Di jalanan ini,
mungkin nanti aku kembali berjalan sendiri
Entah kau mendadak berhenti
Entah kau akan mendahului
Entah kau memilih berbelok ke kiri
Dan entah kapan waktunya,
entah di perempatan yang mana
aku kemudian bisa menatapmu lagi
Satu hal yang harus kita sadari,
selagi masih berjalan bersama
seharusnya kita lupakan luka dan mencoba bahagia
Tanpa menduga-duga apakah langkah kita 'kan tetap seirama
Kadang hidup seperti 'soft breeze', namun hidup juga bisa berubah menjadi 'harsh storm', hanya dirimu sendirilah yang bisa menentukannya :) Keep smiling to face your complex world easier !
Jumat, 14 Agustus 2015
...
Senin, 03 Agustus 2015
Kabut
Lenyapkan kabut-kabut maut
Menindih perih luka dengan lembaran tawa
Berharap bahagia sudi mendampingi
Tapi apa?
Kabut kembali di kala remang
Pekat menikam mata
Membutakan pandang
Melumpuhkan angan
Memaksa diam
Hingga tenggelam
Lalu hilang
Tanpa dikenang.
Minggu, 05 Juli 2015
ADHD? Maybe..
Kali ini, aku ingin bercerita tentang ADHD. Sebagai orang yang kurang memperhatikan dunia kesehatan, penyakit, dan kelainan, aku asing sekali dengan istilah ADHD. Bagi yang penasaran, mangga googling. Ada banyak keterangan tentang ADHD disana.
Yang jelas istilah ini baru aku ketahui dari kak Ryan, Ryan Adhriandy, yang mini-mini lucu itu.
Ceritanya aku iseng main ask.fm sejak beberapa bulan lalu, dan dia adalah orang ketiga dari total 20-an orang yang aku follow hahaha. Aku suka sih sama stand up-nya, bahkan aku punya "From Tiny to Funny" :)
Balik lagi ke ADHD. Beberapa hari yang lalu kak Ryan menjawab pertanyaan tentang kenapa kak Ryan jarang kelihatan dan sepertinya sedang 'off' dari salah satu proyeknya.
Dan dia menjawab pertanyaan itu dengan sebuah penjelasan. Yaitu kondisi ADHD, Attention Defisit Hyperactivity Disorder.
Bukan tidak serius melakukan sesuatu sampai selesai, tapi memang ada hal lain yang lebih menarik atensinya dan itu tidak bisa dihindari. Lalu dia bercerita banyak tentang hal itu.
Awalnya aku merasa familiar dengan apa yang aku baca di ask.fm kak Ryan. And guess what? Aku baru ngeh, mirip aku euy, bapakku juga begitu.
Dan bukan cuma aku, tapi saat membaca info lebih lanjut aku langsung berfikir, "ini sih Luqman banget".
Gejala aku sama bapak sih idem. Luqman aja yang faktor H-nya tinggi banget.
Sejak kecil, Luqman super aktif, ada aja kelakuannya.
Sekalinya duduk diam, ngoceh non stop.
Kalau dia diam tenang tanpa suara, itu tidur.
Bahkan dulu saat TK, dia duduk di kantor kepala sekolah sambil ngobrol dengan beliau, saking senengnya jalan-jalan kalau di kelas.
Dan mulai SD sampai saat ini, dia males banget yang namanya belajar. Tapi rajin kalau berangkat KIR.
Biologi dia jelek pol, tapi dialog di kartun Spongebob, Upin Ipin dan Boboiboy dia hafal.
Luqman punya hobi yang berganti-ganti.
Dulu dia suka menggambar, tembok rumah kami penuh coretan.
Pernah juga memasak. Ibu sering bingung kenapa telur, kecap, mie cepat sekali habis, ternyata dia pelakunya.
Pernah juga belajar stand up comedy, gara-gara koleksi DVD stand up ku aku bawa pulang. Tapi ini hanya bertahan sampai dia niru beberapa comic doang, belum sampai buat bit sendiri.
