni 2015

Kuliah Lapangan Oseanografi

25 Juni 2015, dini hari. Tepat sebulan yang lalu aku sedang berada di gerbang depan kampus, balapan menghabiskan kwetiau dengan Mufri karena dari anak matematika yang ada disana hanya kami yang belum makan.
Sebelumnya, aku sebutkan dulu anak matematika yang ada di TKP.

Dari angkatan 2012 ada Alfred (si kokoh rempong), Ferdy (kokoh berkaki SNSD, aku ngefans banget sama kakinyaaa), Udin (iya, Udin si anak rese' yang papinya dosen analisis itu, papinya baik tapi alhamdulillah) dan Evellyn (rempongnya sejenis sama Alfred, and unfortunately dia satu kelompok denganku).

Angkatan 2013 ada Levina (Le irit banget ngomongnya), Nidya (pacarnya Udin), dan Jaenuri (Jae mah, hmm, no comment, lieur urang).

Dan dari angkatanku ada Mufri (manusia tegap, berotot, pecinta alam, pendaki gunung pelewat lembah, yang kameranya kereeen, like di IG nya sampai ratusan huaaa :o ), Haje (kokoh skinny boy cem-cem Ferdy, kalau sama Mufri ngga bisa akur), dan tentunya Cindy, AK dan aku, coba ada Akmal sekalian, wuh 'geng wacana' komplit deh.

Ceritanya, kami ber-12 ini adalah peserta matkul Oseanografi Lingkungan dari jurusan Matematika.
Sebenarnya aku sudah mengambil matkul lingkungan di semester 2 yaitu Astronomi Lingkungan. Tapi berhubung penasaran dengan yang ini, apa salahnya diambil?
Ada pengalaman tersendiri saat kita kuliah bersama teman-teman yang lintas jurusan. Disitu kadang kelihatan cara pandangnya yang berbeda-beda dan itu asyik.
Apalagi kalau ada peserta kuliah yang sedap dipandang mata hahaha. Bosen kali lihatnya anak Matematika terus. Apalagi semester ini. Ilfan lagi, Fetra lagi, Dimi lagi, Taufiq lagi, Hosanna lagi. Hmm -.-"
Di kelas Osling kemarin lumayan sih anak Ose sama anak Elektro ada yang ganteng. Semester lalu juga, alhamdulillah pas ambil matkul manajemen ada pemandangan seger juga di antara gerombolan anak Penerbangan sama Elektro *timpuksendal*
Nggak ding. Mumpung ada kuliah lapangannya sebenarnya. Kan seru. Mana ada anak Matematika ITB kuliah lapangan? Dan, 25-26 Mei 2015 adalah jadwal kulap kami.
Dini hari itu, kami berangkat ke Muara Angke untuk kemudian menyeberang ke pulau Pramuka. Bye, ITB, bye, KAA, bye, Bandung yang super ramai weekend itu.

Yah, namanya kuliah lapangan pasti ada modul-modul yang harus dikerjakan. Dan pada kulap ini ada 5 modul yang disiapkan.
Modul Pengukuran Garis Pantai, modul Mangrove, modul Sampah, modul Kualitas Air Laut, dan modul Wawancara. Aku sih malas cerita detailnya, yang jelas walaupun panas, kami tetap semangat.


Berhubung peserta matkul ini banyak, jadi beberapa kelompok baru bisa menyelesaikan modulnya pada 26 pagi. Tapi karena asistennya yahud dan bisa diajak bekerja sama, kami bisa bekerja lebih cepat dan alhasil semua kelompok berhasil menyelesaikan modulnya dalam sehari.
Kelompok terakhir selesai sekitar 17.20 dan itu kelompokku.
Kenapa terakhir? Karena modul terakhir kami adalah modul Kualitas Air Laut, yang prosesnya memang cukup lama dan kami juga harus membersihkan alatnya juga (ini alat termahal yang pernah aku pegang, namanya Horiba, harganya 200 juta, wew)
Hari itu, aku akhiri dengan mengejar sunset yang malah tertutup awan, kemudian malam mingguan di dermaga bersama para mathematician *weiss*

Cuaca nampak tidak mendukung malam itu, kami yang tadinya berniat duduk-duduk sambil bercerita dan mendengarkan ombak akhirnya malah duduk-duduk sambil menghitung kilat dan petir di langit.
Dan benar saja, tidak lama setelah kami kembali ke penginapan, hujan turun.
But that's okay, setidaknya hujan malam itu menambah nyenyak tidur kami yang kelelahan setelah seharian menyusuri pantai menghitung pH air, salinitas, memungut sampah, dsb di bawah panas matahari yang menyengat pulau kecil itu.