Setahun terakhir dia tergila-gila sama gitar. Udah lumayan mainnya sekarang, sudah jago main kunci yang susah.
Dan yang terakhir aku tahu, dia sedang belajar photoshop.
Dia suka ngulik, apa-apa dibongkar, tapi tidak pernah dibereskan. Ujung-ujungnya rusak semua.
Itu terjadi berulang kali seperti tidak bisa dihentikan. Keluarga kami yang tidak pernah tahu ADHD pada akhirnya men-cap Luqman bandel, nakal dan tidak bisa diatur.
Karena ketidaktahuan ini, kami justru sering memarahinya dan melarang dia melakukan hal yang dia suka. Dan ini salah.
Aku tahu ada hal yang berbeda dari dia. Tapi aku tidak tahu apa itu dan bagaimana mengatasi itu.
Kadang aku hanya bisa sedih karena takut adikku tidak bisa berkembang sebagaimana teman-temannya yang lain.
But now I know better. Thanks for the information, kak Ryan.
Kalau kata kak Ryan sendiri, ADHD ini seperti kuda liar. Pilihannya adalah dengan mengekangnya berharap dia akan se-'normal' kuda peliharaan atau biarkan dia bebas berlari tetapi pantau pergerakannya.
And he choose the second one.
Aku setuju sih. Tidak seharusnya kami mengekang adikku yang keinginan dan imajinasinya liar. Adikku semakin bandel lho sejak masuk SMP (bandel menurut kami), pelajarannya di sekolah juga tidak seperti dugaanku dan aku pikir ini akibat terlalu dikekang.
Setelah ini aku akan berkonsultasi dengan orang tuaku. Aku harap mereka juga setuju denganku. Aku cuma ingin melihat adikku mengikuti jalannya sendiri dan menemukan cara belajarnya sendiri.
I just love him, what else can I do?
Kalau aku sendiri yang parah di bagian distraksi. Susah menyelesaikan sesuatu tepat waktu. Kurang bisa fokus saat mengerjakan sesuatu berjangka waktu panjang.
Apalagi pas olimpiade, wuh 4 jam harus fokus itu susah, paling lama 2 jam aku bisa karena memang dibiasakan (dulu susah juga sih), lebih dari itu harus ada refreshingnya.
Btw, ini beda aku dan adikku, aku anaknya cukup 'patuh' dan bisa 'dibiasakan', adikku sebaliknya.
Kembali lagi ke distraksi, kalau olim 4 jam, mulai jam ketiga aku mulai mainan pensil, lihat-lihat kanan kiri.
Bahkan jaman SMP, pas pelajaran, setelah 20-an menit aku sibuk melubangi meja dengan jangka, melempari buletan kertas kecil-kecil ke rambut teman yang keriting, atau main pesan berantai dengan teman sebelah.
Kalau SMA kan jarang sekolah, kalaupun sekolah aku duduk pojokan kalau mulai bosen paling nulis-nulis.
Kalau kuliah ya paling gambar-gambar (binderku isinya gambar dan coretan, catetannya sedikit), coretin tangan Fetra Ilfan atau Tamaro, tendang-tendang kursi orang di depanku, ngeliatin orang lewat, merhatiin pucuk pohon dari jendela kelas, dsb.
Ada lagi, aku pikir aku hanya sekedar deadliner yang malas mengerjakan tugas (walaupun banyak juga yang selesai jauh sebelum deadline).
Aku selalu bilang, "Bentar deh, belum mood". Sepertinya kata 'mood' ini yang aku maksudkan dengan ketertarikan.
Sekedar cerita, setiap kali aku mencoba melakukan apa yang 'seharusnya' dilakukan, tiba-tiba ada hal yang lebih menarik dan membuatku melakukannya saat itu juga.