Paginya aku terbangun pukul 05.05 dan merasa aneh karena belum ada satu pun orang yang bangun (merasa rajin sekali-kali). Usai solat dan membangunkan cindy, aku meluncur keluar, mengejar sunrise meskipun tahu bahwa aku terlambat.

No problem. Langitnya tetap bagus. Hawanya tetap segar. Dan yang paling penting aku menikmati suasana tersebut.
Ternyata tidak jauh dari tempatku Nidya dan Udin sudah duduk-duduk di tepi pantai. Berarti aku salah kira, bukan belum ada yang bangun tapi yang bangun duluan langsung cabut hunting sunrise. Tidak lama kemudian Cindy dan AK menyusulku, telat sekalii, matahari sudah tinggi hahaha. Akhirnya foto-foto aja deh. Cindy ternyata ambil foto candid aku, foto galau of the month

Dan pagi itu teman-teman berencana menyeberang ke pulau sebelah untuk diving dan snorkeling, tapi karena renang pun aku tidak bisa, aku memilih tetap di tempat, beres-beres, lalu memutari pulau Pramuka sambil jajan-jajan.


Sekitar pukul 10 kapal yang akan kami tumpangi sudah merapat di dermaga. Setelah teman-teman kembali, kami naik kapal. Kembali ke Bandung dan menyambut minggu terakhir perkuliahan semester genap :)

Oiya, btw, selama pulang dan pergi di kapal, aku tidak duduk bersama Cindy AK lho. Aku memilih di dekat Eve dan Ferdy, pas berangkat malah dekat Alfred juga (pusing sih sama anak ini tapi cerewetnya lucu), kami duduk bersama gerombolan anak-anak Oseanografi.
And you know what. Ada anak yang kocak habis. Kebetulan dia sekelompok denganku juga.
Anak ini badannya agak besar, susah bilang 'R' dan kalau ngomong banyol abis. Di kapal, tanpa ngeliatin cukup denger suaranya aja aku ngga bisa tahan ketawa. Kalau sambil dilihatin, omaigat, dia Uus versi gendut dan ngga botak mungkin. Kalau Ferdy sih nyebutnya 'TV nya kak Dian' hahaha.
Bayangin deh. Pulang pergi dekat dia, selama kulap sekelompok juga. Aku bukan capek gara-gara kulapnya, capek ketawa iya.
Untung kami beda bis, bisa-bisa perutku kaku sampai di Bandung. Aku satu bis dengan Cindy AK (emang geng nih).
Dan satu hal kocak lagi, kami semua tahu AK bermasalah dengan alat transportasi selain sepeda motor. Alhamdulillah sih pas berangkat sehat, pulang juga di kapal masih oke, tapi di bis dia muntah.
And you know what? Muntahnya pas udah nyampe Pelesiran. Elah, ini beberapa meter juga udah sampe kampus kali. Muntahnya ngga elegan si AK.

Yah begitulah kulap pertama dan terakhirku selama S1 di ITB. Kacau sih tapi seruuu.

Sabtu, 13 Juni 2015

Maaf Nyampah

Kalau mau menyepi, jangan setengah-setengah, Dian.
Aku mungkin seharusnya benar-benar lepas diri dari segala media sosial.
Agar tidak perlu tahu ada berita apa di kota perantauan sana.
Agar bisa tenang menyegarkan pikiran dan mengontrol emosi.

Baru juga sampai rumah, baru juga berniat tersenyum lagi, kenapa sudah harus mendengar kabar tidak enak kembali?
Memang ada bahagianya juga kabar ini, tapi nyesek nya lebih..
Apalagi aku jadi mulai su'uzan dan berpikir tidak-tidak.
Astagfirullah.. Sesusah inikah yang namanya ikhlas, ya Allah?

Jumat, 12 Juni 2015

Masih Kuat? Masih :)

5 hari yang lalu, 7 Juni 2015. Seleksi IMC selesai dan aku gagal. Hahaha. Ternyata tahun lalu adalah ONMIPA dan IMC pertama sekaligus terakhirku.
I don't know, it seems like many things are not going well this year.
2015 baru berjalan setengahnya tapi sudah banyak keluh dan air mata keluar. Hmm..

Kabar baiknya adalah, 4 dari 7 wakil Indonesia tahun ini merupakan anak ITB (yeah, sekali-kali arogansi) dan meskipun aku tidak bisa menebak apa yang terjadi nanti, aku optimis ITB akan membawa setidaknya second prize nantinya (amiin insya Allah).
Semangat Kahfi, Ucup, Brilly, Afif..
Terutama 2 sohib ini, Brilly dan Mas Apip. Get your best, guys :D
Habis itu, seperti rencana, kita wisuda bareng-bareng (masih lama sih Oktober).

Kembali ke tahun ini. Tahun yang hmm.. Entahlah.. Semester ini kacau sekali (as I wrote before).
Kesehatanku juga kacau sekali, semester ini semester paling banyak bolos karena sakit dan sakitnya tidak seringan biasanya. Alhamdulillah sekarang baik-baik saja, aku lebih jaga diri deh biar nggak kumat-kumat lagi.
Dan semester ini juga semester paling galau, galau soal masa depan tentunya.
Kerja dulu? Tapi mau daftar kemana? Dimana-mana yang diincar statistik dan keuangan. Da aku mah anti dua-duanya *lemah*.
S2 dulu? Memang mau lanjut kemana? Ambil apa?
Atau nganggur dulu? Tapi aku butuh pemasukan..
Alhasil, TA nya dipelan-pelanin sembari mencari titik terang (ampun pak dosbing, ampun, bapak jangan susah-susah ditemui ya pak meskipun sudah jadi dekan *ciyee* ).

Bicara tentang tahun ini dan hal-hal yang 'hmm' ini pasti tidak akan lepas dari menangis.
Well, I cried. Again and again. Terakhir ya tanggal 7 itu, sampai tanggal 8 sepertinya. Kalau masalah 'tidak lolos' nya sih aku sudah legowo. 7 manusia terpilih itu memang kemampuannya di atasku, jadi aku sadar diri. Makanya nangisnya bukan setelah pengumuman banget. Melainkan beberapa jam kemudian. Setelah telpon rumah dan packing barang-barang. Kebetulan di antara peserta seleksi memang hanya ada satu perempuan, jadi aku sendirian di kamar. Nyesek dikit, melow dikit, langsung nangis.

Kenapa nyesek? Ya nyesek aja sadar mimpi yang dipendam bertahun-tahun pada akhirnya tidak tergapai juga meski sudah berusaha hingga kesempatan terakhir.
Bertahun-tahun kuliah, coba kompetisi sana-sini, medali aja nggak pernah dapet.
Ditambah lagi adek mau masuk SMA, kalau biaya kurang nggak ada jaga-jaga nih hehehe (duit mulu pikirannya).
Mana aku masih merasa masa depanku suram kan? Nah loh, numpuk numpuk numpuk, nangis deh.
Dan ini memecah rekor terlama aku menangis. 2,5 jam. Wow. Dari 23.00-an sampai 01.30-an.
Keren ya? Sembab sembab sono. Untung paginya pulang dari hotel diantar Brilly, ketutup helm. Coba naik angkot? Kan malu sama ibu-ibu yang seangkot (ya bisa jadi teteh-teteh atau bapak-bapak juga ding).

Dan sekarang aku di rumah. Mau bercengkerama bersama orang-orang tercinta dulu. Sambil ngerjain TA kok, tenang saja. Kalau di Bandung aku agak nggak beres soalnya, males euy, tidur terus (kalau di rumah ada ibu yang omelin), boros lagi makanan serba mahal (di rumah makan gratis, jajan juga masih terjangkau).
Jadi, aku mengasingkan diri di rumah dulu ya sampai tanggal 22.
Anybody need to see me?
Tunggu tanggal 23, aku available di Bandung, atau kalau mau sih sini ke rumah, aku available di rumah sebelum tanggal itu :)

Tahun ini berat. Tahun ini membingungkan. Tapi aku punya pilihan apa selain berusaha melewati semuanya dan menganggap semua baik-baik saja?
Sudah lelah menangis, sudah lelah minum obat terus, sudah lelah merasa nggak ada teman berbagi.
Saatnya cengingisan dan haha hihi lagi.
Dian sehat. Dian kuat. Dian mandiri.
Semangaaaat !!