Contohnya,
pernah aku berniat merombak kamar kos, baru juga mulai nyapu, tiba-tiba denger lagu enak dari kamar sebelah, langsung ambil HP, download lagunya, cari chordnya, main gitar lagu itu lalu lihat lampu mulai kedip-kedip lalu ke indomart beli lampu lalu menggantinya dan ujung-ujungnya berakhir dengan mencoba model kerudung di youtube (jauh ya?),
pernah juga berniat mengerjakan presentasi dengan latex (dan pada saat itu aku belum ngerti pake latex padahal deadline malam itu juga) lalu tiba-tiba pengen McFlurry akhirnya aku bela-belain ke McD cuma beli eskrim dan balik lagi ke kosan.
Lalu kenapa harus deadliner? Catatan, deadliner hanya untuk hal yang nggak disuka.
Ya karena ngga bisa dipaksa (kecuali ujian, ujian itu, sekali lagi, adalah hal yang terpaksa kita lakukan dan itu dibiasakan sejak SD, jadi kalau ujian ya bisa-bisa aja dipaksa),
tapi ketika J-sekian, hawanya bukan hawa tugas lagi, hawanya hawa ujian. Makanya dipaksa oke-oke aja.
Tapi kalau aku suka, mau deadline sebulan lagi juga aku bisa-bisa aja selesaikan dalam sehari. Namanya juga suka.
Buatku, tidak ada masalah sih gejala ADHD selama itu tidak mengganggu. Well, mungkin akan tetap ganggu tapi selama bisa diatasi, aku pikir bukan masalah besar.
Toh itu membantu dalam beberapa hal.
Seneng kali bisa tahu banyak hal, disaat orang lain terpaku sama satu doang. Walaupun, yeah, ngga ahli, sekedar tahu dan bisa, kemudian ketertarikan itu hilang gitu aja.
Believe me, aku suka banget matematika dan aku suka banget ngajar. Tapi bukan berarti aku freak dan ngga bisa apa-apa selain itu.
Aku belajar banyak hal, aku pernah menari (tradisional tentunya), nge-dance (tapi ngga jadi masuk Infinity), menyanyi pop jazz klasik campursari dangdut keroncong nasyid, main seruling, peking, saron, gitar, angklung (tapi ngga ke KPA karena kaderisasinya lama), nulis puisi, menjahit, menyulam, bikin boneka, menggambar, melukis, make-up, fotografi, tata busana, origami, paperart, benerin colokan listrik, bongkar radio, bongkar tv, apalagi ya? Hahaha.
Yang jelas, it's fun and I enjoy it. Hope my brother would be like that too.
Kamis, 25 Juni 2015
Kuliah Lapangan Oseanografi
Sebelumnya, aku sebutkan dulu anak matematika yang ada di TKP.
Dari angkatan 2012 ada Alfred (si kokoh rempong), Ferdy (kokoh berkaki SNSD, aku ngefans banget sama kakinyaaa), Udin (iya, Udin si anak rese' yang papinya dosen analisis itu, papinya baik tapi alhamdulillah) dan Evellyn (rempongnya sejenis sama Alfred, and unfortunately dia satu kelompok denganku).
Angkatan 2013 ada Levina (Le irit banget ngomongnya), Nidya (pacarnya Udin), dan Jaenuri (Jae mah, hmm, no comment, lieur urang).
Dan dari angkatanku ada Mufri (manusia tegap, berotot, pecinta alam, pendaki gunung pelewat lembah, yang kameranya kereeen, like di IG nya sampai ratusan huaaa :o ), Haje (kokoh skinny boy cem-cem Ferdy, kalau sama Mufri ngga bisa akur), dan tentunya Cindy, AK dan aku, coba ada Akmal sekalian, wuh 'geng wacana' komplit deh.
Ceritanya, kami ber-12 ini adalah peserta matkul Oseanografi Lingkungan dari jurusan Matematika.
Sebenarnya aku sudah mengambil matkul lingkungan di semester 2 yaitu Astronomi Lingkungan. Tapi berhubung penasaran dengan yang ini, apa salahnya diambil?