Kamis, 28 Mei 2015

ITB Juara :D

Hai hai. Pengumuman nih, tadi malam pengumuman ONMIPA 2015 diselenggarakan. And guess what? ITB juara umum lagi dong. Alhamdulillah.. Kalian super kece, teman-teman. Btw, ini post nya si Tamaro di instagram..

Dari 8 peserta bidang Matematika, 5 orang mendapat medali. Dugaanku 6 sih, meleset sedikit. Tapi tidak apa-apa, itu tetap luar biasa.

Turut bahagia dengan kabar gembira ini. Selamaaat, sukses terus semuanya. Buat yang medalis matematika, ayo semangat seleksi IMC nya. Aku nggak mau kalah sama kalian :)

Minggu, 24 Mei 2015

It Was Your Birthday, Right?

Bagiku kau seperti bayangan.
Meski seringkali lenyap dalam gelap, namun hadirmu buatku yakin aku tak sendiri di tengah teriknya hari

Happy birthday, Big Boy.. Maaf terlambat.
Semoga umurnya diberkahi Allah, urusannya dilancarkan, dan tetap jadi orang baik hati, amiin.
Wherever you are, whatever you do, jangan lupa makan, jangan lupa istirahat, jangan lupa ibadah dan jangan lupa kabari orang tua.
Hey, kau, satu-satunya orang yang bisa mengalahkan gengsiku (meski tidak selalu), aku hanya ingin menutup pesan ini dengan.. Aku kangen, dan aku masih disini masih menunggumu :)

Senin, 18 Mei 2015

My Third HM

Hari ini OSN 2015 tingkat SMA dimulai lho, jadi ingat jaman muda *weiisss*. Terus sedih kalau lihat sekarang. Aaaah, cupuuu, Dian cupuuu. Dulu keren deh aku *memuji diri sendiri, biarin ah, nggak ada yang muji sih*, kok sekarang begini ya? Mana nggak diikutin ONMIPA lagi, medali hanyalah angan :(

Bulan lalu, tepatnya 21 April, hasil ONMIPA regional diumumkan, dan.. Tidak ada namaku. Padahal kalau dilihat di buku panduan tahun ini seharusnya masih ada namaku dan Anto, tapi nihil. Terus sediiihh, kan pengen jalan-jalan *salah fokus*. Lumayan refreshing.. Sambil pemanasan buat seleksi IMC, biar terbiasa lihat soal begituan lagi. Apalagi tahun lalu, di ONMIPA aku dapatnya HM (iya, HM, yang selisih skornya sama perunggu cuma 1 poin itu, nyesek ya? Hahaha) Kan pengen dapat medali sekali-kali. Kalaupun bisa ikut IMC lagi (amiin ya Allah, amiin) dapat medalinya susaah euy huhuhu.. Yah sudahlah, doakan saja di seleksi IMC nanti lancar dan bisa ikut IMC lagi, amiin.

Hari itu, karena sedih dan pundung, akhirnya aku berusaha cari pelampiasan. Mengingat ada 2 film inceran yang belum ditonton, aku tancap gas ke BIP, maraton aja mumpung ada waktu.

Tadinya berniat nonton sama Cindy tapi jadwal kosong kami susah disatukan, mana kadang aku tiba-tiba gantiin ngajar les, tambah susah. Daripada wacana, mending sendiri yang penting kesampean. Maaf ya, Ciinn.. Nah bodohnya aku, aku nonton bulan di atas kuburan belakangan. Niat awal cari hiburan, pulang-pulang malah kebawa sedih sampe kosan -_-" Tapi sedih ini tidak berlangsung lama, karena ada kabar baik yang menghibur yaitu hasil MCM-ICM.

Bulan Februari lalu, aku mengikuti lomba pemodelan, namanya MCM (Mathematical Contest in Modeling), kalau yang satu namanya ICM (Interdisciplinary Contest in Modeling). Namanya juga pemodelan, tentunya di awal kami diberikan beberapa permasalahan yang bisa dipilih untuk kemudian dibuat model penyelesaiannya dan paper yang menjelaskan tentang model itu. Yang penasaran detilnya, bisa buka web nya . Untuk menyelesaikan model ini kami diberi waktu 4 hari (atau 5? Ya kira-kira segitu lah). Agar kami fokus mengerjakan tugas kami, kami dianjurkan menginap di kampus. Ada 5 ruangan di Labtek III (gedung Matematika) yang dikosongkan yang dapat digunakan sebagai 'tempat bekerja' kami, yang jika malam mulai larut berubah menjadi tempat tidur. Masalah makanan, jangan khawatir, terjamin kok, melimpah bahkan hahaha.

Tahun ini ITB mengirim 5 tim. Sebelumnya, ada beberapa tim yang berminat tapi setelah diseleksi, 5 tim ini yang terpilih. Dari 5 tim ini, 3 tim berasal dari angkatanku, sebut saja Tim Statistik (Stella, Tria, Caca), Tim Diskrit (Dimi, Fetra, aku) dan Tim Cina (Davin, Leo, Yohans). 2 tim sisanya dari angkatan 2012, sebut saja Tim Hijab (Eva, Desi, Nurul) dan Tim Smart (Selly, Elsa, Gope).
Kalau malam tiba, aku dan Gope berkeliaran mengungsi ke ruangan tetangga untuk numpang tidur. Sedih memang.. Tapi serunya, berhubung saat itu weekend, ITB sepiii, rasanya kami yang berkuasa jadinya :D

Kembali ke pemodelan. Di hari pertama kami memilih problem dan mulai corat-coret menentukan apa yang harus dilakukan. Akhirnya, 4 tim memilih MCM, dimana tim statistik dan diskrit memilih problem B (tentang pencarian pesawat hilang) dan tim hijab dan smart memilih problem A (penanggulangan ebola). Sisanya, tim Cina (habis isinya kokoh-kokoh semua) memilih ICM yaitu problem C.

Hari pertama dan kedua suraaam. Ini 5 tim kerjaannya sama, kalau pusing langsung keluar ruangan cari makanan atau gangguin tim lain. Aku sukanya gangguin tim statistik, ngeriweuhin Stella atau ngusilin Tria. Tapi pas balik ke ruangan sendiri sudah ada kokoh-kokoh yang ngajakin ngomongin orang (itu lho, ibu penghuni ruangan sebelah). Kalau bukan ngomongin orang, mereka ngomongin yang enggak-enggak. Tahu kan pembicaraan lelaki? Dan tiap kali aku ehem-ehem, mereka cuma bilang, "selow lah, Sito ini, nggak papa kalau dia yang denger, kalau sama cewek baru malu". Lhah, gender-ku disamakan ternyata. Kalau nggak, sudah ada Gope, tidur-tiduran di kasur yang dipakai tidur Dimi (ini kasurnya bukan diberdiriin malah ditaruh aja, kata Dimi sengaja, biar orang-orang tergoda). Kacau pokoknya. Apalagi badan masih lemas belum sembuh benar. Malahan pas hari pertama dijengukin Cindy, AK, Akmal dan dianterin Akmal juga buat ambil obat huhuhu. Maaf ya ngerepotin mulu.. Udah gitu aku ngerjainnya sambil setengah bego lagi, maaf ya tims. Ternyata yang tadinya terlihat mudah sebenarnya tidak mudah.

Di hari ketiga akhirnya pencerahan datang. Model sudah lumayan, tapi masih butuh banyak disempurnakan. Hari terakhir disibukkan dengan menulis paper (Fetra masih utak-atik program, masih ada yang mengganjal katanya). Bahkan di malam terakhir itu hampir semua tim begadang. Tahu hal konyolnya apa? Malam itu, sudah tahu paper belum selesai, koh Davin malah ngajak pesen PHD. Katanya, "Tahun lalu juga kami gitu, berbahagia dulu sebelum submit paper, biar tambah semangat juga ngetiknya kalau udah makan enak". Entah itu teori darimana, kami yang juga terserang virus lapar tengah malam mengiyakan omongan Davin. Makan-makan selesai, bukannya semangat ngetik, malah ngantuk karena kenyang. Si kokoh nih biang keladi. Biar melek, akhirnya aku ngemil jeruk, pilih yang kecut, sambil buka youtube putar lagu Jamrud, Fetra ngedoping (minum kopi hitam maksudnya) sampai 3 gelas sambil puter lagu kebangsaan (Maroon 5), Dimi yang nggak kuat akhirnya memilih tidur dan minta dibangunkan 1 jam kemudian.