Ada pengalaman tersendiri saat kita kuliah bersama teman-teman yang lintas jurusan. Disitu kadang kelihatan cara pandangnya yang berbeda-beda dan itu asyik.
Apalagi kalau ada peserta kuliah yang sedap dipandang mata hahaha. Bosen kali lihatnya anak Matematika terus. Apalagi semester ini. Ilfan lagi, Fetra lagi, Dimi lagi, Taufiq lagi, Hosanna lagi. Hmm -.-"
Di kelas Osling kemarin lumayan sih anak Ose sama anak Elektro ada yang ganteng. Semester lalu juga, alhamdulillah pas ambil matkul manajemen ada pemandangan seger juga di antara gerombolan anak Penerbangan sama Elektro *timpuksendal*
Nggak ding. Mumpung ada kuliah lapangannya sebenarnya. Kan seru. Mana ada anak Matematika ITB kuliah lapangan? Dan, 25-26 Mei 2015 adalah jadwal kulap kami.
Dini hari itu, kami berangkat ke Muara Angke untuk kemudian menyeberang ke pulau Pramuka. Bye, ITB, bye, KAA, bye, Bandung yang super ramai weekend itu.
Yah, namanya kuliah lapangan pasti ada modul-modul yang harus dikerjakan. Dan pada kulap ini ada 5 modul yang disiapkan.
Modul Pengukuran Garis Pantai, modul Mangrove, modul Sampah, modul Kualitas Air Laut, dan modul Wawancara. Aku sih malas cerita detailnya, yang jelas walaupun panas, kami tetap semangat.
Berhubung peserta matkul ini banyak, jadi beberapa kelompok baru bisa menyelesaikan modulnya pada 26 pagi. Tapi karena asistennya yahud dan bisa diajak bekerja sama, kami bisa bekerja lebih cepat dan alhasil semua kelompok berhasil menyelesaikan modulnya dalam sehari.
Kelompok terakhir selesai sekitar 17.20 dan itu kelompokku.
Kenapa terakhir? Karena modul terakhir kami adalah modul Kualitas Air Laut, yang prosesnya memang cukup lama dan kami juga harus membersihkan alatnya juga (ini alat termahal yang pernah aku pegang, namanya Horiba, harganya 200 juta, wew)
Hari itu, aku akhiri dengan mengejar sunset yang malah tertutup awan, kemudian malam mingguan di dermaga bersama para mathematician *weiss*
Cuaca nampak tidak mendukung malam itu, kami yang tadinya berniat duduk-duduk sambil bercerita dan mendengarkan ombak akhirnya malah duduk-duduk sambil menghitung kilat dan petir di langit.
Dan benar saja, tidak lama setelah kami kembali ke penginapan, hujan turun.
But that's okay, setidaknya hujan malam itu menambah nyenyak tidur kami yang kelelahan setelah seharian menyusuri pantai menghitung pH air, salinitas, memungut sampah, dsb di bawah panas matahari yang menyengat pulau kecil itu.
Paginya aku terbangun pukul 05.05 dan merasa aneh karena belum ada satu pun orang yang bangun (merasa rajin sekali-kali). Usai solat dan membangunkan cindy, aku meluncur keluar, mengejar sunrise meskipun tahu bahwa aku terlambat.
No problem. Langitnya tetap bagus. Hawanya tetap segar. Dan yang paling penting aku menikmati suasana tersebut.
Ternyata tidak jauh dari tempatku Nidya dan Udin sudah duduk-duduk di tepi pantai. Berarti aku salah kira, bukan belum ada yang bangun tapi yang bangun duluan langsung cabut hunting sunrise. Tidak lama kemudian Cindy dan AK menyusulku, telat sekalii, matahari sudah tinggi hahaha. Akhirnya foto-foto aja deh. Cindy ternyata ambil foto candid aku, foto galau of the month
Dan pagi itu teman-teman berencana menyeberang ke pulau sebelah untuk diving dan snorkeling, tapi karena renang pun aku tidak bisa, aku memilih tetap di tempat, beres-beres, lalu memutari pulau Pramuka sambil jajan-jajan.