Jam 6 pagi semua beres, tinggal submit dan untungnya ITB tidak mati listrik (tahun lalu mati listrik katanya, makanya pada rempong). Setelah mengurusi berkas ini-itu dan beres-beres ruangan masing-masing kami pulang dan tepar (bahagia banget lihat kasur di kosan).

Pertengahan April, hasil diumukan. Tidak percuma sih, walaupun belum bagus-bagus amat tapi perolehan tahun ini lebih baik lah dibanding tahun sebelumnya. 3 tim dari angkatanku semua mendapat Honorable Mention (HM lagi, Dian?). 1 tim (tim Smart) mendapat Meritorious Winner dan 1 tim terakhir (tim Hijab) mendapat SP (Successful participant).

Well, this is my third HM (I hope it'll be the last). Masih bisa IMC kan, Tuhan? Boleh dong ikut lagi, boleh juga kan dapet lebih dari HM? Pengen dapet medali nih *mulai ngarep*. Kenyang sama HM hehehe.

Sabtu, 16 Mei 2015

Sedih Tapi Kuat Kok

Hei, sudah Mei ternyata. Perkuliahan semester 8 selesai, tapi belum resmi selesai, mengingat UAS masih banyak dan semester pendek juga belum dilewati. Alhamdulillah sudah semangat TA (baru mulai? maklum deadliner) hahaha. Semoga lancar ya Allah, amiin. Many things happened, khususnya Maret-April kemarin. Banyak yang mau ditulis tapi lupa terus. Jadi diceritainnya satu-satu deh ya *nyicil ceritanya*..

Di tulisanku sebelumnya, aku cerita tentang rasa malasku ngerjain TA dan upaya refreshing-nya yang cukup terhambat karena ada sedikit masalah hati *wejiaan*. Tapi serius, memang beneran bermasalah waktu itu.

Ceritanya akhir Februari, tanggal 20, aku berniat pulang menghabiskan weekend di rumah, sekalian ada acara keluarga. Sayangnya itu batal karena jadwal kegiatan yang tidak bersahabat. Jumat ada kuliah sore, Sabtu dan Minggu ada kegiatan wajib rutin beswan, Senin malam mengajar privat. Sedih sih. Akhirnya pas hari Kamis aku telpon rumah dan bilang bahwa aku batal pulang. Orang rumah biasa saja, tidak ada masalah. Masalahnya di minggu depannya..

Seminggu kemudian, aku tidak menelepon rumah, tepar karena pulang kemalaman. Jumatnya, bertepatan di tanggal lahirku, bangun-bangun aku buka HP, berharap ada 2 pesan disana, ibu dan mbak. Aku kan hanya butuh tahu bahwa ibu ingat hari ulang tahunku. Tapi, nihil.. Sedihnya tambah. Ya sudah, dengan agak malas siangnya aku ke kampus. Di kampus ternyata si emak (Cindy) nyariin, akhirnya dia dan AK (Akmal juga dihitung deh) nyamperin sebelum aku masuk kelas cuma buat bilang happy birthday dan nyuruh aku ketemu mereka dulu sehabis kelas. Ternyata, Cindy masak puding dan ngajak makan berempat sehabis kelas. So sweet banget nggak sih anak satu ini. Terima kasih banyak pokoknya, you're my moodbooster that day. Mana habis itu waktu aku buka HP ada 2 pesan. Siapa lagi? Ibu dan mbak. Alhamdulillah, sedihnya hilang. Katanya ibu ngga sempat sms pagi-pagi. Agak heran sih, jarang-jarang ibu telat ngucapin. Tapi biar deh, yang penting ibu sms, udah lega.

Sore itu, aku juga ada kumpul dengan anak-anak Mathco mengingat sebentar lagi ganti kepengurusan. Dan ternyata ada yang beliin kue untukku dan seorang adik tingkat yang juga berulangtahun hari itu. Well, thanks, guys. Mathco yahud euy.

Sayangnya happy ini nggak bertahan lama. Malamnya, aku telepon rumah mengingat malam sebelumnya tepar. Awalnya pembicaraan kami biasa, tapi di akhir ibu bilang, "nduk mbok bali nek bisa", dan dengan alasan yang sama aku menjelaskan aku tidak bisa pulang. Tapi rasanya aneh. Saat aku tanya ada apa, ibu bilang, "yo ora popo, mung pengen dian bali, tapi nek nduk pancen ora bisa yo wes." Ditanya-tanya lagi pun jawabannya sama, tidak ada apa-apa. Habis salam telepon tutup. Nah kan, curiganya nambah. Pasti ada hubungannya dengan ibu yang tadi pagi nggak sempat sms. Ini pasti ada sesuatu yang ditutupi.

Akhirnya seperti biasa, aku berusaha men-distract diri sendiri, ngerjain ini-itu agar lupa walaupun sebentar. Eh, susah.. Malah tambah kepikiran. Dua hari kemudian semuanya memuncak. Pengen pulang tapi nggak bisa. Mau ngapa-ngapain nggak konsen. Mau cerita bingung sama siapa. Aku memang suka bercerita banyak hal, tapi kalau ada masalah apalagi tentang keluarga, aku sangat selektif memilih tempat bercerita. Lagipula, kalaupun ada tempat bercerita, aku bingung harus mulai darimana dan apa yang harus dikatakan. Jadi pada akhirnya malam itu aku hanya bisa menangis lama. Berharap keluargaku dilindungi dan semuanya baik-baik saja.

Esok paginya aku sudah mulai tenang walaupun mataku bengkak. Dan aku putuskan sms ibu, bilang kalau memang ada hal penting yang harus dilakukan, lakukan aja nggak perlu tunggu Dian, Dian bantu doa dari sini dan beliau hanya membalas "iya nduk". Walaupun belum plong tapi lebih lega.
Pada akhirnya selalu begini, seberat apapun itu aku masih kuat hadapi masalahku sendiri. Kalau sedang rapuh-rapuhnya selalu merasa butuh tempat luapan curhat, tapi lagi-lagi tembok kamar selalu cukup jadi tempat bercerita. Strong, Yan, strong!

Masuk bulan Maret, ada libur hari raya Nyepi, yang kebetulan jatuh di weekend. Bisa pulang juga nih :3 Sampai rumah aku dan keluargaku banyak bercerita. Ternyata memang ada sesuatu saat itu but that's okay now. Jadi, aku tidak perlu khawatir lagi :)

Btw, tadi banget, aku mimpi sedih. Aku mimpi ibu, bapak, dan mbakku nggak ada. Naudzubillah ya Allah, jangan dulu, aku masih sangat butuh mereka.
Dulu pas aku SD aku pernah bermimpi ibu nggak ada, bangun langsung nangis teriak-teriak panggil ibu, terus langsung berhenti pas ibu nyamperin ke kamar.
Pas SMP aku mimpi adikku nggak ada, nggak pake teriak sih tapi bantalku super basah dan bangun pun masih sesenggukan.
Beberapa minggu lalu aku mimpi bapak nggak ada, sama seperti saat mimpi adik, nangisnya dalam mimpi, jadi bangun tinggal sesenggukannya.
Nah yang tadi pagi parah. Bangun bantal sudah basah, ditambah masih nangis kebawa sedih, nangisnya bukan main pula, 40 menitan, sekitar sejam setelah bangun baru bisa tenang dan berpikir jernih. Aku takut beneran. Kalau kejadian kan aku nggak tahu harus gimana. Kuliahku belum selesai, adikku sebentar lagi masuk SMA, akunya juga pasti shock berat. Nggak kebayang gimana rasanya karena aku pasti tidak kuat tapi aku tidak bisa terus-terusan nangis apalagi di depan adikku. Kakak itu contoh buat adiknya, kalau aku begitu kan kasihan adikku. Makanya tadi nangisnya lamaaaa.. Jangan dulu, ya Allah. Lindungi keluargaku, amiin.
Ya sudah, ceritanya gitu. Kalau ngomongin keluarga bisa keterusan kalau nggak direm hahaha. See you in the next post :D