Sekitar pukul 10 kapal yang akan kami tumpangi sudah merapat di dermaga. Setelah teman-teman kembali, kami naik kapal. Kembali ke Bandung dan menyambut minggu terakhir perkuliahan semester genap :)
Oiya, btw, selama pulang dan pergi di kapal, aku tidak duduk bersama Cindy AK lho. Aku memilih di dekat Eve dan Ferdy, pas berangkat malah dekat Alfred juga (pusing sih sama anak ini tapi cerewetnya lucu), kami duduk bersama gerombolan anak-anak Oseanografi.
And you know what. Ada anak yang kocak habis. Kebetulan dia sekelompok denganku juga.
Anak ini badannya agak besar, susah bilang 'R' dan kalau ngomong banyol abis. Di kapal, tanpa ngeliatin cukup denger suaranya aja aku ngga bisa tahan ketawa. Kalau sambil dilihatin, omaigat, dia Uus versi gendut dan ngga botak mungkin. Kalau Ferdy sih nyebutnya 'TV nya kak Dian' hahaha.
Bayangin deh. Pulang pergi dekat dia, selama kulap sekelompok juga. Aku bukan capek gara-gara kulapnya, capek ketawa iya.
Untung kami beda bis, bisa-bisa perutku kaku sampai di Bandung. Aku satu bis dengan Cindy AK (emang geng nih).
Dan satu hal kocak lagi, kami semua tahu AK bermasalah dengan alat transportasi selain sepeda motor. Alhamdulillah sih pas berangkat sehat, pulang juga di kapal masih oke, tapi di bis dia muntah.
And you know what? Muntahnya pas udah nyampe Pelesiran. Elah, ini beberapa meter juga udah sampe kampus kali. Muntahnya ngga elegan si AK.
Yah begitulah kulap pertama dan terakhirku selama S1 di ITB. Kacau sih tapi seruuu.
Sabtu, 13 Juni 2015
Maaf Nyampah
Aku mungkin seharusnya benar-benar lepas diri dari segala media sosial.
Agar tidak perlu tahu ada berita apa di kota perantauan sana.
Agar bisa tenang menyegarkan pikiran dan mengontrol emosi.
Baru juga sampai rumah, baru juga berniat tersenyum lagi, kenapa sudah harus mendengar kabar tidak enak kembali?
Memang ada bahagianya juga kabar ini, tapi nyesek nya lebih..
Apalagi aku jadi mulai su'uzan dan berpikir tidak-tidak.
Astagfirullah.. Sesusah inikah yang namanya ikhlas, ya Allah?
Jumat, 12 Juni 2015
Masih Kuat? Masih :)
I don't know, it seems like many things are not going well this year.
2015 baru berjalan setengahnya tapi sudah banyak keluh dan air mata keluar. Hmm..
Kabar baiknya adalah, 4 dari 7 wakil Indonesia tahun ini merupakan anak ITB (yeah, sekali-kali arogansi) dan meskipun aku tidak bisa menebak apa yang terjadi nanti, aku optimis ITB akan membawa setidaknya second prize nantinya (amiin insya Allah).
Semangat Kahfi, Ucup, Brilly, Afif..
Terutama 2 sohib ini, Brilly dan Mas Apip. Get your best, guys :D
Habis itu, seperti rencana, kita wisuda bareng-bareng (masih lama sih Oktober).
Kembali ke tahun ini. Tahun yang hmm.. Entahlah.. Semester ini kacau sekali (as I wrote before).
Kesehatanku juga kacau sekali, semester ini semester paling banyak bolos karena sakit dan sakitnya tidak seringan biasanya. Alhamdulillah sekarang baik-baik saja, aku lebih jaga diri deh biar nggak kumat-kumat lagi.
Dan semester ini juga semester paling galau, galau soal masa depan tentunya.
Kerja dulu? Tapi mau daftar kemana? Dimana-mana yang diincar statistik dan keuangan. Da aku mah anti dua-duanya *lemah*.
S2 dulu? Memang mau lanjut kemana? Ambil apa?
Atau nganggur dulu? Tapi aku butuh pemasukan..
Alhasil, TA nya dipelan-pelanin sembari mencari titik terang (ampun pak dosbing, ampun, bapak jangan susah-susah ditemui ya pak meskipun sudah jadi dekan *ciyee* ).
Bicara tentang tahun ini dan hal-hal yang 'hmm' ini pasti tidak akan lepas dari menangis.
Well, I cried. Again and again. Terakhir ya tanggal 7 itu, sampai tanggal 8 sepertinya. Kalau masalah 'tidak lolos' nya sih aku sudah legowo. 7 manusia terpilih itu memang kemampuannya di atasku, jadi aku sadar diri. Makanya nangisnya bukan setelah pengumuman banget. Melainkan beberapa jam kemudian. Setelah telpon rumah dan packing barang-barang. Kebetulan di antara peserta seleksi memang hanya ada satu perempuan, jadi aku sendirian di kamar. Nyesek dikit, melow dikit, langsung nangis.
Kenapa nyesek? Ya nyesek aja sadar mimpi yang dipendam bertahun-tahun pada akhirnya tidak tergapai juga meski sudah berusaha hingga kesempatan terakhir.
Bertahun-tahun kuliah, coba kompetisi sana-sini, medali aja nggak pernah dapet.
Ditambah lagi adek mau masuk SMA, kalau biaya kurang nggak ada jaga-jaga nih hehehe (duit mulu pikirannya).
Mana aku masih merasa masa depanku suram kan? Nah loh, numpuk numpuk numpuk, nangis deh.
Dan ini memecah rekor terlama aku menangis. 2,5 jam. Wow. Dari 23.00-an sampai 01.30-an.
Keren ya? Sembab sembab sono. Untung paginya pulang dari hotel diantar Brilly, ketutup helm. Coba naik angkot? Kan malu sama ibu-ibu yang seangkot (ya bisa jadi teteh-teteh atau bapak-bapak juga ding).
Dan sekarang aku di rumah. Mau bercengkerama bersama orang-orang tercinta dulu. Sambil ngerjain TA kok, tenang saja. Kalau di Bandung aku agak nggak beres soalnya, males euy, tidur terus (kalau di rumah ada ibu yang omelin), boros lagi makanan serba mahal (di rumah makan gratis, jajan juga masih terjangkau).
Jadi, aku mengasingkan diri di rumah dulu ya sampai tanggal 22.
Anybody need to see me?
Tunggu tanggal 23, aku available di Bandung, atau kalau mau sih sini ke rumah, aku available di rumah sebelum tanggal itu :)
Tahun ini berat. Tahun ini membingungkan. Tapi aku punya pilihan apa selain berusaha melewati semuanya dan menganggap semua baik-baik saja?
Sudah lelah menangis, sudah lelah minum obat terus, sudah lelah merasa nggak ada teman berbagi.
Saatnya cengingisan dan haha hihi lagi.
Dian sehat. Dian kuat. Dian mandiri.
Semangaaaat !!
Kamis, 28 Mei 2015
ITB Juara :D
Hai hai. Pengumuman nih, tadi malam pengumuman ONMIPA 2015 diselenggarakan. And guess what? ITB juara umum lagi dong. Alhamdulillah.. Kalian super kece, teman-teman. Btw, ini post nya si Tamaro di instagram..
Dari 8 peserta bidang Matematika, 5 orang mendapat medali. Dugaanku 6 sih, meleset sedikit. Tapi tidak apa-apa, itu tetap luar biasa.
Turut bahagia dengan kabar gembira ini. Selamaaat, sukses terus semuanya. Buat yang medalis matematika, ayo semangat seleksi IMC nya. Aku nggak mau kalah sama kalian :)